M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi work-life balance (Pexels/Vitaly Gariev)
e. kusuma .n

Beberapa tahun terakhir, istilah work life balance semakin sering dibicarakan, terutama oleh Gen Z. Jika dulu lembur sebagai bagian dari dedikasi, Gen Z mulai menempatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Tidak sedikit yang memilih perusahaan dengan jam kerja fleksibel, sistem kerja hybrid, atau budaya kerja yang lebih sehat dibanding sekadar menawarkan gaji tinggi. Perubahan cara pandang ini bukan berarti Gen Z tidak mau bekerja keras.

Justru mereka ingin tetap produktif tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik, mental, maupun hubungan dengan orang-orang terdekat. Work-life balance pun menjadi prioritas dalam dunia kerja. Lalu, apakah ini sekadar tren atau memang kebutuhan?

Dunia Kerja Masa Kini: Tidak Lagi Berhenti di Jam Kantor

Perkembangan teknologi membuat pekerjaan semakin fleksibel. Laptop dan ponsel memungkinkan seseorang bekerja dari mana saja. Rapat online, dokumen dikirim dalam hitungan detik, dan komunikasi dengan rekan kerja berlangsung hampir sepanjang hari.

Di satu sisi, kondisi ini memberikan banyak kemudahan. Namun di sisi lain, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur. Jam kantor selesai, tapi pekerjaan terus mengintai sampai di rumah.

Menurut saya, banyak pekerja muda akhirnya merasa selalu "siaga". Setelah jam kerja selesai, masih ada pesan yang perlu dibalas, email yang harus diperiksa, atau tugas yang tiba-tiba muncul di malam hari hingga waktu istirahat sering kali terasa kurang maksimal.

Gen Z Tidak Malas, Hanya Lebih Sadar Prioritas

Salah satu anggapan yang masih sering muncul adalah Gen Z dianggap kurang tahan menghadapi tekanan kerja karena lebih sering membicarakan work life balance. Menurut saya, pandangan tersebut tidak selalu tepat.

Banyak Gen Z tetap memiliki ambisi besar dalam karier. Mereka ingin berkembang, belajar keterampilan baru, dan mencapai target pekerjaan. Namun, mereka juga menyadari kalau pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan.

Masih ada keluarga, sahabat, kesehatan, hobi, dan waktu untuk diri sendiri yang juga perlu dijaga. Memiliki prioritas yang seimbang bukan berarti mengurangi profesionalisme, melainkan cara agar seseorang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Produktif Tidak Harus Sibuk Sepanjang Waktu

Media sosial sering menampilkan gambaran orang sukses selalu memiliki jadwal yang padat. Bangun sebelum matahari terbit, bekerja tanpa henti, mengikuti berbagai pelatihan, hingga tetap aktif membangun personal branding.

Konten seperti ini memang bisa memotivasi. Namun, tanpa disadari juga menciptakan tekanan untuk selalu terlihat produktif. Padahal, produktivitas tidak seharusnya diukur dari seberapa sibuk seseorang.

Produktivitas bicara tentang seberapa efektif kita menyelesaikan pekerjaan. Sebab, ada kalanya beristirahat justru membuat kita kembali fokus, lebih kreatif, dan mampu mengambil keputusan dengan lebih baik.

Work Life Balance Bukan Berarti Menghindari Tanggung Jawab

Sering kali work life balance disalahartikan sebagai keinginan untuk bekerja sesedikit mungkin. Padahal, konsep work life balance berkaitan dengan kemampuan mengatur waktu agar pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik tanpa mengabaikan kebutuhan pribadi.

Misalnya, menyelesaikan pekerjaan sesuai jam kerja, tetap memiliki waktu untuk berolahraga, berkumpul bersama keluarga, atau menikmati hobi tanpa terus memikirkan pekerjaan.

Menurut saya, keseimbangan seperti ini justru bisa meningkatkan semangat karena kita memiliki kesempatan untuk memulihkan energi sebelum kembali beraktivitas dan memulai rutinitas kerja.

Kesehatan Mental Menjadi Bagian dari Kesuksesan

Gen Z semakin terbuka dalam pembahasan tentang kesehatan mental di dunia kerja. Tidak heran kalau sekarang banyak anak muda mulai menyadari kelelahan berkepanjangan bisa memengaruhi produktivitas, kreativitas, bahkan kualitas hidup.

Kesuksesan tidak hanya diukur dari jabatan atau besarnya penghasilan, tapi juga kemampuan menjalani pekerjaan dengan kondisi fisik dan mental yang tetap sehat. Jangan sampai karier menghabiskan seluruh energi hingga kita kehilangan waktu menikmati kehidupan.

Work Life Balance Bukan Kemewahan, tapi Kebutuhan

Perubahan dunia kerja membuat Gen Z memiliki cara pandang yang berbeda terhadap karier. Mereka ingin berkembang dan memberikan hasil terbaik, tapi juga tetap bisa memiliki ruang untuk “hidup” di luar pekerjaan.

Menurut saya, work life balance bukan sekadar tren yang sedang populer di media sosial. Di tengah dunia kerja yang semakin cepat dan serba digital, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sudah menjadi kebutuhan.

Pada akhirnya, tujuan bekerja bukan hanya soal penghasilan, tapi juga membangun kehidupan yang lebih baik. Bukan membuat kita kehilangan waktu dalam menikmati proses, menjaga kesehatan, dan berbagi momen bersama orang-orang yang berarti.