M. Reza Sulaiman | Harsa Permata
Foto para personil band Guns N' Roses formasi awal (original). (Sumber: siriusxm.ca)
Harsa Permata

Ada satu hal yang langsung terlintas di kepala saya ketika mengetahui Guns N’ Roses akan kembali datang ke Jakarta pada November 2026: bagaimana kalau band ini datang ke Jakarta pada 1993?

Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh. Namun, saya dan beberapa kawan pernah membayangkan hal tersebut ketika masih remaja.

Pada 1993, Metallica menggelar konser di Jakarta. Konser tersebut kemudian berujung kerusuhan besar. Pemerintah Orde Baru mengambil langkah represif untuk menangani kerusuhan tersebut.

Waktu itu, kami yang sedang tergila-gila pada musik rock dan metal, tentu mengikuti beritanya. Lalu muncul obrolan di antara kami: kalau yang datang ke Jakarta bukan hanya Metallica, tetapi juga Guns N’ Roses, kira-kira seperti apa kerusuhannya?

Kami tentu tidak sedang mengharapkan kerusuhan. Itu hanya imajinasi anak-anak muda yang sedang mengidolakan dua band rock paling besar pada zamannya.

Namun, Guns N’ Roses memang mempunyai reputasi yang berbeda. Axl Rose, Slash, Izzy Stradlin, Duff McKagan, dan Steven Adler pada masa itu bukan sekadar sekumpulan musisi yang menghasilkan lagu-lagu populer. Mereka seperti mewakili sesuatu yang liar, kontroversial, dan tidak terlalu peduli dengan bagaimana orang lain melihat mereka.

Bagi saya sendiri, Guns N’ Roses adalah band metal pertama yang benar-benar saya gilai.

Saya tidak pernah hanya mendengarkan satu atau dua lagu dari satu kaset album. Kalau sudah memasukkan kaset Guns N’ Roses ke tape, hampir semua lagunya saya dengarkan. Berulang-ulang. Lagi dan lagi.

Sampai tape mobil ayah saya kehabisan aki.

Pada masa itu, tentu saja, cara mendengarkan musik belum seperti sekarang. Saya mengenal Guns N’ Roses lewat kaset. Belum ada Spotify, YouTube, atau layanan streaming yang memungkinkan kita memilih lagu tertentu hanya dengan beberapa sentuhan jari.

Kalau sudah membeli kaset, ya kaset itu yang diputar.

Karena itu saya mengenal Guns N’ Roses bukan hanya melalui lagu-lagu hit seperti Welcome to the Jungle, Sweet Child o’ Mine, atau November Rain. Saya mendengarkan album mereka secara keseluruhan.

Saya mengoleksi empat album awal mereka, yaitu Appetite for Destruction, G N’ R Lies, Use Your Illusion I, dan Use Your Illusion II. Belakangan saya juga memiliki The Spaghetti Incident?, yang sebagian besar berisi lagu-lagu cover.

Ada banyak lagu yang saya dengarkan berulang-ulang. Nightrain, Mr. Brownstone, Rocket Queen, My Michelle, Patience, Civil War, Estranged, Locomotive, You Could Be Mine, dan masih banyak lagi.

Patience bahkan memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Lagu itu sering kami dengarkan saat dini hari menjelang subuh, dengan jendela kamar di lantai 2 sebuah rumah yang dibiarkan terbuka sehingga angin dingin masuk begitu saja.

Sekarang, kalau mendengar lagu tersebut, saya tidak hanya mendengar musiknya. Saya seperti kembali ke masa remaja.

Mungkin itulah keistimewaan musik. Sebuah lagu bisa menyimpan kenangan jauh lebih lama daripada yang kita sadari.

Ketika Guns N’ Roses Akhirnya Datang ke Jakarta

Ironisnya, Guns N’ Roses memang akhirnya datang ke Jakarta, tetapi baru bertahun-tahun setelah kami membayangkan mereka tampil di Indonesia.

Pada 16 Desember 2012, Guns N’ Roses untuk pertama kalinya menggelar konser di Indonesia. Konser yang semula dijadwalkan pada 15 Desember di Lapangan D Senayan itu diundur satu hari dan dipindahkan ke Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, Jakarta Utara.

Namun, bagi saya dan beberapa teman yang sejak remaja menggilai formasi awal Guns N’ Roses, ada sesuatu yang terasa kurang.

Slash tidak ada.

Formasi Guns N’ Roses yang kami kenal melalui kaset-kaset kami adalah Axl Rose, Slash, Izzy Stradlin, Duff McKagan, dan Steven Adler. Ketika Guns N’ Roses datang ke Jakarta pada 2012, Axl menjadi satu-satunya anggota formasi klasik yang tersisa.

Karena itu, terus terang saja, waktu itu kami merasa agak sulit menganggapnya sebagai Guns N’ Roses yang “asli”.

Secara resmi tentu saja itu Guns N’ Roses. Axl Rose adalah vokalis utama dan nama Guns N’ Roses memang masih digunakan. Namun, bagi penggemar lama seperti kami, ada sesuatu yang terasa hilang ketika Slash tidak berada di atas panggung.

Apalagi suara gitar Slash begitu melekat dengan lagu-lagu yang menemani masa remaja kami.

Membayangkan Sweet Child o’ Mine, November Rain, Civil War, atau Estranged tanpa Slash tentu saja terasa agak aneh.

Enam tahun kemudian, situasinya berubah.

Pada 8 November 2018, Guns N’ Roses kembali tampil di Jakarta, kali ini di Stadion Utama Gelora Bung Karno dalam rangkaian Not in This Lifetime Tour.

Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan akhirnya berada dalam satu panggung di Indonesia.

Bagi saya, konser 2018 tentu memiliki makna yang berbeda.

Setidaknya, tiga orang yang sangat penting dalam ingatan saya tentang Guns N’ Roses sudah kembali bersama.

Memang belum lengkap. Izzy Stradlin dan Steven Adler tidak ada. Namun, melihat Axl, Slash, dan Duff berada dalam satu panggung sudah cukup untuk membuat banyak penggemar lama merasa bahwa sebagian dari Guns N’ Roses yang dahulu mereka kenal akhirnya kembali.

Sekarang Guns N’ Roses Kembali Lagi

Dan November 2026 nanti, Guns N’ Roses akan kembali datang ke Jakarta.

Bagi penggemar yang mengenal mereka dari masa Appetite for Destruction dan Use Your Illusion, tentu ada perasaan berbeda ketika melihat band ini kembali ke Indonesia setelah puluhan tahun.

Saya sudah bukan remaja yang dahulu duduk di mobil ayah sambil memutar kaset Guns N’ Roses sampai aki habis.

Guns N’ Roses juga bukan lagi band yang sama.

Waktu telah mengubah mereka. Waktu juga telah mengubah saya.

Namun, saya kira justru itulah yang membuat konser seperti ini menarik.

Kita tidak hanya datang untuk melihat sebuah band lama tampil. Kita datang dengan seluruh kenangan yang pernah kita miliki bersama musik mereka.

Saya membayangkan bagaimana rasanya ketika intro Sweet Child o’ Mine dimainkan. Atau ketika Slash mulai memainkan gitar dalam November Rain. Mungkin saya akan kembali teringat kepada kaset-kaset lama, teman-teman masa remaja, dan malam-malam ketika Patience diputar menjelang subuh.

Bisa jadi saya akan kembali teringat kepada mobil ayah saya.

Dan tentu saja kepada aki yang pernah habis karena saya terlalu sering memutar Guns N’ Roses.

Ada sesuatu yang menarik dari musik lama. Kita bisa bertambah tua, rambut bisa berubah warna, tubuh tidak lagi sekuat dulu, tetapi sebuah lagu kadang-kadang masih mampu membawa kita kembali ke masa ketika kita pertama kali mendengarnya.

Itulah yang saya harapkan dari konser Guns N’ Roses di Jakarta nanti.

Bukan untuk mengembalikan masa lalu, karena masa lalu memang tidak mungkin dikembalikan.

Saya hanya ingin melihat sebuah band yang pernah menjadi bagian penting dari masa remaja saya kembali berdiri di atas panggung Jakarta.

Dan mungkin, selama beberapa jam, musik mereka akan membuat saya lupa bahwa saya sudah tidak muda lagi.

Kalau itu terjadi, saya rasa tidak masalah.

Toh, Guns N’ Roses sudah pernah membuat aki mobil ayah saya habis.

Sekali lagi menjadi penyebab saya lupa umur rasanya tidak akan terlalu berbahaya.