Lintang Siltya Utami | Fitri Rusandi
Ilustrasi nonton konser (Unsplash/actionvance)
Fitri Rusandi

Pernahkah kamu diejek oleh generasi yang lebih tua karena dianggap terlalu boros? Narasi klasik seperti, “Gimana mau beli rumah kalau tiap hari beli kopi susu mahal dan nonton konser terus?” seolah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Gen Z dan Milenial akhir. Di mata generasi pendahulu, anak muda hari ini dinilai tidak memiliki perencanaan masa depan yang matang dan terlalu memuja kesenangan instan.

Namun, benarkah fenomena ini murni karena sifat manja dan tidak tahu diri?

Belakangan, linimasa media sosial sedang ramai membahas sebuah istilah psikologi finansial baru: doom spending. Istilah ini merujuk pada perilaku saat seseorang sengaja menghabiskan uangnya untuk belanja barang mewah, jalan-jalan, atau hiburan mahal, justru ketika mereka sedang menghadapi kecemasan mendalam terkait kondisi ekonomi. Bagi anak muda hari ini, belanja kompulsif bukanlah bentuk foya-foya tanpa arah, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) dalam menghadapi masa depan yang terasa runtuh sebelum sempat dibangun.

Untuk memahami mengapa doom spending terjadi, kita harus melihatnya dengan kacamata realitas makro, bukan sekadar menghakimi isi dompet individu. Anak muda zaman sekarang dihadapkan pada situasi ekonomi yang jauh lebih mencekik dibanding generasi orang tua mereka dulu.

Coba kita lihat angka riil di lapangan. Di kota-kota besar, kenaikan gaji tahunan rata-rata pekerja muda kerap kali tidak menentu dan sulit mengejar laju inflasi. Sementara itu, harga properti meroket tajam setiap tahun, melesat jauh melampaui daya beli kelas pekerja. Ditambah lagi dengan hantaman biaya hidup yang kian mahal dan ketidakpastian dunia kerja akibat gelombang PHK massal yang bisa datang kapan saja.

Ketika anak muda menyadari bahwa sekeras apa pun mereka memeras keringat, menyisihkan uang seratus atau dua ratus ribu per bulan tidak akan pernah cukup untuk membayar uang muka (DP) rumah yang harganya sudah menyentuh angka miliaran, muncul sebuah keputusasaan finansial. Menabung tidak lagi terasa seperti investasi masa depan, melainkan sebuah proses tanpa ujung yang melelahkan.

Dari sinilah pemikiran fatalistik itu lahir: “Daripada uangnya habis digilas inflasi dan rumah tetap tak terbeli, lebih baik dipakai untuk membeli kebahagiaan yang bisa kurasakan hari ini.”

Di tengah kepungan stres kerja dan kecemasan masa depan, tiket konser musisi idola, segelas kopi estetik di akhir pekan, atau healing singkat ke luar kota bertransformasi menjadi "alat penyelamat" kewarasan mental.

Perilaku doom spending ini sebenarnya memberikan ilusi kendali. Ketika anak muda merasa tidak berdaya mengontrol arah ekonomi negara atau harga pasar properti yang gila-gilaan, mereka setidaknya ingin memiliki kendali penuh atas kebahagiaan jangka pendek mereka sendiri. Membeli barang bermerek atau berburu pengalaman travelling memberikan kepuasan instan (instant gratification) dan pasokan dopamin yang sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup dari minggu ke minggu.

Ini adalah bentuk kompensasi emosional yang jujur. Kita tidak bisa membeli masa depan yang stabil, jadi kita memilih untuk membeli masa kini yang menyenangkan.

Namun, di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata bahwa fenomena ini bak pisau bermata dua. Di bawah bayang-bayang validasi sebagai mekanisme pertahanan diri, ada industri kapitalisme yang siap mengintai dan mengeksploitasi kerapuhan emosional anak muda. Kampanye pemasaran modern hari ini dengan cerdik membungkus konsumerisme dalam narasi yang menyentuh empati, seperti “self-reward” atau “mental health awareness”.

Akibatnya, batas antara pemenuhan kebutuhan psikologis yang tulus dan jebakan belanja impulsif yang manipulatif menjadi sangat kabur. Kita diajak merayakan pelarian sesaat, sementara dompet kita perlahan dikuras untuk memperkaya sistem yang sama yang menciptakan tekanan mental tersebut.

Ironisnya, kepuasan instan yang ditawarkan oleh doom spending memiliki waktu kedaluwarsa yang sangat cepat. Setelah euforia konser megah selesai atau barang belanjaan itu mulai berdebu di sudut kamar, kecemasan finansial yang asli akan kembali mengetuk pintu—bahkan sering kali dengan intensitas yang lebih besar. Ketika pelarian sementara ini berubah menjadi kebiasaan menimbun utang atau ketergantungan pada layanan paylater, anak muda justru terjebak dalam lingkaran setan baru: mereka terpaksa bekerja lebih keras demi membayar pelarian dari pekerjaan itu sendiri.

Meskipun ada risiko finansial yang mengintai, menghakimi pelaku doom spending sebagai generasi yang egois dan tidak bertanggung jawab adalah sebuah kekeliruan yang fatal. Perilaku ini hanyalah gejala permukaan, bukan penyakit utamanya. Penyakit sesungguhnya adalah sistem ekonomi yang kian tidak ramah dan memeras kelas pekerja muda.

Ketika ruang aman untuk bermimpi memiliki aset masa depan dirampas oleh realitas pasar yang serakah, maka standar kesejahteraan anak muda pun bergeser secara radikal. Sukses tidak lagi didefinisikan dengan kepemilikan tanah atau rumah di usia 25 tahun, melainkan bagaimana seseorang bisa bertahan hidup dengan mental yang tetap sehat di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja.

Doom spending mungkin bukan strategi finansial yang bijak jika kita mendengarkan petuah kaku dari buku teks ekonomi konvensional. Namun, di dunia nyata, manusia bukanlah robot yang hanya berpikir tentang angka dan kalkulasi matematika; kita adalah makhluk emosional yang butuh alasan konkret untuk tetap semangat bangun dan bekerja di pagi hari.

Bagi kamu yang sesekali melakukan doom spending, tidak perlu sepenuhnya merasa bersalah atau mengutuk diri sendiri. Memprioritaskan kebahagiaan hari ini adalah hal yang sangat manusiawi di tengah dunia yang melelahkan. Namun, jadikan fenomena ini sebagai alarm pengingat agar kita tetap bijak memberi batasan yang tegas. Nikmatilah kopi mahalmu, tontonlah konser idolamu, tapi pastikan semua itu tidak dibayar dengan cara menggali lubang utang yang baru.

Sebab pada akhirnya, cara terbaik melawan keputusasaan masa depan bukanlah dengan mematangkan diri dalam penghematan ekstrim yang menyiksa batin, melainkan dengan tetap waras menjalani masa kini sambil terus menuntut perubahan sistem yang lebih adil bagi generasi kita.