Bimo Aria Fundrika | Anatasya Ocean
Penampakan dalam karung yang mulai terisi dengan berbagai macam sampah yang dijumpai selama menyusuri jalur kawasan Baduy, Sabtu (23/5/2026). (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Anatasya Ocean

Siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB, 23 Mei 2026, saya bersama puluhan relawan mulai memasuki kawasan Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Matahari sedang terik-teriknya ketika kami mendaftarkan diri di pintu masuk kawasan Baduy sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Jalur menuju Baduy siang itu terasa sepi dan sunyi. Jalanan tanah yang kami lewati terus berubah, kadang mendaki, menurun, licin, bahkan cukup curam. Di tengah perjalanan panjang itu, para relawan berjalan sambil memungut sampah yang berserakan di sepanjang jalur.

Satu per satu sampah dimasukkan ke dalam karung hitam yang dibawa sejak awal perjalanan. Mulai dari bungkus makanan, tutup botol plastik, hingga baterai bekas ditemukan di sisi jalan dan sela rerumputan.

Karung-karung itu perlahan, tapi pasti, mulai terisi dengan berbagai macam sampah.

Padahal, kawasan Baduy selama ini dikenal sebagai wilayah adat yang masih menjaga alam dan tradisi leluhur. Namun, di balik citra tersebut, persoalan sampah perlahan mulai terlihat, terutama akibat aktivitas wisatawan dan rendahnya kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup per September 2025 mencatat Provinsi Banten menghasilkan sekitar 8.126 ton sampah per hari. Namun, hanya 13,4 persen yang terkelola dengan baik, sementara sisanya masih dibuang ke lingkungan melalui pembakaran terbuka maupun pembuangan ilegal.

Persoalan sampah itu pula yang menjadi keresahan Ian Danarko Hamzah (33), pendiri komunitas Bumi Bebas Sampah (BBS). Di tengah perjalanan menuju Baduy, Ian beberapa kali berhenti untuk memungut sampah yang tertinggal di jalur pendakian. Ian sudah sering sekali berkunjung ke Baduy, sudah sekitar delapan kali dengan aksi yang sama. Baginya, perubahan kondisi lingkungan di kawasan Baduy semakin terasa dibanding beberapa tahun lalu.

“Perubahan sangat terasa, makin rusaknya lingkungan oleh oknum pengunjung yang kurang bertanggung jawab. Sedikit demi sedikit budaya lokal mereka juga mulai terkikis,” ujar Ian.

Ian bukan aktivis lingkungan yang lahir dari organisasi besar. Ia membangun komunitas Bumi Bebas Sampah secara mandiri, mulai dari mengurus perizinan, dokumentasi, hingga turun langsung dalam setiap kegiatan.

Sebagai seorang wirausaha, Ian mengaku memiliki cukup waktu untuk terlibat dalam kegiatan sosial. Namun, keresahannya terhadap lingkungan sebenarnya tidak muncul begitu saja.

Ia pernah menjadi relawan pendidikan di sejumlah daerah dan melihat langsung ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Dari pengalaman itu, Ian mulai menyadari bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari isu sosial lainnya.

“Waktu turun sebagai volunteer pendidikan, saya baru sadar ternyata gap pendidikan kita cukup parah. Dari situ saya merasa banyak keresahan yang saling berkaitan, mulai dari lingkungan, pendidikan, kesejahteraan hewan, sampai bantuan untuk kaum marjinal,” katanya.

Keresahan itu kemudian melahirkan Bumi Bebas Sampah, komunitas yang menurut Ian akan menjadi wadah bagi anak muda untuk menyalurkan kepedulian mereka terhadap berbagai isu sosial dan lingkungan.

Komunitas tersebut resmi terdaftar di IndoRelawan sejak 27 September 2025 dan berbasis di Jakarta Barat. Meski baru berdiri, komunitas itu telah memiliki ratusan relawan dan beberapa kali mengadakan kegiatan sosial maupun aksi bersih lingkungan.

Aksi clean up di Pulau Merak menjadi kegiatan pertama komunitas Bumi Bebas Sampah. Saat itu, hanya 13 orang yang ikut bergabung. Namun, 13 orang itu menjadi bukti bahwa masih ada orang-orang yang peduli dan memiliki keresahan yang sama dengan Ian.

“Senang ternyata banyak yang punya keresahan yang sama dan ingin melakukan perubahan,” ujar Ian sambil tersenyum.

Namun, perjalanan membangun komunitas itu tidak selalu mudah.

Ian mengaku sebagian besar operasional kegiatan masih menggunakan dana pribadinya sendiri. Selain keterbatasan biaya, ia juga belum memiliki tim yang benar-benar solid sehingga ia harus selalu hadir di setiap kegiatan.

Meski begitu, Ian tetap memilih melanjutkan gerakan tersebut.

Di tengah perjalanan itu, saya sempat bertanya kepada Ian apakah ia pernah berpikir untuk berhenti menjalankan komunitas tersebut.

“Saya akan membubarkan BBS kalau semua orang sudah sadar akan kewajiban mereka sendiri, seperti membuang dan memilah sampah tanpa perlu diingatkan,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Komunitas ini menjadi simbol harapan Ian untuk masyarakat agar memiliki kesadaran diri untuk bertanggung jawab atas sampah mereka.

Perjalanan menuju Kampung Gajeboh sore itu semakin berat. Hujan mulai turun ketika kami masih berada di tengah jalur pendakian. Jalanan tanah berubah menjadi semakin licin dan sulit dilalui. Apalagi bagi pemula. Saya termasuk seseorang yang pertama kali merasakan perjalanan seekstrem ini.

Beberapa relawan mulai berjalan lebih pelan sambil menjaga keseimbangan. Tidak ada pegangan di sisi jalur, hanya tanah basah dan bebatuan yang licin. Kaki terasa pegal dan perlahan mati rasa setelah berjalan selama berjam-jam. Tak sedikit juga dari para relawan, termasuk saya, mengalami kejadian-kejadian selama perjalanan, seperti terjatuh, tergelincir, dan terguling. Medan yang sangat sulit dilalui bagi pemula.

Menjelang malam, matahari benar-benar menghilang. Gelap mulai menyelimuti jalur menuju kampung. Suara terengah-engah bercampur dengan suara hewan-hewan liar di hutan yang membuat bulu kuduk ikut merinding. Malam itu benar-benar gelap, semuanya hitam. Bahkan senter pun tak membantu pencahayaan. Jalur itu terasa tak ada ujungnya yang membuat kami terus berjalan tanpa henti.

Setelah berjalan kaki sekitar delapan jam, sekitar pukul setengah sembilan malam, kami akhirnya tiba di Kampung Gajeboh, kawasan Baduy Luar. Kami menginap di rumah salah satu warga yang turut mengiringi perjalanan kami dari awal. Malam itu, setelah sampai, para relawan hanya membersihkan diri, makan bersama, lalu berbincang singkat sebelum beristirahat. Hari itu ditutup dengan briefing untuk kegiatan esok hari.

Kelas Eco Enzyme

Para relawan belajar membuat eco enzyme dari sampah-sampah organik di Kampung Gajeboh, Baduy, Minggu (24/5/2026). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Keesokan paginya, 24 Mei 2026, suasana kampung terasa jauh lebih hidup dan berwarna. Pagi itu terasa sejuk, sangat tentram dan damai. Matahari bersinar terang, langit biru dengan awan putih dan ayam-ayam berkokok turut mewarnai suasana minggu pagi. Relawan mulai mengelilingi Kampung Gajeboh sambil menyapa warga sekitar. Ada yang pergi ke sungai, mampir ke rumah tetangga, ada juga yang lebih memilih untuk beristirahat.

Hari itu, komunitas Bumi Bebas Sampah juga mengadakan kelas eco enzyme sebagai bentuk edukasi pengelolaan sampah bagi masyarakat baduy setempat agar masyarakat Baduy bisa bertanggung jawab atas sampahnya sendiri.

Setelah kelas eco enzyme, relawan bersiap-siap untuk kembali ke terminal. Sekitar pukul 10.00 WIB, para relawan mulai menyusuri jalur Baduy sambil memungut sampah.

Akhir Cerita Petualangan di Baduy

Relawan Bumi Bebas Sampah menunjukkan hasil sampah yang berhasil dikumpulkan selama kegiatan clean up di kawasan Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (24/5/2026). Dalam kegiatan tersebut, relawan mengumpulkan 35 kilogram sampah dan memasang sejumlah titik tempat sampah. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Perjalanan menuju arah turun juga tak jauh beda dengan perjalanan menuju ke Kampung Gajeboh. Medan curam dan licin masih menemani perjalanan turun para relawan siang itu. Para relawan tetap mengumpulkan sampah. Saat tiba di lokasi yang cukup ramai wisatawan dan penduduk, Ian mengusulkan untuk memasang tempat sampah di dekat lokasi pembakaran sampah.

Saya berinteraksi dengan salah satu peserta di kegiatan itu, Diana namanya. Diana mengaku awalnya hanya tertarik mengikuti open trip ke Baduy karena penasaran dengan kehidupan masyarakat adat di sana. Namun, pengalaman itu justru mengubah cara pandangnya terhadap lingkungan.

“Hal yang paling berkesan adalah ngerasa bisa bermanfaat buat alam lewat kegiatan clean up di sepanjang jalan menyusuri kampung Baduy,” ujar Diana.

Tidak hanya itu, kegiatan tersebut juga membuatnya lebih sadar terhadap sampah yang dihasilkan sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi lebih aware sama sampah diri sendiri dan lebih mindful terhadap sampah yang kita hasilkan,” katanya lagi.

Menurut Ian, persoalan sampah di Baduy bukan hanya soal wisatawan, tetapi juga minimnya edukasi pengelolaan sampah di masyarakat.

Ia mengatakan sebagian warga masih memilih membakar sampah karena dianggap sebagai cara paling praktis, tanpa memahami dampak pembakaran plastik terhadap kesehatan dan lingkungan.

“Masih banyak pengunjung yang belum bertanggung jawab terhadap sampah pribadinya sendiri,” ujar Ian.

Hujan kembali turun siang itu ketika perjalanan pulang dimulai. Para relawan sempat tertahan hampir satu jam sambil menunggu hujan agak reda dan jalur lebih aman untuk dilewati. Setelah empat jam berjalan kaki, kami berkumpul di terminal untuk kembali, menuju Stasiun Rangkasbitung.

Perjalanan panjang itu akhirnya selesai dengan puluhan kilogram sampah berhasil dikumpulkan. Dari kegiatan selama dua hari tersebut, relawan berhasil mengumpulkan dua puluh tujuh kilogram sampah residu dan delapan kilogram sampah daur ulang. Selain itu, mereka juga memasang tujuh titik tempat sampah di kawasan Baduy dan satu titik di Stasiun Rangkasbitung.

Bagi Ian, menjaga Baduy bukan sekadar membersihkan sampah yang terlihat di permukaan. Lebih dari itu, ia ingin kesadaran menjaga lingkungan bisa tumbuh perlahan, baik bagi warga lokal maupun wisatawan yang datang.

“Agar budaya dan alam mereka terus lestari dan bisa dijaga sampai generasi-generasi selanjutnya,” katanya.

Di tengah persoalan sampah yang terus menggunung di berbagai daerah, langkah kecil seperti memungut sampah di jalur Baduy mungkin terlihat sederhana. Namun, dari perjalanan panjang itu, saya melihat satu hal yang tetap bertahan di tengah hujan, jalur licin, dan perjalanan melelahkan: masih ada orang-orang yang memilih peduli terhadap bumi, bahkan ketika banyak orang lain mengabaikannya.

Baca Juga