Sidang skripsi seharusnya menjadi ruang akademik. Di sanalah mahasiswa mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya, sementara dosen penguji menguji kualitas argumentasi, metodologi, dan kemampuan berpikir kritis. Namun, belakangan saya justru menemukan cerita yang membuat saya bertanya-tanya, apakah fokus sidang masih benar-benar berada pada karya ilmiah atau telah bergeser menjadi urusan konsumsi?
Pertanyaan itu muncul setelah saya membaca kisah seseorang di media sosial baru-baru ini. Ia bercerita bahwa dosen pengujinya mengkritik makanan yang disediakan karena dianggap "tidak layak". Mahasiswa tersebut hanya membawa jajanan pasar sebagai konsumsi. Yang lebih mengejutkan, dosen itu bahkan secara gamblang meminta merek makanan tertentu, seperti camilan dari toko roti dengan logo kincir angin khas Belanda dan restoran Indonesia bergaya Jepang yang terkenal dengan bentonya. Membaca cerita tersebut membuat saya tidak habis pikir. Entah kisah itu mewakili banyak kampus atau hanya kasus yang berdiri sendiri, tetap saja itu memunculkan pertanyaan yang mengganggu, seperti sejak kapan kualitas sidang diukur dari isi kotak makanan?
Saya memahami bahwa budaya membawa konsumsi untuk dosen bukanlah hal baru. Di banyak kampus, kebiasaan itu dianggap sebagai bentuk penghormatan atau ungkapan terima kasih kepada dosen yang telah meluangkan waktu menguji mahasiswa. Bahkan, banyak mahasiswa yang mempersiapkannya tanpa merasa dipaksa karena sudah menjadi tradisi turun-temurun.
Namun, tradisi menjadi persoalan ketika berubah menjadi ekspektasi. Apalagi jika ekspektasi itu disertai tuntutan mengenai jenis, merek, atau harga makanan yang harus disediakan. Pada titik itu, makna penghargaan berubah menjadi kewajiban tidak tertulis. Mahasiswa yang sedang menghadapi tekanan menyelesaikan skripsi akhirnya juga harus memikirkan apakah konsumsi yang dibawa akan dianggap "memalukan" atau tidak.
Saya sendiri memiliki pengalaman yang berbeda ketika menjalani sidang. Saat itu saya hanya memberikan roti kering kepada dosen penguji, terutama dosen pembimbing, sebagai bentuk terima kasih atas bimbingan mereka selama proses penyusunan skripsi. Saya tidak berpikir lebih jauh mengenai merek atau kemewahan makanan tersebut. Yang ada di pikiran saya hanyalah menyampaikan rasa hormat dengan kemampuan yang saya miliki saat itu.
Belakangan saya baru menyadari bahwa makanan yang saya berikan ternyata tidak benar-benar dikonsumsi oleh dosen yang menerimanya. Dosen saya justru langsung membagikannya kepada rekan-rekan sejawat di ruang dosen. Dari situ saya mengetahui bahwa di kampus saya, para dosen memang tidak menolak pemberian mahasiswa secara langsung agar tidak menyinggung perasaan, tetapi juga tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang harus mereka nikmati sendiri. Kebiasaan itu membuat saya berpikir bahwa pemberian tersebut lebih diperlakukan sebagai simbol penghormatan daripada hadiah pribadi.
Karena itu, saya menjadi semakin heran ketika membaca kisah dosen yang justru secara terbuka meminta makanan dari merek tertentu. Saya tidak tahu apakah ini merupakan pergeseran budaya yang kini semakin lumrah atau hanya perilaku segelintir oknum. Namun, jika benar mulai muncul standar konsumsi tertentu dalam sidang, rasanya ada sesuatu yang perlu dikoreksi bersama.
Hubungan antara dosen dan mahasiswa seharusnya dibangun di atas nilai akademik, bukan transaksi simbolik yang berpotensi membebani salah satu pihak. Mahasiswa datang ke ruang sidang untuk mempertanggungjawabkan penelitian yang telah mereka kerjakan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Yang semestinya menjadi perhatian dosen adalah kualitas analisis, ketepatan metodologi, serta kemampuan mahasiswa menjawab pertanyaan dengan baik. Bukan isi kotak makanan yang mereka bawa.
Jika memang budaya membawa konsumsi masih ingin dipertahankan, biarlah itu tetap menjadi ungkapan sukarela yang sederhana, bukan kewajiban apalagi ajang penilaian. Sebab pada akhirnya, yang layak diapresiasi dari seorang mahasiswa bukanlah seberapa mahal makanan yang disajikan, melainkan seberapa baik ia mempertanggungjawabkan karya ilmiahnya. Itulah esensi sidang yang semestinya tidak pernah bergeser.
Baca Juga
-
Dari Benci Menjadi Cinta, Kehangatan Romansa dalam In a Blue Moon
-
Jelajahi Jakarta Lewat Stamp Hunting MRT, Seru dan Ramah di Kantong
-
Layak Tonton atau Lewatkan? Kupas Tuntas Film Moana Live Action 2026
-
Ketika Negara Tidak Kompak, Rakyat Harus Apa?
-
The Diary of a Young Girl: Catatan Anne Frank yang Menjadi Saksi Kelam Holocaust
Artikel Terkait
Kolom
-
Bijak Bersosial Media: Kebebasan Berkomentar Bukan Lisensi untuk Melecehkan
-
Diplomasi Candi: Apa Rahasia di Balik Pertemuan Prabowo Subianto dan Narendra Modi?
-
Dibalik Megaproyek B50: Siapkah Indonesia Mengatur Ulang Ekosistem Energinya?
-
Mengejar Koruptor Tak Perlu ke Antartika! Cukup Penegakan Hukum Konsisten
-
Budaya 'Kondangan Akademik' Mahasiswa: Bentuk Dukungan atau Tekanan Sosial?
Terkini
-
Ulasan Reborn Rookie: Menggugat Makna Kepemimpinan Lewat Fantasi Body Swap
-
Review Bebek Boedjang Karawang: Sensasi Bebek Jumbo Daging Empuk Rp50 Ribu
-
Cerah Seketika! 5 Rekomendasi Serum Korea Kaya Vitamin C
-
Drakor Agent Kim Reactivated Ungkap Pakai AI untuk Adegan Misi Korea Utara
-
Piala Dunia 2026: Kemenangan Argentina dan Perjuangan Swiss yang Dikhianati Pemainnya Sendiri