Membuka LinkedIn, X, atau TikTok belakangan ini rasanya seperti melihat dua dunia yang bertolak belakang dan bikin geleng-geleng kepala. Di satu sisi, beranda kita penuh dengan curhatan sedih anak muda yang pusing tujuh keliling karena susah banget dapat kerja.
Sudah kirim puluhan bahkan ratusan lamaran, tapi ujung-ujungnya cuma kena ghosting atau dapat penolakan otomatis dari sistem. Namun, kalau kita geser layar sedikit saja, trennya langsung berubah drastis.
Banyak banget konten video estetik yang isinya merayakan hari terakhir kerja alias resign, padahal mereka baru masuk satu atau dua bulan di perusahaan tersebut.
Fenomena ini jelas bikin heran banyak pihak, terutama para perekrut kerja dan generasi senior. Kok bisa generasi yang paling sering mengeluh susah cari kerja, justru jadi kelompok yang paling cepat angkat kaki begitu sudah diterima?
Pertanyaan ini memicu perdebatan panjang tentang bagaimana anak muda zaman sekarang memandang dunia profesional.
Ilusi "Resign Estetik" di Media Sosial
Suka atau tidak, media sosial punya peran raksasa dalam menciptakan tren ini. Kita sering banget kemakan omongan atau konten para influencer yang bilang, "Gue resign demi menjaga mental health dan pengen ngejar passion."
Konten-konten seperti ini biasanya dibuat sangat menarik, sinematik, pakai musik yang adem, dan memberikan kesan bahwa hidup akan langsung bahagia bebas lepas setelah keluar dari kerjaan.
Narasi-narasi romantis seperti inilah yang akhirnya membuat keputusan resign terlihat keren dan patut dicontoh.
Realitas Tabungan vs Ikut-Ikutan Tren
Masalahnya, apa yang dipamerkan di media sosial itu sering kali menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Banyak dari mereka yang berani langsung keluar kerja dengan santai itu karena punya "dana darurat" alias tabungan yang sudah tebal.
Ada yang punya bisnis sampingan yang sudah menghasilkan, atau memang mereka berasal dari keluarga mapan yang masih bisa menopang biaya hidup sehari-hari.
Bagi kita yang sedang merintis karier benar-benar dari nol tanpa ada sandaran finansial dari siapa pun, ikut-ikutan tren FOMO ini bisa jadi blunder besar yang fatal untuk masa depan. Kita juga harus bisa berpikir jernih untuk membedakan mana tekanan kerja yang wajar dan mana lingkungan kerja yang benar-benar beracun (toxic).
Dunia kerja nyata itu memang penuh dengan target yang mengejar, revisi yang melelahkan, dan tekanan dari atasan. Itu semua adalah bagian dari proses belajar dan adaptasi, bukan bentuk penindasan atau gangguan mental.
Prinsip Bertahan: Ketika Value Masih Sejalan
Makanya, prinsip paling aman yang bisa kita pegang di tengah gempuran tren resign massal ini sebenarnya simpel: selama nilai (value) perusahaan masih sejalan dengan kita dan kita dihargai di sana, ya sudah jalanin aja dulu.
Satu visi di sini bukan berarti kantornya harus sempurna tanpa cela atau bebas dari masalah. Selama perusahaannya bergerak dengan jujur, hak-hak kita sebagai karyawan dibayar tepat waktu, dan kita bisa dapat ilmu baru yang berguna, bertahan adalah pilihan yang paling dewasa dan bijak.
Arti Kehadiran Rasa Dihargai yang Nyata
Dihargai itu juga bukan cuma melulu soal nominal gaji yang besar di awal karier. Kita bisa merasa dihargai kalau pendapat kita mau didengar saat rapat, rekan kerja saling mendukung, dan bos di kantor mau memberikan kritik yang sifatnya membangun buat masa depan kita, bukan cuma marah-marah tanpa alasan yang jelas.
Lingkungan yang menghargai proses tumbuh kita jauh lebih berharga daripada sekadar gengsi nama besar perusahaan.
Fokus Merintis dan Membangun Daya Tawar
Merintis karier dari bawah memang capek dan sering kali menguji kesabaran, tapi di sinilah mental kerja kita dibentuk agar menjadi profesional yang tangguh.
Anggap saja kantor tempat kita bekerja sekarang sebagai wadah belajar gratis buat menambah pengalaman, mengumpulkan portofolio, dan menaikkan nilai jual kita di masa depan.
Mulai sekarang, yuk lebih bijak menyaring konten dan tutup kuping dari pameran resign di medsos, karena modal awal dan garis start setiap orang itu berbeda-beda. Fokus saja dulu memperkuat fondasi di tempat sekarang, sampai keahlian kita sudah benar-benar matang.
Ketika kita sudah punya keahlian yang hebat dan posisi tawar yang kuat, di situlah kita baru punya hak penuh untuk memilih tempat kerja baru yang jauh lebih baik dengan penuh percaya diri.
Baca Juga
-
Pendidikan Tinggi Sedang Sekarat, Kenapa Negara Malah Sibuk Urus Makan Gratis?
-
Jangan Sampai Gajian Cuma Numpang Lewat, Hentikan 5 'Kebocoran' Dompet Ini Sekarang!
-
Yakin Baju di Lemarimu Aman? Awas Limbah Serat Mengancam Bumi!
-
Trik Menabung Era Inflasi: Gaya Micro-Saving ala Anak Rantau Batam
-
Ironi di Sungai Mahakam: Batu Bara Melaju, Rumah Warga Layu
Artikel Terkait
-
TikTok - Tokopedia Bantah Isu PHK Massal Pegawai Usai Bertemu DPR dan Menaker
-
Tak Sekadar Kuliah, WNI Kini Mulai Melirik New Zealand untuk Membangun Karier Global
-
TikTok Bantah Ada PHK di Tokopedia, Penasihat Presiden Tetap Akan Demo
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Nasib Karyawan Terjawab, Kata Dasco Usai Panggil Bos Tokopedia-TikTok: Tidak Ada PHK
Kolom
-
Romantisasi Thrifting: Tren Hijau atau Eksploitasi Sampah?
-
Kasus Balogun, Trump dan FIFA: Retaknya Kepercayaan pada Fair Play
-
Glow Up atau Tekanan Sosial? Saatnya Berhenti Membeli Standar Kecantikan yang Tidak Perlu
-
Bersyukur atau Terpaksa? Dilema Bertahan di Tengah Upah yang Tak Layak
-
Rakyat Nunggak Pajak Kena Denda, Apa Sanksi Jika Pemerintah Gagal Kelola?
Terkini
-
Lebih dari Sekadar Sci-Fi, Human Vapor Sajikan Body-Horror yang Bikin Merinding
-
Waktu untuk Tidak Menikah: Merawat Hak Perempuan atas Pilihannya
-
Rating Terus Meningkat, SBS Buka Suara Soal Agent Kim Reactivated Season 2
-
Membaca Bahasa Tubuh Lewat Gesture: Benarkah Tubuh Sulit Berbohong?
-
4 Exfoliating Pad Glycolic Acid Solusi Anti Ribet Atasi Bruntusan dan Kusam