Jujur, ketika menonton film Tunggu Aku Sukses Nanti, yang baru tayang di Netflix, saya jadi terkenang masa-masa awal mencari kerja, dulu sekitar awal tahun 2000-an. Ada suasana yang terasa begitu dekat, terutama ketika film ini menggambarkan bagaimana seseorang dinilai dari pekerjaan dan kondisi ekonominya.
Memang di Indonesia, pameran keberhasilan seseorang biasanya terjadi di momen-momen hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Hari Raya Natal, dan hari-hari besar keagamaan lainnya, ketika keluarga besar berkumpul. Di momen seperti itu, kita sering mendengar cerita tentang siapa yang sudah mendapatkan pekerjaan bagus, punya rumah, membeli kendaraan, mendapatkan jabatan baru, dan berbagai cerita keberhasilan lainnya.
Tidak ada yang salah dengan keberhasilan. Persoalannya adalah ketika keberhasilan tersebut kemudian menjadi ukuran utama untuk menilai seseorang.
Di Indonesia, ukuran kesuksesan selalu dilihat dari seberapa besar penghasilan yang didapat, atau setinggi apa gelar yang didapat. Jikapun seseorang banyak menulis, yang biasanya kurang mendapat apresiasi yang sepadan di Indonesia, kalau ternyata penghasilannya kecil, maka tetap akan dianggap belum sukses.
Padahal, menulis bukan pekerjaan yang sederhana. Ada proses membaca, berpikir, melakukan riset, menulis, mengedit, dan berbagai proses panjang lainnya. Tetapi semua itu sering kali kalah penting dibandingkan satu pertanyaan: berapa penghasilan yang didapat?
Film Tunggu Aku Sukses Nanti menurut saya menarik karena persoalan tersebut diletakkan dalam kehidupan sebuah keluarga.
Arga dan Keluarganya
Tokoh utama film ini adalah Arga Mahendra, yang diperankan oleh Ardit Erwandha. Arga adalah anak dari Yudi (Ariyo Wahab) dan Rita (Lulu Tobing). Arga juga mempunyai seorang adik perempuan bernama Alma (Adzana Ashel).
Keluarga Arga adalah keluarga yang paling miskin di antara keluarga besar mereka. Karena kondisi tersebut, keluarga-keluarga lain memperlakukan keluarga Arga selayaknya pembantu atau pesuruh.
Arga tentu saja agak jengkel dengan kondisi ini. Bagaimana tidak? Di dalam keluarga sendiri, yang semestinya menjadi tempat untuk saling menghargai dan saling menguatkan, keluarganya justru ditempatkan pada posisi yang lebih rendah hanya karena mereka tidak mempunyai banyak uang.
Di sini film sebenarnya sedang memperlihatkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Kemiskinan tidak hanya membuat seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bisa membuat seseorang kehilangan posisi tawar di hadapan orang lain, bahkan di dalam keluarga.
Arga juga harus menghadapi keberadaan tantenya, Yuli (Sarah Sechan), yang cerewet. Tetapi di balik kecerewetannya tersebut, ternyata Yuli sangat menyayangi Arga. Diam-diam, Yuli membantu Arga mencari klien untuk pekerjaannya sebagai marketing perumahan mahal, Clover House.
Saya justru melihat karakter Yuli ini cukup menarik. Kadang-kadang orang yang menyayangi kita tidak selalu menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang menyenangkan. Ada yang cerewet, ada yang suka mengomel, tetapi ketika kita membutuhkan pertolongan, justru dia yang berada di depan.
Menjual Rumah Mewah
Ada ironi dalam pekerjaan Arga sebagai marketing perumahan mahal.
Arga berasal dari keluarga miskin yang bahkan diperlakukan seperti pesuruh oleh keluarga besarnya. Tetapi pekerjaan yang dijalaninya adalah menjual rumah mewah kepada orang-orang yang mempunyai kemampuan ekonomi untuk membelinya.
Arga menjual rumah yang menjadi simbol kemapanan, sementara dirinya sendiri sedang berusaha keluar dari kondisi ekonomi yang membuat keluarganya dipandang sebelah mata.
Di sinilah saya melihat ada semacam filsafat tersembunyi dari film ini.
Arga bukan hanya sedang mencari pekerjaan atau berusaha mendapatkan penghasilan. Ia sebenarnya sedang mencari pengakuan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa sukses, bahwa keluarganya tidak selamanya menjadi keluarga yang paling miskin, dan suatu hari nanti orang-orang yang selama ini memperlakukan keluarganya seperti pembantu akan melihat mereka dengan cara yang berbeda.
Tetapi persoalannya kemudian adalah: apakah kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau kita bekerja terutama untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain?
Ketika Hari Raya Menjadi Panggung Kesuksesan
Saya teringat masa ketika pertama kali mencari kerja pada awal tahun 2000-an. Saat itu, pertemuan keluarga besar, terutama pada hari raya, sering kali membuat pertanyaan tentang pekerjaan menjadi sesuatu yang cukup menegangkan bagi orang yang belum mendapatkan pekerjaan.
“Sekarang kerja di mana?”
“Sudah dapat pekerjaan?”
“Gajinya berapa?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar biasa. Tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang mencari pekerjaan, pertanyaan tersebut bisa terasa seperti sedang ditanya apakah dirinya sudah berhasil atau belum.
Lebih dari dua puluh tahun kemudian, situasinya mungkin tidak banyak berubah. Bahkan sekarang mungkin lebih berat karena media sosial membuat orang dapat mempertontonkan keberhasilannya setiap saat.
Kapitalisme Indonesia membuat momen-momen sakral keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri tidak jarang ikut menjadi ajang flexing atau pamer harta. Orang membeli pakaian baru, kendaraan baru, memperlihatkan rumah, perjalanan, pekerjaan, jabatan, dan berbagai simbol keberhasilan lainnya.
Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan memiliki semua itu. Yang menjadi persoalan adalah ketika kapital kemudian menjadi ukuran utama untuk menentukan nilai seseorang.
Orang kaya lebih dihormati. Orang yang mempunyai jabatan lebih didengar. Orang yang mempunyai pekerjaan dengan gaji besar dianggap lebih berhasil.
Sebaliknya, orang yang penghasilannya kecil, meskipun mungkin mempunyai pengetahuan luas, banyak membaca, banyak menulis, atau memberikan manfaat kepada masyarakat, sering kali tetap dianggap belum sukses.
“Tuhan Telah Mati”
Dalam konteks ini saya jadi teringat pada Friedrich Nietzsche dengan ungkapannya yang terkenal, “Tuhan telah mati, kita yang membunuhnya.”
Tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa Nietzsche secara sederhana sedang berbicara tentang kapitalisme atau budaya pamer kekayaan seperti yang kita lihat sekarang. Pemikiran Nietzsche mengenai “kematian Tuhan” jauh lebih kompleks.
Tetapi ungkapan tersebut menarik jika kita gunakan sebagai refleksi terhadap kehidupan kita sekarang.
Bisa jadi Tuhan secara formal masih kita sembah, hari raya keagamaan masih kita rayakan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari ukuran yang paling menentukan nilai seseorang justru adalah uang dan kapital yang dimilikinya.
Kita masih merayakan Idul Fitri dan berbicara tentang silaturahmi, tetapi tanpa sadar kita bisa membuat semacam hierarki berdasarkan kekayaan.
Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan Nietzsche terasa relevan untuk direnungkan kembali: jangan-jangan bukan Tuhan yang benar-benar hilang, tetapi nilai-nilai yang seharusnya lahir dari keyakinan kepada Tuhan yang justru kita singkirkan dalam kehidupan sosial.
Nenek Arga dan Rumah sebagai Tempat Pulang
Untungnya, Arga masih mempunyai nenek yang menyayanginya.
Nenek yang diperankan oleh Niniek L Karim bersimpati kepada Arga dan keluarganya. Ia tidak melihat Arga semata-mata dari kondisi ekonominya. Bahkan di akhir cerita, nenek sempat menyatakan akan mewariskan rumah miliknya yang selama ini ditinggalinya bersama Arga dan keluarganya.
Bagi saya, bagian ini cukup penting.
Rumah dalam film ini bukan hanya sebuah aset yang mempunyai nilai ekonomi. Rumah juga merupakan tempat seseorang merasa diterima. Tempat seseorang tidak perlu membuktikan berapa besar penghasilannya untuk bisa dianggap sebagai bagian dari keluarga.
Kalau keluarga besar Arga memperlihatkan bagaimana kapital dapat menentukan posisi seseorang, nenek Arga justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ia menunjukkan bahwa kasih sayang tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya.
Sebenarnya Apa Itu Sukses?
Film Tunggu Aku Sukses Nanti, pada akhirnya bukan hanya cerita tentang Arga yang ingin sukses. Film ini juga membuat saya berpikir kembali tentang bagaimana kita mendefinisikan kesuksesan.
Apakah seseorang disebut sukses karena mempunyai penghasilan besar? Karena mempunyai rumah mewah? Jabatan tinggi? Gelar akademik yang panjang?
Atau karena ketika pulang ke kampung halaman pada saat Lebaran, ia bisa membuat keluarga besarnya merasa kagum?
Saya kira pertanyaan tersebut tidak sederhana.
Kita memang membutuhkan uang, pekerjaan, rumah dan berbagai kebutuhan material lainnya. Karena itu, tidak mungkin kita mengatakan bahwa kapital sama sekali tidak penting. Tetapi ketika kapital menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, ada sesuatu yang hilang.
Kita kemudian lupa bahwa manusia tidak hanya menghasilkan uang. Manusia juga bisa menghasilkan pengetahuan, tulisan, kasih sayang, persahabatan, pendidikan, solidaritas, dan berbagai bentuk kebaikan yang tidak selalu bisa dihitung dengan angka.
Saya sendiri ketika menonton film ini jadi teringat masa-masa awal mencari kerja pada awal tahun 2000-an. Dulu saya mungkin juga berpikir bahwa setelah mendapatkan pekerjaan yang baik, semuanya akan selesai.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Setelah seseorang mendapatkan pekerjaan, muncul ukuran-ukuran baru. Berapa gajinya? Punya rumah atau belum? Kendaraannya apa? Jabatan apa? Anak sekolah di mana?
Ukuran kesuksesan seperti tidak pernah selesai.
Karena itu, mungkin persoalan sebenarnya bukan apakah kita sudah sukses atau belum. Persoalannya adalah siapa yang menentukan ukuran kesuksesan itu.
Dan melalui Arga, Film Tunggu Aku Sukses Nanti seperti mengajak kita untuk berhenti sebentar dan mempertanyakan kembali ukuran tersebut.
Sebab kalau manusia baru dianggap berharga setelah mempunyai kapital yang cukup, jangan-jangan yang selama ini kita sebut sebagai kesuksesan sebenarnya hanyalah kemampuan seseorang untuk memenangkan perlombaan material.
Sementara hidup, seperti yang diperlihatkan oleh kasih sayang nenek kepada Arga, mungkin mempunyai ukuran lain yang jauh lebih sederhana: memiliki tempat untuk pulang dan orang-orang yang tetap menyayangi kita, bahkan ketika kita belum menjadi siapa-siapa.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Dark Matter Season 1: Menjelajah Multiverse Demi Menyelamatkan Cinta Sejati
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
-
Bukan Sekadar Film Anak, Iyus Jenius Hadirkan Kembali Lagu Legendaris Papa T.Bob yang Dirindukan
Ulasan
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah