Kalau melihat cara orang menjalin hubungan hari ini, sebenarnya kita hidup di masa yang “serba ada”. Mau kenalan dengan orang baru tidak sulit. Mau membangun komunikasi juga tidak terbatas ruang dan waktu. Bahkan, secara teori, peluang menemukan pasangan terasa jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Tapi anehnya, di tengah semua kemudahan itu, banyak orang justru merasa hubungan semakin tidak jelas. Ada kedekatan tanpa status, ada perhatian tanpa komitmen, ada hubungan yang berjalan lama tapi tidak pernah benar-benar sampai ke arah yang pasti. Istilah seperti ghosting atau hubungan tanpa definisi bukan lagi sesuatu yang jarang terjadi—justru seperti sudah jadi bagian dari dinamika sehari-hari.
Fenomena ini bukan sekadar pengalaman pribadi, tapi juga sudah dibahas dalam kajian sosial. Zygmunt Bauman, misalnya, menyebut hubungan modern sebagai bagian dari liquid love—relasi yang cair, fleksibel, tapi juga mudah berubah dan sulit dipertahankan. Dalam dunia yang cepat berubah, hubungan pun ikut menjadi sesuatu yang tidak selalu stabil.
Di titik inilah sebagian orang mulai merasa lelah. Bukan karena tidak bisa mencintai, tapi karena terlalu sering menghadapi ketidakpastian. Dan dari kelelahan itu, muncul kebutuhan akan sesuatu yang lebih jelas, lebih terarah. Taaruf hadir di ruang itu.
Ta’aruf: Bukan Cara Lama, tapi Cara Berpikir yang Berbeda
Sering kali ta’aruf dianggap sebagai sesuatu yang “kuno” atau terlalu kaku. Padahal kalau dilihat lebih dalam, ta’aruf bukan sekadar cara lama yang diulang, tapi cara berpikir yang berbeda tentang hubungan.
Dalam banyak relasi modern, hubungan dimulai dari perasaan. Kita tertarik, lalu dekat, lalu mencoba menjalani. Komitmen biasanya datang belakangan—kalau memang ada.
Ta’aruf justru membalik alurnya. Ia tidak menolak perasaan, tapi tidak menjadikannya sebagai titik awal utama. Yang lebih dulu dibicarakan adalah hal-hal yang sering dihindari dalam hubungan biasa yaitu nilai hidup, tujuan masa depan, kesiapan menikah, hingga cara memandang peran dalam hubungan.
Ini mungkin terdengar “terlalu serius di awal”. Tapi justru di situlah letak perbedaannya. Ta’aruf tidak dirancang untuk mencoba-coba, tapi untuk menilai sejak awal, apakah hubungan ini layak dilanjutkan atau tidak.
Dalam psikologi hubungan, pendekatan seperti ini sebenarnya punya dasar yang cukup kuat. Penelitian dari John Gottman menunjukkan bahwa keberhasilan hubungan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kesamaan nilai dan kemampuan mengelola perbedaan, bukan sekadar intensitas perasaan di awal. Artinya, apa yang sering dianggap “tidak romantis” dalam ta’aruf, justru bisa menjadi fondasi yang penting dalam jangka panjang.
Kenapa Perasaan Tidak Dijadikan Titik Awal?
Ini mungkin bagian yang paling sering dipertanyakan. Kenapa harus ditahan? Kenapa tidak dibiarkan berkembang saja secara alami? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana, meskipun tidak selalu mudah diterima karena perasaan bisa menipu.
Ketika seseorang sudah merasa nyaman atau jatuh cinta, cara dia melihat pasangannya cenderung berubah. Kekurangan jadi terlihat kecil, perbedaan dianggap tidak penting, bahkan hal-hal yang sebenarnya krusial bisa terlewat begitu saja.
Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan bias kognitif—cara otak kita menyaring informasi berdasarkan apa yang ingin kita rasakan, bukan apa yang sebenarnya ada.
Ta’aruf mencoba mengurangi bias ini dengan menahan keterlibatan emosional di awal. Bukan berarti tidak boleh punya perasaan sama sekali, tapi perasaan tidak dijadikan dasar utama dalam mengambil keputusan. Ibaratnya, ta’aruf mencoba memastikan bahwa kita tidak membangun rumah di atas sesuatu yang masih rapuh.
Tapi Benarkah Kita Bisa Mengenal Seseorang dengan Cara “Terbatas”?
Di sisi lain, kritik terhadap ta’aruf juga tidak bisa dianggap sepele. Banyak yang merasa bahwa hubungan yang terlalu dibatasi justru membuat kita tidak benar-benar mengenal pasangan. Dan ini ada benarnya.
Dalam hubungan yang lebih bebas, kita bisa melihat bagaimana seseorang bersikap dalam berbagai situasi—saat senang, saat marah, saat menghadapi masalah. Kita belajar dari pengalaman langsung, bukan hanya dari cerita atau jawaban dalam percakapan.
Sedangkan, Ta’aruf memang tidak selalu memberi ruang seluas itu. Interaksi lebih terarah, sering kali lebih formal, dan tidak semua dinamika bisa terlihat. Di sinilah dilema muncul. Di satu sisi, kita ingin menjaga diri dari keterikatan yang terlalu cepat. Di sisi lain, kita juga butuh mengenal pasangan secara nyata.
Tidak ada jawaban yang benar-benar sempurna untuk ini. Ta’aruf memilih mengurangi risiko di satu sisi, tapi harus menerima keterbatasan di sisi lain.
Kelelahan Emosional dan Munculnya Kebutuhan Akan Kepastian
Kalau dilihat lebih jauh, meningkatnya minat terhadap ta’aruf sebenarnya bukan hanya soal agama atau nilai, tapi juga soal pengalaman sosial.
Banyak orang merasa lelah dengan hubungan yang tidak jelas. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk sesuatu yang akhirnya tidak ke mana-mana. Terlalu banyak energi emosional yang terbuang untuk hubungan yang tidak pernah benar-benar pasti.
Dalam situasi seperti ini, kejelasan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ta’aruf menawarkan kejelasan itu sejak awal. Tidak ada fase “lihat nanti jadi apa”, tidak ada hubungan yang menggantung tanpa arah. Dari awal sudah jelas bahwa ini menuju pernikahan atau tidak sama sekali.
Bagi sebagian orang, ini memberikan rasa aman. Mereka tidak perlu terus-menerus bertanya, tidak perlu menebak arah hubungan, dan tidak perlu menghadapi ketidakpastian yang melelahkan. Tapi tentu saja, kejelasan ini datang dengan konsekuensi. Tidak semua orang siap untuk langsung berbicara tentang komitmen di awal.
Apakah Ta’aruf Menghilangkan Romantisme?
Ini pertanyaan yang cukup sering muncul, dan jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita memahami romantisme itu sendiri.
Kalau romantis diartikan sebagai perasaan yang intens, spontan, dan penuh kejutan, maka ta’aruf memang terlihat kurang “hidup”. Tidak ada fase jatuh cinta yang dramatis, tidak ada kebebasan mengekspresikan perasaan secara penuh.
Tapi kalau romantis diartikan sebagai komitmen yang dijaga, tanggung jawab yang dipegang, dan usaha untuk tetap bersama dalam jangka panjang, maka ta’aruf justru punya bentuk romantismenya sendiri.
Menariknya, banyak hubungan yang dimulai dari ta’aruf tidak langsung penuh dengan cinta di awal. Tapi seiring waktu, melalui interaksi sehari-hari dan pengalaman bersama, cinta itu tumbuh.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai companionate love—cinta yang tidak selalu meledak di awal, tapi kuat dalam jangka panjang. Dan kalau dipikir-pikir, bukankah hubungan yang bertahan lama memang lebih membutuhkan konsistensi daripada sekadar intensitas?
Realita: Tidak Ada Jalan yang Tanpa Risiko
Penting untuk diingat, ta’aruf bukan jaminan hubungan akan berhasil. Sama seperti hubungan lainnya, ia tetap bergantung pada banyak faktor diantaranya kesiapan individu, komunikasi, kedewasaan emosional, dan kemampuan menghadapi perbedaan.
Ada pasangan yang berhasil melalui ta’aruf dengan baik, tapi ada juga yang merasa tidak cocok setelah menikah. Ada yang merasa prosesnya terlalu cepat, ada yang merasa kurang mengenal pasangan.
Tapi hal yang sama juga terjadi pada hubungan yang dimulai dengan pacaran. Tidak sedikit hubungan yang sudah berjalan lama, tapi tetap berakhir karena ketidaksesuaian yang baru terlihat belakangan.
Jadi pada akhirnya, tidak ada metode yang benar-benar bebas dari risiko. Yang berbeda hanyalah jenis risiko yang dihadapi.
Jadi, Membatasi atau Menjaga?
Kalau harus dijawab dengan jujur, ta’aruf memang membatasi. Tapi batas itu tidak dibuat tanpa alasan. Ia membatasi interaksi agar tidak terlalu jauh sebelum ada kepastian. Ia membatasi perasaan agar tidak berkembang di tempat yang belum tentu tepat. Ia membatasi kebebasan tertentu demi menjaga sesuatu yang dianggap lebih penting.
Di saat yang sama, ia juga menjaga. Menjaga dari luka yang tidak perlu, menjaga arah hubungan agar tidak melenceng, dan menjaga nilai yang ingin dipertahankan.
Pada akhirnya, ini bukan soal mana yang lebih benar. Tapi soal mana yang lebih sesuai dengan cara seseorang memandang cinta. Ada yang merasa cinta harus dijalani secara bebas agar benar-benar bisa dipahami. Ada juga yang merasa cinta perlu diarahkan agar tidak kehilangan makna.
Ta’aruf berdiri di antara dua pandangan itu. Ia bukan untuk semua orang, tapi juga bukan sesuatu yang bisa dianggap salah begitu saja. Dan mungkin, di tengah dunia yang sering membuat hubungan terasa abu-abu, keberanian untuk memilih cara yang jelas—apapun bentuknya—itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang berarti.
Baca Juga
-
Gaya Hidup PayLater: Solusi atau Awal Masalah Keuangan?
-
Dari Novel ke Film: Mengapa Adaptasi Hampir Selalu Memicu Perdebatan?
-
Sulawesi Tengah Terus Diguncang Gempa: Sampai Kapan Kita Hanya Bisa Pasrah?
-
Saat Gelar Tak Lagi Jadi Tiket Masuk: Realita Pahit Dunia Kerja Bagi Lulusan Baru
-
Jejak Digital Tidak Pernah Hilang: Sudahkah Kita Bijak Bermedia Sosial?
Artikel Terkait
Kolom
-
Ketika Guru Bersertifikat Justru Terjebak di Celah Kebijakan
-
Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh
-
Piala Dunia 2026: Saatnya Spanyol Akhiri Puasa Juara?
-
Lebih Kejam dari Ghosting: Kenali Breadcrumbing, Jebakan Cinta yang Menguras Mental
-
Sayembara Umrah Menteri PU: Politik Klarifikasi di Tengah Tuduhan Nepotisme
Terkini
-
Ulasan Novel Semesta Thalita, Ketika Kata Pulang Tak Lagi Bermakna
-
As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang
-
Review Serial The Apartment Job: Aksi Tipu-tipu Cerdas Berbalut Isu Sosial
-
Termasuk Semifinal Kali Ini, Argentina Sudah 3 Kali Singkirkan Inggris dengan Menyakitkan!
-
Old Money Vibes! 4 Gaya Outfit Preppy Style ala Winter aespa yang Timeless