Hey Jude, don't make it bad.
Take a sad song and make it better.
Remember to let her into your heart,
Then you can start to make it better.
Ada dua lagu yang hampir selalu dinyanyikan para suporter Inggris setiap kali pertandingan timnas mereka usai di Piala Dunia 2026. Pertama adalah Hey Jude dari The Beatles, sedangkan yang kedua adalah Wonderwall dari Oasis.
Lagu yang kedua sudah saya jelaskan makna dan kaitannya dengan timnas Inggris dalam artikel sebelumnya.
Sementara itu, Hey Jude memiliki makna yang lebih personal bagi saya. Lagu ini merupakan lagu favorit almarhum ayah saya. Dulu, setiap kali ingin menasihati saya, beliau sering mengutip bait pertama lagu tersebut. Terus terang, saat itu saya belum benar-benar memahami apa hubungan lirik itu dengan berbagai persoalan hidup yang saya hadapi.
Kini saya ingin mencoba membedah makna Hey Jude, kaitannya dengan timnas Inggris, sekaligus menjawab pertanyaan mengapa para suporter Inggris kerap menyanyikannya setelah pertandingan berakhir.
Asal-usul lagu ini sedikit banyak menjelaskan maknanya. Hey Jude diciptakan oleh Paul McCartney untuk menghibur Julian Lennon, putra John Lennon, yang sedang bersedih akibat perceraian kedua orang tuanya. Bahkan, judul awal lagu ini sebenarnya adalah Hey Jules, panggilan akrab untuk Julian.
Dua baris pertama liriknya sudah sangat jelas:
"Hey Jude, don't make it bad. Take a sad song and make it better."
Pesan Paul McCartney sederhana, tetapi begitu kuat: jangan tenggelam dalam kesedihan, melainkan berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Dua baris berikutnya mengajak siapa pun yang sedang terluka atau terpuruk agar membuka hati, bangkit, dan melanjutkan hidup dengan harapan baru.
Mungkin itulah pula maksud almarhum ayah saya ketika berulang kali mengutip lagu tersebut kepada saya. Beliau ingin saya tidak larut dalam kegagalan, melainkan bangkit dan terus mengejar cita-cita.
Dari sinilah saya mulai memahami mengapa para suporter Inggris begitu gemar menyanyikan Hey Jude, terutama kepada salah satu pemain andalan mereka yang kebetulan bernama Jude, yakni Jude Bellingham.
Dalam beberapa tahun terakhir, termasuk menjelang Piala Dunia 2026, Jude Bellingham cukup sering menerima kritik atas penampilannya. Bahkan, pelatih Inggris Thomas Tuchel pernah melontarkan kritik terhadap performanya.
Padahal, pada Piala Dunia kali ini, untuk ukuran seorang gelandang, kontribusi Jude Bellingham bisa dikatakan melampaui tugas utamanya. Ia sudah mencetak enam gol, jumlah yang sama dengan koleksi kapten sekaligus striker Inggris, Harry Kane.
Erling Haaland, penyerang Norwegia yang juga merupakan sahabat dekat Jude Bellingham, dalam sebuah konferensi pers mengaku heran melihat besarnya kritik yang diterima Jude. Menurut Haaland, Jude merupakan salah satu pemain terbaik di dunia. Ia bahkan mengatakan bahwa Inggris maupun Real Madrid sangat beruntung memiliki pemain seperti Jude Bellingham.
Saya menduga lagu Hey Jude yang dinyanyikan para suporter Inggris bukan sekadar tradisi seusai pertandingan. Lagu itu juga merupakan bentuk dukungan agar Jude Bellingham tidak larut dalam kritik yang menghampirinya, melainkan terus bangkit dan berjuang membawa kemenangan bagi timnas Inggris.
Bagi saya, di situlah letak keindahan lagu ini. Hey Jude bukan hanya lagu dengan melodi yang indah dan menyentuh, tetapi juga mengandung pesan tentang harapan, ketabahan, dan keberanian untuk bangkit ketika hidup terasa berat. Mungkin itulah sebabnya lagu ini tetap hidup lintas generasi, dari kisah Julian Lennon hingga bergema di stadion-stadion tempat Jude Bellingham bermain.
Mudah-mudahan Jude Bellingham, Harry Kane, dan rekan-rekannya mampu bertahan menghadapi segala kritik, lalu mewujudkan mimpi besar bangsa Inggris: membawa pulang trofi Piala Dunia ke tanah kelahirannya. Seperti yang selalu dinyanyikan para pendukung mereka, "Football's Coming Home."
Baca Juga
-
Inggris vs Argentina: Semifinal yang Lebih dari Sekadar Sepak Bola
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
-
Kolombia dan Para Seniman Lapangan Hijau
-
Perang Anglo-Saxon vs Viking: Ujian Mental Juara Inggris Era Tuchel
-
Ketika Brasil Tumbang, Piala Dunia Mulai Kehilangan Logikanya
Artikel Terkait
-
Inggris vs Argentina: Saatnya Three Lions Jegal Juara Bertahan
-
Noni Madueke Tak Takut Lionel Messi Cs: Argentina yang Harus Khawatir Lawan Inggris
-
Prediksi Lini dan Skor Inggris vs Argentina: Duel Maut Demi Tiket Final
-
Karier di Era AI Tak Hanya Soal Skill Digital, Kemampuan Komunikasi Bahasa Inggris Jadi Pembeda
-
Alexis Mac Allister: Tenang, Timnas Argentina Pengalaman di Semifinal
Kolom
-
Saya Baru Sadar, Masakan Ibu Tak Pernah Membosankan Meski Itu-Itu Saja
-
Di Balik Server Raksasa: Rahasia Kelam di Balik Kecepatan Kecerdasan Buatan
-
Sistem Kerja Hybrid: Cara Baru Bekerja yang Membuat Hidup Lebih Seimbang
-
Hukum dan Fenomena No Viral No Justice: Kritik atas Kasus KSBE
-
Paradoks Negeri Tambang: Kaya Sumber Daya, tapi Bergantung pada Pajak
Terkini
-
Inggris vs Argentina: Saatnya Three Lions Jegal Juara Bertahan
-
5 Produk Baru Samsung yang Diprediksi Meluncur di Galaxy Unpacked 2026
-
Yeonjun TXT jadi Artis Korea Pertama Tampil di Panggung Z100 Summer Bash
-
Mati Listrik saat Bikin Roti? Ini 5 Dampaknya pada Proses Produksi
-
Prediksi Lini dan Skor Inggris vs Argentina: Duel Maut Demi Tiket Final