Sebagai konten kreator, hidup saya banyak dihabiskan buat mikirin konten apa yang bakal ngena besok, dan sisanya buat nabung demi mimpi yang belum kesampaian semua: keliling dunia. Melihat video TikTok orang-orang di luar negeri, satu hal yang selalu bikin saya iri adalah: transportasi umumnya kok bisa senyaman itu.
Di Tokyo, saya lihat subway di jam sibuk, penuh tapi tetap tertib, semua orang ngantre rapi di garis kuning. Di Amsterdam, modal tram card dan bisa kemana-mana tanpa pusing macet. Di Seoul, metronya bahkan punya jadwal yang bisa diandalkan sampai ke detik. Pulang ke Jakarta, saya sering ngeluh dalam hati, "kok transportasi umum kita nggak bisa kayak gitu ya." Tapi belakangan saya sadar, keluhan itu nggak akan selesai kalau saya sendiri masih nyaman-nyaman aja pilih kendaraan pribadi tiap hari.
Kesadaran itu makin kuat setelah saya ikut acara diskusi bertajuk LINTAS yang digagas Yoursay bersama Kemenhub. Di situ, Reza Hertantyo selaku Plt. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan mengungkap angka yang bikin saya kaget: berdasarkan hasil inventarisasi emisi gas rumah kaca yang dilakukan Kemenhub bersama Kementerian Lingkungan Hidup, ternyata sektor transportasi darat menyumbang sekitar 87 persen dari total emisi transportasi nasional. Angka itu jauh lebih besar dari yang saya kira, dan artinya, jalan-jalan yang tiap hari saya lewatin dengan mobil atau motor pribadi ternyata jadi kontributor utama krisis iklim yang sering saya bahas juga di konten-konten saya soal isu lingkungan.
Yang bikin saya makin mikir ulang adalah cara pandang narasumber lain di acara itu, Arif Ardiansyah Susilo, yang juga berprofesi sebagai content creator di bidang kehumasan pemerintah. Ia bilang satu rangkaian KRL saat jam sibuk bisa mengangkut sekitar 1.500 sampai 2.000 penumpang sekaligus, jumlah yang kalau semuanya milih naik kendaraan pribadi, bakal jadi ribuan mobil dan motor tambahan yang bikin jalanan makin sesak sekaligus makin banyak menyumbang emisi. Saya jadi sadar, tiap kali saya pesan taksi online sendirian buat jarak yang sebenarnya bisa ditempuh kereta, saya sebenarnya lagi jadi bagian dari masalah yang saya kritik.
Ironi ini yang bikin saya malu. Saya sering lihat konten soal isu iklim, soal krisis cuaca ekstrem, soal pentingnya jaga bumi buat generasi berikutnya—tapi kebiasaan mobilitas harian saya belum tentu selaras sama nilai yang saya idamkan. Padahal pemerintah sendiri, lewat Kemenhub, sedang menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi Nasional dan terus mendorong perluasan jaringan transportasi massal, termasuk rencana perpanjangan MRT Jakarta hingga Jakarta Kota, biar makin banyak orang punya akses gampang buat ninggalin kendaraan pribadi.
Sebagai orang yang bermimpi keliling dunia dan berharap bumi ini masih layak dijelajahi beberapa dekade lagi, saya sadar mimpi itu nggak akan berarti apa-apa kalau saya nggak mulai dari hal paling dekat: cara saya berangkat kerja hari ini. Naik transportasi umum mungkin kelihatan sepele, tapi kalau dilakukan bareng-bareng oleh jutaan orang, dampaknya jauh lebih besar dari satu konten viral manapun yang pernah saya buat.
Jadi mulai sekarang, saya nggak cuma mau jadi konten kreator yang ngomongin isu lingkungan lewat layar, tapi juga jadi salah satu dari sekian juta orang yang milih naik MRT, LRT, atau KRL sebagai bagian dari cara saya ikut jaga bumi yang ingin saya jelajahi lebih jauh lagi.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pelajaran Sunyi dari Seorang Kakek dan Bukunya di Padatnya KRL Manggarai
-
Simfoni Mobilitas Jakarta: Menemukan Ketenangan Lewat Integrasi Transportasi Publik
-
Di Balik Jendela KRL: Pelajaran yang Tak Pernah Diajarkan Dosenku di Dalam Kelas
-
Menemukan 'Healing' Tipis-Tipis di Balik Jendela MRT dan LRT
-
Menemukan Makna di Balik Jendela Kereta: Mengapa Aku Jatuh Cinta pada Transportasi Umum
Kolom
-
Realistis atau Pesimis? Mengulik Tren Stop the Wedding dari Sisi Finansial
-
Refleksi Tren Stop the Wedding: Menikah Itu Kesiapan, Bukan Tuntutan Usia
-
Menjaga Nalar dan Integritas Anak di Tengah Polemik Ijazah
-
Drama Penyadapan di Istana: Elite Sibuk Berperang, Rakyat Tetap Jadi Korban
-
Skandal Penyadapan Presiden: Kegagalan Sistemik atau Lemahnya Leadership?
Terkini
-
Solusi Disrupsi AI, UGM dan Uni Eropa Dorong Kolaborasi di EHEF 2026
-
Review Novel Resign, Ketika Angkat Kaki dari Kantor Jadi Bahan Taruhan
-
Runtuhnya Kejayaan Maritim Nusantara di Novel Arus Balik
-
Netflix Umumkan Tanggal Tayang Blue Eye Samurai Season 2, Simak Sinopsisnya
-
Kisah Tanah Jawa: Mengungkap Mitos dan Sejarah Kelam di Balik Pulau Jawa