Adakah Sobat Yoursay di sini yang masih menjadi mahasiswa tingkat akhir? Kalau iya, saya penasaran, apa di kampus kalian juga mengenal istilah “kondangan akademik”?
Saya baru tahu tentang kondangan akademik ini saat hampir memasuki semester akhir. Akan tetapi, sebagai orang yang cenderung introvert dan nggak punya banyak teman, saya masih santai dong saat itu. Karena saya berpikir kalau nanti saya bisa kasih hadiahnya ke teman-teman terdekat aja, yang lain cukup kasih ucapan selamat. Selain itu, saya pun menganggap tradisi ini hanya sebagai bentuk dukungan yang sifatnya opsional.
Realita Tangan Kosong di Hari Sempro
Tibalah semester tujuh. Seminar proposal saya mendapat jadwal yang terbilang lebih awal dibanding teman-teman yang lain. Jujur saja, saat itu saya berangkat dengan tangan kosong, karena saya belum terpikirkan memberi hadiah ke siapa pun. Ditambah saya dapat penguji yang terkenal killer, mana sempat berpikir soal hadiah, yang ada malah ingin cepat selesai.
Namun, begitu selesai ujian, barulah saya mulai panik. “Kok hadiahnya lumayan banyak ini? Harus kasih hadiah balik dong berarti.”
Saat itulah saya tersadar, ternyata menerima hadiah juga bisa bikin saya merasa nggak enak. Meskipun hadiah yang saya terima bisa dibilang tidak terlalu banyak, tetapi dengan kondisi saldo rekening dan isi dompet pas-pasan saat itu, cukup terasa berat. Meski begitu, akhirnya saya tetap berangkat ke toko dekat asrama untuk membeli hadiah balasan dengan menyesuaikan budget yang ada.
Oke, sebenarnya nggak ada yang salah dari tradisi seperti ini. Saling memberi hadiah antarteman juga bisa membuat hubungan kita dengan orang lain semakin baik dan silaturahmi tetap terjaga.
Namun, yang menjadi masalah adalah ketika bentuk dukungan ini berubah menjadi kebiasaan yang seolah menjadi aturan tak tertulis bagi mahasiswa akhir. Di saat yang sama, muncul juga tekanan sosial yang membuat mahasiswa takut dianggap tidak peduli atau pelit jika tidak memberikan hadiah saat teman dekatnya menjalani seminar proposal, sidang skripsi, maupun wisuda.
Beban Finansial dan Esensi Sebuah Dukungan
Akan tetapi, apakah semua mahasiswa mempunyai kemampuan finansial yang sama?
Ada yang masih sepenuhnya dibiayai orang tua, ada yang harus bekerja sambil kuliah, ada yang bergantung dengan uang beasiswa, bahkan ada yang sedang berusaha menghemat pengeluaran demi menyelesaikan skripsi. Karena itu, kemampuan untuk ikut memberi hadiah tentu tidak bisa disamaratakan.
Selain itu, kalau boleh jujur, pengeluaran selama kuliah paling banyak justru ada di beberapa semester akhir. Karena di masa itu, mahasiswa harus menjalani magang, KKN, proposal, skripsi, dan mungkin ada beberapa tugas lain yang butuh uang cukup banyak. Belum lagi jika kuliah di jurusan yang sering melakukan praktikum, apa nggak makin menyala itu saldo rekeningnya?
Kembali ke poin sebelumnya. Tidak ada yang salah dengan budaya kondangan akademik. Belajar dari pengalaman saat seminar proposal sebelumnya, akhirnya saya mencoba mengatur budget hadiah sejak awal. Saya juga membuat daftar nama teman-teman yang akan saya beri hadiah. Bukan hanya itu, demi menghemat pengeluaran, hadiahnya pun saya beli secara online.
Dan ternyata, dengan begitu pengeluaran memang terasa lebih ringan dari sebelumnya karena lebih rapi, terencana, dan nggak dadakan.
Selain itu, jika kita pikirkan lebih jauh lagi, sebenarnya apa sih esensi dari memberi selamat itu? Apakah kehadiran, doa, atau hadiahnya?
Menurut saya, kehadiran teman-teman saja rasanya sudah cukup menghibur dan membuat saya tidak merasa sendirian di momen penting tersebut. Soal memberikan sesuatu dalam bentuk barang sifatnya opsional. Namun, terkait ini kita mungkin bisa melihat niat baik dari si pemberi yang bisa jadi hanya ingin ikut merayakan momen spesial kita dengan memberi hadiah sebagai bentuk apresiasi.
Meskipun demikian, saya berharap budaya seperti ini tidak lantas menjadi tekanan sosial dan membuat mahasiswa merasa wajib melakukannya hanya karena banyak orang lain yang melakukannya. Bukankah hadiah yang diberikan dengan ikhlas akan terasa jauh lebih bermakna daripada hadiah yang lahir dari rasa sungkan?
Baca Juga
-
Antara Minat, Jurusan, dan Karier: Haruskah Semuanya Selalu Sejalan?
-
Satu Pekerjaan Tak Lagi Cukup? Fenomena Hustle Culture di Kalangan Gen Z
-
Lagu "Tenang Saja (Ini Hanya Fase)" Idgitaf: Obat untuk Kamu yang Sering Kecewa dengan Ekspektasi
-
Merasa Butuh Membeli Sesuatu? Bisa Jadi Kamu Cuma Terpengaruh Algoritma
-
Kerja Sesuai Passion atau Demi Uang? Dilema Gen Z saat Memilih Karier
Artikel Terkait
-
Euforia Kelulusan: Mengapa Perayaan Boleh, Tapi Penggunaan Gelar Harus Ditahan?
-
Ekspektasi vs Realita Anak Kos: Katanya "Bebas", Kenyataannya Malah Kena Mental
-
Polemik KIP Kuliah Gara-Gara Desil Berubah, Gus Ipul Pastikan Masih Ada Jalan bagi Mahasiswa
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
-
Cerita Mahasiswa UI di DPR, Ada Akademisi Dicekal Masuk Kampus Akibat Intervensi Politik
Kolom
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker
-
Stop Monetizing Your Hobby: Mengapa Hidup Tidak Selalu Tentang Produktivitas
-
Dari Istana ke Paspor: Mengapa Politik Menentukan Kesempatan Kerja?
-
Tren Soft Launching Pacar: Estetika Romantis atau Taktik Manipulasi Berkedok Privasi?
Terkini
-
Di Balik Sorot Lampu Stadion: Jayden Adams dan Bukti Bahwa Pesepak Bola Juga Manusia Biasa
-
Urban Eco Journey: Cara Seru Trash Ranger Rayakan Ulang Tahun Sambil Menyelamatkan Bumi
-
Cuaca Makin Terik! Lakukan 5 Langkah Ini Agar Kulit Tak Cepat Kusam dan Menua
-
Review Film Pemikat Jiwa: Pelet, Ego, Obsesi, dan Cinta Laknat
-
Mudah Dipakai Pemula! 5 Liquid Eyeliner untuk Hasil Garis Tajam dan Presisi