Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Pasar Surabaya (Unsplash/@hsbg99)
Oktavia Ningrum

Selama bertahun-tahun, ukuran kemajuan kota sering diidentikkan dengan gedung pencakar langit, jalan yang lebar, kawasan bisnis yang modern, dan permukiman yang seragam. Kampung kerap dipandang sebagai sisa masa lalu yang suatu saat harus dinaikkan kelas atau bahkan digantikan oleh pembangunan yang lebih modern. Saya pun pernah berpikir demikian.

Beberapa tahun lalu, ketika saya mengikuti kuliah tamu dari seorang akademisi dari University of Tokyo yang melakukan riset mengenai tata kota Surabaya. Salah satu kesimpulannya cukup mengejutkan. Menurutnya, perkampungan di Surabaya tidak boleh dipandang sebagai hambatan pembangunan. Justru kampung memiliki fungsi ekonomi yang sangat penting sebagai penyangga kota, termasuk membantu menahan tekanan biaya hidup dan inflasi.

Saat itu saya menganggap pandangan tersebut terlalu romantis. Dalam bayangan saya, kota yang maju seharusnya memiliki kawasan permukiman yang semakin modern seperti yang banyak kita lihat di Jepang. Saya berpikir kampung adalah simbol ketertinggalan yang lambat laun harus ditinggalkan.

Namun, seiring waktu, pandangan itu mulai berubah.

Belakangan ini, Jepang menghadapi berbagai tantangan yang banyak dibahas para pengamat: biaya hidup yang meningkat, harga hunian yang tinggi di sejumlah kota besar, serta perubahan demografi yang memengaruhi struktur ekonomi dan masyarakat. Tantangan tersebut tentu memiliki banyak penyebab dan tidak dapat dijelaskan hanya oleh bentuk permukiman. Namun, pengalaman itu membuat saya kembali mengingat kesimpulan penelitian tentang Surabaya.

Kampung ternyata bukan sekadar kumpulan rumah dengan gang sempit. Ia merupakan sebuah ekosistem ekonomi yang bekerja dengan cara yang sering kali tidak terlihat.

Di dalam kampung, biaya hidup relatif lebih efisien. Warung kecil menyediakan kebutuhan harian tanpa harus pergi jauh. Jasa jahit, bengkel, tukang cukur, pedagang sayur keliling, hingga usaha rumahan tumbuh berdampingan. Banyak aktivitas ekonomi berlangsung dengan biaya operasional yang rendah sehingga harga barang dan jasa juga lebih terjangkau. Hubungan sosial yang erat bahkan sering menciptakan mekanisme saling membantu yang tidak selalu dapat diukur dengan angka.

Ekosistem seperti ini membuat banyak keluarga mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi. Ketika harga-harga naik, keberadaan jaringan usaha mikro dan komunitas lokal membantu menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar. Dalam konteks itulah kampung dapat dipahami sebagai salah satu penyangga ekonomi perkotaan.

Sebaliknya, jika seluruh kawasan kota berkembang menjadi kawasan dengan biaya hidup tinggi, ruang bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil bisa semakin menyempit. Pedagang kecil kesulitan membayar sewa tempat usaha, pekerja informal terdorong ke pinggiran kota, dan biaya hidup meningkat. Akibatnya, kota memang tampak lebih modern, tetapi belum tentu lebih inklusif.

Tentu, bukan berarti kampung harus dibiarkan tanpa perbaikan. Kampung tetap membutuhkan sanitasi yang baik, drainase yang memadai, ruang terbuka, akses air bersih, pengelolaan sampah, serta infrastruktur yang layak. Yang perlu dipertahankan bukanlah kekurangannya, melainkan karakter sosial dan ekonominya.

Inilah yang sering disebut sebagai pembangunan yang inklusif: memperbaiki kualitas hidup warga tanpa menghilangkan identitas dan fungsi ekonomi kawasan tersebut. Kampung dapat menjadi lebih sehat, lebih tertata, dan lebih aman tanpa kehilangan jiwanya sebagai ruang hidup yang terjangkau bagi berbagai lapisan masyarakat.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa pembangunan kota tidak selalu berarti menyeragamkan seluruh wilayah menjadi kawasan modern. Kota yang sehat justru membutuhkan keberagaman fungsi. Kawasan bisnis, permukiman formal, ruang hijau, hingga kampung memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan sosial.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari seberapa banyak gedung tinggi yang berdiri, tetapi juga dari seberapa mampu kota itu mempertahankan ruang hidup yang terjangkau bagi warganya. Kampung bukanlah simbol kegagalan pembangunan. Dalam banyak hal, ia adalah fondasi yang memungkinkan kota tetap hidup, produktif, dan lebih tahan menghadapi tekanan ekonomi. Kadang-kadang, yang tampak sederhana justru menjadi penyangga paling kuat bagi sebuah kota besar.