Apakah mendukung tim Argentina sama dengan mendukung Israel? Saya sangat tidak sepakat dengan logika seperti itu.
Pemerintah Argentina yang sekarang memang cenderung dekat dengan Israel. Akan tetapi, sepak bola adalah sepak bola. Menurut saya, Lionel Messi dan sebagian besar para punggawa timnas Argentina tidak membawa urusan politik ke lapangan hijau. Mereka datang untuk bermain sepak bola. Sikap seperti ini juga sejalan dengan FIFA dan AFA yang selama ini berusaha menjaga agar sepak bola tidak menjadi alat politik.
Memang pada tahun 2014 Messi pernah mengecam kekerasan terhadap anak-anak Palestina di Gaza ketika menjadi Duta UNICEF. Kemudian pada tahun 2018, Argentina juga membatalkan pertandingan persahabatan melawan Israel yang semula akan digelar di Yerusalem. Pembatalan itu terjadi setelah muncul berbagai desakan dari kelompok pro-Palestina.
Akan tetapi, Messi sendiri tidak pernah menyatakan secara jelas apakah ia pro-Israel atau pro-Palestina. Yang ia sampaikan adalah sikap kemanusiaan. Menurut saya, ini memang gaya Messi sejak dulu. Ia tidak terlalu suka masuk ke wilayah kontroversi politik.
Ini salah satu perbedaan Messi dengan Maradona. Maradona jauh lebih tegas dalam menyatakan sikap politiknya. Ia berkali-kali menyatakan dukungan kepada Palestina dan bangsa-bangsa lain yang menurutnya sedang mengalami penindasan. Sikap itu pula yang membuat Maradona semakin dikenal sebagai sosok yang kontroversial, bukan hanya karena permainannya di lapangan, tetapi juga karena pandangan politiknya.
Messi berbeda.
Seperti yang pernah saya tulis, Messi memilih menjauhi kontroversi. Ia lebih fokus bermain bola dan membawa kemenangan untuk tim yang dibelanya. Bisa jadi memang seperti itulah kepribadiannya. Tidak semua pemain sepak bola merasa perlu menyampaikan sikap politiknya kepada publik.
Artinya, Messi sebagai kapten timnas Argentina sudah pernah menyatakan keberpihakannya kepada nilai-nilai kemanusiaan. Kalau kemudian ia tidak menyatakan sikap secara terang-terangan terhadap negara yang dituduh melakukan kejahatan kemanusiaan, mungkin Messi memang mempunyai alasan sendiri. Saya tidak ingin berspekulasi lebih jauh mengenai hal itu.
Messi juga tidak pernah saya lihat sebagai sosok yang rasis. Ketika bermain di Barcelona, misalnya, ia mempunyai hubungan yang baik dengan Ousmane Dembele, pemain Prancis keturunan Afrika. Hubungan mereka di dalam tim berjalan sangat baik. Karena itu, saya tidak melihat alasan untuk mengaitkan Messi dengan isu-isu diskriminasi rasial.
Saya sendiri memang mendukung Argentina sebagai salah satu tim Amerika Latin. Saya sudah pernah menyampaikan bahwa dalam Piala Dunia saya pada dasarnya mendukung semua tim dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Kalau dari Eropa, hanya ada beberapa negara yang saya dukung, yaitu Inggris, Italia, Kroasia, dan belakangan Norwegia.
Pilihan itu bukan semata-mata soal politik, melainkan karena saya menyukai gaya bermain mereka. Politik pemerintah suatu negara dan permainan sepak bolanya, menurut saya, tidak selalu harus dicampur menjadi satu.
Sekarang, menjelang final Piala Dunia 2026, silakan saja mau mendukung tim mana pun. Mau mendukung Argentina, silakan. Mau mendukung Spanyol juga tidak ada masalah. Apalagi ada yang bersimpati kepada Spanyol karena sikap beberapa pemainnya terhadap Palestina, termasuk Lamine Yamal. Itu hak masing-masing.
Saya sendiri akan tetap mendukung Argentina, walaupun Spanyol dikenal lebih pro-Palestina ataupun Lamine Yamal pernah mengibarkan bendera Palestina. Bukan berarti saya menolak Palestina. Sama sekali bukan itu maksudnya. Saya hanya menyukai sepak bola Argentina.
Bagi saya, sejak era Maradona sampai Messi, gaya bermain Albiceleste selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Cara mereka memainkan bola seperti penari tango, penuh improvisasi, penuh emosi, tetapi tetap indah untuk ditonton. Mungkin karena itu pula saya selalu menikmati permainan Argentina, siapa pun pemainnya.
Karena itu, saya tetap berpendapat bahwa mendukung Argentina tidak otomatis berarti mendukung Israel. Saya mendukung Argentina karena sepak bolanya. Soal politik, setiap orang tentu mempunyai pandangan masing-masing. Saya menghormati orang yang memilih mendukung Spanyol, sebagaimana saya juga berharap pilihan saya mendukung Argentina tidak langsung diberi label sebagai dukungan terhadap kebijakan politik pemerintah negara tersebut.
Baca Juga
-
Final Piala Dunia 2026: Spanyol dan Dialektika Tiki-Taka yang Mengubah Sejarah
-
Spanyol Sudah di Final, Siapa Kini Favorit Juara Piala Dunia 2026?
-
Hey Jude, Jude Bellingham, dan Mimpi Football's Coming Home
-
Inggris vs Argentina: Semifinal yang Lebih dari Sekadar Sepak Bola
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
Kolom
-
Buku Bajakan: Kejahatan yang Terlalu Lama Dianggap Biasa
-
Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z
-
Darurat Judi Online pada Anak: Saat Gawai Berubah Menjadi Mesin Slot Berjalan
-
Indonesia di Persimpangan: Menghindari Jebakan Stagnasi Ekonomi
-
Kerja Secukupnya, Waras Seutuhnya: Membedah Tren Quiet Quitting ala Gen Z
Terkini
-
Kisah Haru Anak Kuba di Tengah Revolusi: Review How to Say Goodbye in Cuban
-
Tahun Ajaran Baru Telah Tiba! 5 Tablet Ini Cocok Banget Buat Pelajar
-
Baru Tayang, Kung Fu Soccer dari Stephen Chow Raup Rp1,2 T dalam 2 Hari!
-
Jude Bellingham Ukir Rekor Baru, Kukuhkan Posisi sebagai Bintang Top?
-
Beri Kail Bukan Ikan: Inspirasi Cinta Laura Biayai Kuliah Asisten Pribadinya