Setiap tahun ajaran baru, linimasa media sosial selalu diwarnai oleh jeritan yang sama: mahasiswa baru yang terancam mundur karena tingginya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Fenomena ini bukan lagi sekadar siklus musiman, melainkan cerminan dari sistem pendidikan tinggi kita yang sedang sekarat.
Di satu sisi, gaji orang tua mahasiswa cenderung stagnan, tidak mampu mengejar laju inflasi. Di sisi lain, kampus—terutama yang berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH)—mengalami dilema finansial yang hebat.
Ironisnya, di tengah himpitan biaya operasional yang membubung, kesejahteraan dosen dan tenaga pendidik pun sering kali terabaikan, membuktikan adanya disfungsi struktural dalam tata kelola pendidikan kita.
APBN Pendidikan yang Terdistorsi untuk Program Non-Akademik
Banyak yang salah kaprah dan menuduh pihak kampus bersikap "rakus". Padahal, masalah utamanya berada di hulu: politik anggaran negara. Konstitusi memang mengamanatkan alokasi 20% APBN untuk fungsi pendidikan. Namun, realitanya anggaran raksasa tersebut kini "diakali" untuk mendanai program-program yang sifatnya non-akademis.
Sebagai contoh nyata, ratusan triliun rupiah anggaran fungsi pendidikan kini justru diserap secara masif untuk menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG) [dan penguatan Koperasi Desa (Kopdes)] yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional. Akibatnya, dana operasional murni (BOPTN) yang tersisa untuk menghidupi ratusan perguruan tinggi negeri di Indonesia menjadi sangat kerdil. Sederhananya, anggaran pendidikan tinggi dikorbankan demi program jaminan sosial perut.
Salah Kaprah Meniru Amerika Serikat (Not Apple-to-Apple)
Dalam kondisi dana negara yang minim, pemerintah seolah memaksa kampus-kampus di Indonesia untuk mandiri dengan mengadopsi gaya universitas di Amerika Serikat (AS). Namun, perbandingan ini sama sekali tidak apple-to-apple.
Kampus-kampus di AS bisa mandiri dan menetapkan biaya tinggi karena mereka memiliki fondasi dana abadi (endowment fund) senilai ratusan triliun rupiah yang sudah dipupuk selama puluhan tahun dari donatur dan korporasi, di samping ekosistem beasiswa yang sudah matang sejak usia dini.
Memaksa PTN di Indonesia mandiri secara finansial tanpa adanya dana abadi yang kuat adalah sebuah kekeliruan besar. Jalan pintas yang akhirnya diambil kampus untuk bertahan hidup (survival mode) hanyalah satu: membebankan biaya operasional langsung ke dompet mahasiswa lewat jalur Mandiri dan kenaikan golongan UKT.
Berkaca dari Tetangga: Komitmen Riil Malaysia dan Singapura
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, ketimpangan komitmen pemerintah Indonesia terasa semakin menyedihkan:
Malaysia: Meng-cover hingga 45% dari total kebutuhan anggaran perguruan tinggi mereka menggunakan dana publik.
Singapura: Pemerintahnya memberikan subsidi langsung sebesar 50% untuk universitas top mereka seperti NUS dan NTU, dengan total nominal anggaran operasional yang mencapai 10 kali lipat dari kampus terbaik di Indonesia.
Negara-negara tetangga kita paham bahwa untuk menjadi negara maju, investasi terbesar harus ditaruh pada otak manusianya, bukan sekadar membiarkan perguruan tinggi terseok-seok mencari uang sendiri.
Sentralisasi Anggaran vs Ketidakmerataan di Lapangan
Kritik terbesar saat ini mengarah pada bagaimana uang negara dihamburkan. Anggaran APBN yang bernilai ratusan triliun justru mengalir deras pada proyek-proyek sosial-ekonomi seperti MBG dan Kopdes yang tata kelolanya masih bersifat sangat terpusat (sentralistik) dan rentan tidak merata di lapangan.
Negara tampak lebih memilih menggelontorkan dana triliunan untuk program bansos populis jangka pendek yang bersifat konsumtif, ketimbang mendistribusikannya secara adil ke sektor pendidikan tinggi yang menghasilkan dampak pembangunan jangka panjang.
Penutup
Pergeseran prioritas ini menunjukkan bahwa posisi pendidikan tinggi kini seolah ditempatkan di nomor sekian. Kondisi ini sangat kontras jika kita menengok kembali ke era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pada masa itu, pemenuhan anggaran pendidikan 20% diperjuangkan secara murni untuk memperluas akses akademis, melahirkan skema Dana BOS secara masif, hingga meluncurkan beasiswa Bidikmisi yang menjadi penyelamat anak-anak miskin agar bisa kuliah gratis di PTN. SBY meletakkan dasar bahwa negara wajib hadir membiayai masa depan intelektual bangsa.
Hari ini, komitmen itu luntur. Selama politik anggaran negara lebih memprioritaskan program jaminan perut ketimbang investasi otak, maka selama itu pula kampus akan terus menaikkan UKT, dosen akan tetap tidak sejahtera, dan mimpi anak muda Indonesia untuk mengubah nasib lewat bangku kuliah akan tetap menjadi barang mewah yang tak terbeli.
Baca Juga
-
Sindrom Defisit Rumah: Saat Sate Paling Enak Pun Kalah oleh Telur Dadar Buatan Ibu
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
-
Di Balik Kemudahan AI: Ancaman Krisis Listrik, Air Bersih, dan E-Waste Data Center di Indonesia
-
Mengenal 'Heat Dome' dan Bahaya Arsitektur Kuno: Alasan Gelombang Panas di Eropa Sangat Mematikan
-
Menemukan Ruang Sunyi dalam Selamat Menunaikan Puisi Karya Joko Pinurbo
Artikel Terkait
-
Bukan Massa Mahasiswa, 21 Orang Bawa Petasan dan Diduga Molotov Dipulangkan
-
Menhub Bantah Intimidasi Sopir Bus Kopaja yang Dipesan BEM UI Sebelum Aksi
-
Mahasiswa Minta Praperadilan Febrie Ardiansyah Tak Hambat Penelusuran Aset dan Aliran Dana TPPU
-
Bikin Murka Publik! Tampang Ajudan Gubernur Maluku Serka La Rahimu yang Hina Monyet ke Mahasiswa
-
Fatimah Az-Zahra, Wajah Baru Aktivisme Berbasis Bukti Akademik
Kolom
-
Gaji Imut, Pengeluaran Maut: Dilema Anak Muda dengan Pendapatan Pas-pasan
-
Di Balik Buku Presiden Solusi: Bukti Kinerja Nyata atau Propaganda Istana?
-
Kenapa Teman Dekat Tiba-Tiba Jadi Asing? Bukan Musuhan, Cuma Proses Pendewasaan
-
Jebakan Ketenangan Semu: Mengapa Transaksi Cashless Bikin Kita Makin Boros?
-
Menjaga Dapur Sendiri: ASEAN Butuh Aturan Latihan Militer Bersama
Terkini
-
Spek Vivo V80 Lite 5G Terungkap, Performa Dimensity 7360-Turbo Jadi Andalan
-
6 Rekomendasi Horor Psikologis di Netflix, Siap Mengguncang Kewarasan
-
4 Cleansing Milk Formula Gentle, Angkat Makeup dan Jaga Kulit Tetap Lembap
-
Masjid Riyadhus Sholihin Jember, Jejak Dakwah yang Tak Pernah Sepi Peziarah
-
Ulasan Segala Kekasih Tengah Malam: Mencari Arti Diri di Balik Kesunyian