Christopher Nolan tampaknya memang nggak pernah tertarik membuat film yang sebatas menghibur. Seusai meraih kesuksesan besar melalui Film Oppenheimer, sutradara peraih Academy Award itu kini mengadaptasi The Odyssey, epos Yunani karya Homer yang berumur hampir tiga ribu-an tahun.
Diproduksi Syncopy dan didistribusikan Universal Pictures, film berdurasi ±172 menit ini menjadi proyek paling ambisius Nolan hingga saat ini, lho. Bukan hanya karena mengangkat salah satu karya sastra paling berpengaruh sepanjang sejarah, tapi juga karena menjadi film panjang pertama yang direkam sepenuhnya menggunakan kamera IMAX generasi terbaru. Mantap, deh!
Matt Damon dipercaya memerankan Odysseus, raja Ithaca yang berusaha pulang setelah Perang Troya usai. Anne Hathaway memerankan Penelope, istri yang setia menunggu kepulangannya, sementara Tom Holland menjadi Telemachus, putra mereka yang tumbuh tanpa kehadiran sang ayah. Film ini juga menghadirkan Zendaya sebagai Athena, Robert Pattinson sebagai Antinous, Charlize Theron sebagai Calypso, Samantha Morton sebagai Circe, Lupita Nyong'o sebagai Helen of Troy, hingga Jon Bernthal sebagai Menelaus.
Kisahnya mengikuti perjalanan panjang Odysseus yang harus menghadapi berbagai rintangan sebelum kembali ke rumah. Cyclops, Circe, Calypso, amarah Poseidon, hingga godaan yang terus menguji tekadnya hanyalah sebagian kecil dari perjalanan itu. Sementara di Ithaca, Penelope bertahan menghadapi para pelamar yang ingin merebut takhta, sedangkan Telemachus berusaha menemukan jejak ayah yang telah lama menghilang. Menarik, ya? Kendati plot cerita terbilang biasa.
Di tangan Christopher Nolan, kisah ini nggak hanya berbicara tentang monster dan dewa, tapi juga terkait trauma perang, rasa bersalah, kehilangan, kepemimpinan, dan kerinduan untuk pulang.
Namun, sebelum sebagian besar penonton menyaksikan perjalanan Odysseus di layar lebar, perjalanan lain sudah lebih dulu dimulai. Bukan perjalanan sang tokoh utama, melainkan perjalanan sebuah karya (film) menuju ruang sidang media sosial.
Saat belum tayang secara luas, Film The Odyssey sudah dihujani berbagai vonis. Ada yang memperdebatkan casting Lupita Nyong'o sebagai Helen of Troy. Ada yang mengkritik dialog modern dan aksen Amerika para pemain. Ada pula yang mempermasalahkan desain kapal dan kostum karena dianggap nggak cukup akurat secara historis. Semuanya diperdebatkan, seolah-olah kualitas sebuah film sudah bisa ditentukan hanya dari trailer, foto promosi, dan potongan adegan.
Di sinilah menurutku Film The Odyssey menjadi menjadi cerminan tentang bagaimana kita menikmati karya seni hari ini.
Entah sejak kapan kita mulai menganggap trailer sebagai film, foto produksi sebagai cerita utuh, dan daftar pemain sebagai ukuran mutlak kualitas sebuah karya. Rasanya kita semakin terbiasa menjatuhkan vonis sebelum memberikan kesempatan film berlenggang di bioskop dan unjuk diri.
Media sosial tentu punya andil besar dalam perubahan ini. Algoritma lebih menyukai reaksi cepat dibandingkan pemikiran yang matang. Kemarahan lebih mudah menjadi viral ketimbang rasa penasaran. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi ruang penghakiman. Film belum diputar utuh dan tayang serentak, tapi label ‘gagal’, ‘woke’, ‘nggak menghormati sumber asli atau mahakarya’ sudah lebih dulu ditempelkan.
Parah banget sih! Karena kelakuan dan komentar netizen bertentangan dengan hakikat seni.
Film bukan kumpulan gambar yang berdiri sendiri. Sebuah adegan hanya memiliki makna ketika bertemu dengan adegan lain. Sebuah dialog baru terasa utuh ketika ditempatkan dalam konteks cerita. Bahkan keputusan casting yang sempat diperdebatkan bisa berubah menjadi salah satu daya pikat film ketika aktornya benar-benar menghidupkan karakter di layar.
Karena itulah menghakimi film hanya dari trailer sebenarnya sama seperti menilai sebuah novel hanya dari sampulnya. Kita boleh memiliki kesan awal, tapi kesan awal nggak pernah cukup untuk menjadi kesimpulan.
Menurutku, inilah persoalan yang lebih besar daripada sebatas perdebatan mengenai Film The Odyssey. Kita hidup di masa ketika opini bergerak lebih cepat daripada pengalaman nonton itu sendiri. Banyak orang (mungkin) nggak lagi datang ke bioskop untuk membentuk pendapat, melainkan datang membawa pendapat yang sudah selesai dibentuk oleh internet. Mereka (mungkin) hanya mencari pembenaran atas apa yang telah diyakini sejak awal.
Padahal salah satu keindahan terbesar dari menonton film adalah kemungkinan untuk dikejutkan. Film yang tampak biasa saja bisa berubah menjadi pengalaman luar biasa. Sebaliknya, film yang trailernya terlihat spektakuler bisa saja mengecewakan. Semua kemungkinan itu hanya bisa ditemukan jika kita memberi kesempatan sebuah karya menyelesaikan ceritanya.
Film The Odyssey mungkin akan dikenang sebagai salah satu proyek terbesar Christopher Nolan. Namun bagiku, film ini juga meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih penting ketimbang siapa pemeran terbaik atau seberapa megah visualnya.
Apakah kita masih mampu menjadi penonton yang sabar dan adil?
Sabar untuk mendengar dan melihat kisahnya sampai selesai. Sabar untuk memahami konteks sebelum menyimpulkan dan adil membiarkan karya berbicara lebih dulu sebelum kita memutuskan apakah layak dipuji atau dikritik.
Sebab ketika opini lahir lebih cepat dari pengalaman nontonnya, tentu saja kita sudah kehilangan kualitas diskusi sehat. Ketika rasa ingin tahu hilang, bukankah kita juga kehilangan salah satu alasan utama mengapa seni diciptakan?
Gimana menurut Sobat Yoursay? Film The Odyssey sudah resmi tayang hari ini, 15 Juli 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Yuk, nonton dulu sebelum menghakimi.
Baca Juga
-
Review Agent Kim Reactivated: Ketika Orang Baik Dipaksa Menjadi Buas
-
Mengapa Remake '402 Rumah Sakit Angker' Gagal Memikat Seperti Gonjiam Versi Asli?
-
Review Worst Neighbor Ever: Dokumenter yang Cuma Mengeksploitasi Tragedi
-
Review Film Pemikat Jiwa: Pelet, Ego, Obsesi, dan Cinta Laknat
-
Foufo Membuktikan Sci-Fi dari Indonesia Nggak Perlu Mengekor Hollywood
Artikel Terkait
-
Di Balik Soundtrack Film 402: Rumah Sakit Angker Korea, Ada Sisipan Notasi 'Laa Ilaha Illallah'
-
Terlalu Berat! Para Pemain Film Sofia sampai Minta Terapis usai Baca Naskah
-
Bukan Sekadar Jump Scare, Film Munafik: Melawan Iblis Janjikan Teror yang Berbeda!
-
Bukan Akting! Ananta Rispo Akui Ditampar Sungguhan oleh Dodit Mulyanto demi Film Ketok Mejik
-
Review Warung Pocong: Bikin Ketawa Sekaligus Merinding, Ini Alasan Film Ini Beda!
Ulasan
-
Toko Misterius Tawarkan Jajanan Ajaib: Semua Keinginanmu Ada di Sini!
-
My Troublesome Star: Menggugat Stigma Usia Perempuan dalam Industri Hiburan
-
Look Back: Sebuah Cerita Tentang Persahabatan, Impian, dan Perpisahan
-
Review Novel Penance: Misteri Pembunuhan yang Menyisakan Luka Seumur Hidup
-
Drama Korea Azure Spring: Laut sebagai Tempat Memulai Babak Baru
Terkini
-
Pendidikan Dianaktirikan: Mengapa Indonesia Masih Pelit Investasi pada Otak Rakyatnya?
-
Tersingkirnya Prancis dan Penegasan Hakiki Sepak Bola Harus Dimainkan Secara Kolektif
-
J.Y. Park, TWICE, dan Stray Kids Resmi Gabung Voting Member Grammy Awards
-
Kami Bermain Ceroboh: Pengakuan Jujur Mbappe Usai Prancis Dipermalukan Spanyol
-
Terungkap! Ini Teknologi Baru yang Bikin Layar Galaxy Z Fold 8 Makin Mulus