Adakah Sobat Yoursay di sini yang suka traveling?
Bicara soal suka atau tidak, sejujurnya, saya suka traveling. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, saya memiliki daftar beberapa tempat yang ingin saya kunjungi. Namun, mewujudkan rencana tersebut bukanlah hal yang mudah bagi saya. Mungkin sebagian orang akan menganggap saya terlalu banyak berpikir. Tetapi saya merasa keputusan seperti ini memang perlu dipertimbangkan dengan matang agar pengeluaran tidak bocor hanya demi memenuhi keinginan untuk jalan-jalan.
Memang, tak bisa dipungkiri, ketika ada uang lebih, saya pribadi sebenarnya kerap berpikir, “Jalan ke mana, ya?” Kemudian mulai membuka kalkulator untuk menghitung biaya transportasi, makan, tiket masuk wisata, dan kebutuhan lain yang mungkin saya perlukan di lokasi tujuan. Saat penghitungan sudah selesai, di situlah saya sering mulai merasa dilema. Muncul pikiran lain yang membuat saya berpikir ulang untuk benar-benar berangkat, seperti: “Kok pengeluarannya jadi lumayan banyak, ya?”, “Apa lebih baik ditabung aja, ya?”
Di luar sana mungkin banyak anak muda lain yang mengalami dilema serupa dengan yang saya rasakan. Memilih antara traveling dan menabung saat ada uang lebih terasa begitu sulit. Sebagai bagian dari Gen Z, saya mengakui bahwa mencari pengalaman dengan bepergian memang terasa begitu menggoda. Setelah bekerja keras selama berhari-hari, lalu rehat sebentar untuk melepaskan penat dan mengenal tempat baru bisa membuat hidup terasa lebih bermakna.
Godaan ini kemudian diperparah dengan pengaruh media sosial. Saat scrolling, kita melihat teman-teman mengunggah foto liburan, menonton konten traveling, dan menemukan berbagai rekomendasi tempat wisata. Dari situlah, tanpa sadar muncul rasa FOMO mengunjungi destinasi wisata yang sedang ramai dibicarakan, keinginan untuk ikut tren healing, hingga takut merasa tertinggal dari orang lain.
Di sisi lain, kita juga memiliki pertimbangan yang tidak kalah penting: rasa aman. Bagi sebagian anak muda, rasa aman finansial merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki. Alih-alih pergi berwisata saat memiliki uang lebih, mereka lebih memilih untuk menambah tabungan. Dengan menabung, mereka berpikir akan bisa mencapai target finansial yang direncanakan, mempunyai dana darurat, mengurangi kecemasan saat harus menghadapi kebutuhan tak terduga, dan memperoleh kepuasan yang berbeda dengan traveling.
Pertanyaannya: apakah menabung selalu menjadi pilihan yang terbaik dan traveling hanya akan mengakibatkan pemborosan?
Memang benar bahwa tabungan bisa memberikan rasa aman secara finansial. Namun, terus memaksakan diri untuk mengejar target finansial juga bisa membuat seseorang kehilangan waktu untuk menikmati hidup. Menabung memang penting, tetapi terlalu menunda kebahagiaan dengan alasan "nanti saja" juga memiliki risikonya sendiri.
Di sisi lain, traveling pun tidak selalu identik dengan pemborosan. Selama dilakukan sesuai kemampuan finansial dan direncanakan dengan baik, bepergian justru dapat menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras yang telah dilakukan. Pengalaman baru, waktu untuk beristirahat, hingga kesempatan melihat tempat dan budaya yang berbeda merupakan nilai yang tidak selalu bisa diukur dengan uang.
Ironisnya, baik orang yang memilih traveling maupun menabung sering kali sama-sama menyimpan rasa bersalah dan penyesalan. Yang satu takut menyesal uangnya habis, sedangkan yang lain takut menyesal karena melewatkan pengalaman yang mungkin tidak datang dua kali.
Kalau kita kembali pada pembahasan soal dilema antara traveling dan menabung, dua hal itu sebenarnya memiliki nilai yang berbeda. Traveling memberikan pengalaman dan kenangan, sedangkan tabungan menghadirkan rasa aman untuk menghadapi masa depan.
Jika harus memilih di antara keduanya, saya rasa akan lebih baik jika mengambil jalan tengah dengan menyisihkan tabungan terlebih dahulu dan menggunakan sebagian uang untuk menikmati hidup. Tentunya, tetap menyesuaikan kondisi masing-masing dan tidak perlu membandingkan keputusan finansial dengan orang lain.
Jadi, bisa saya katakan tidak ada jawaban yang benar secara mutlak untuk semua orang. Mungkin, yang lebih penting bagi Gen Z bukan memaksakan diri memilih salah satunya, melainkan mencoba menemukan keseimbangan di antara keduanya. Sebab menikmati hidup hari ini memang penting, tetapi mempersiapkan masa depan pun tak kalah penting.
Bagaimana dengan Sobat Yoursay? Pada saat memiliki uang lebih, kalian lebih memilih menggunakannya untuk membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan, menyisihkannya untuk ditabung, atau pergi berlibur demi melepas penat dan menikmati hidup?
Baca Juga
-
Hidup Hemat di Era Serba Mahal: Pilihan Bijak atau Pelit pada Diri Sendiri?
-
Hustle Culture vs Slow Living: In This Economy, Mana yang Lebih Realistis?
-
Sudah Hemat, tapi Tetap Boncos: Ketika Menabung Seolah Menjadi Privilege
-
Tayang 2 Episode Perdana, Agent Kim Reactivated Penuh Aksi dan Ketegangan
-
Notes from the Last Row: Drama Thriller yang Menipu Penonton Sampai Akhir
Artikel Terkait
Kolom
-
Dari Novel ke Film: Mengapa Adaptasi Hampir Selalu Memicu Perdebatan?
-
Perempuan & Budaya Selalu Ingin Upgrade Diri: Self-Improvement Tanpa Henti?
-
Hidup Hemat di Era Serba Mahal: Pilihan Bijak atau Pelit pada Diri Sendiri?
-
Paradoks Karier: Kenapa Resign Terlihat Begitu Keren di TikTok Tapi Terasa Berat di Dunia Nyata?
-
Romantisasi Thrifting: Tren Hijau atau Eksploitasi Sampah?
Terkini
-
BIGBANG Siapkan Lagu Baru Setelah 4 Tahun Jelang Tur Dunia 20 Tahun Debut
-
4 Grup Indonesia Ini Layak Terkenal seperti no na, Ada yang Kamu Tahu?
-
Belgia Libas Amerika Serikat, Siap Tantang Spanyol di 8 Besar Piala Dunia
-
Argentina ke Perempat Final, Bedah Taktik Comeback Epik atas Mesir
-
Enola Holmes 3: Hadir dengan Konflik Pernikahan dan Konspirasi Kolonial