Lidah termasuk hal yang sangat vital dan memiliki banyak fungsi bagi manusia. Dengan lidah, kita bisa mencecap beragam jenis masakan dan minuman. Dengan lidah pula, kita dapat berbicara dengan lancar, menjadi alat yang efektif untuk berkomunikasi dengan sesama, menebar kebaikan lewat ucapan, dan seterusnya.
Lewat lidah pula, seseorang bisa tergelincir pada jurang kemaksiatan. Ya, di satu sisi, lidah memang dapat menjadi sumber kebaikan. Sementara di sisi lain, lidah bisa menjadi sumber petaka dan menimbulkan kebencian banyak orang.
Bicara tentang lidah, memang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, lidah juga bisa mencelakai pemiliknya bila tidak bisa menjaganya dengan baik. Lidah ibarat sebilah pisau tajam yang bisa melukai perasaan orang lain. Oleh karenanya, penting bagi setiap orang untuk senantiasa menjaga lidahnya agar tidak berbicara semau-mau tanpa kontrol, tanpa kendali. Berusaha menjaga lidah agar tidak menyakiti orang-orang di sekitarnya adalah suatu keniscayaan bagi setiap orang.
Chris Triwarseno penulis buku ‘Sebilah Lidah’ mengatakan, lidah adalah tempat keselamatan digantungkan, serupa semestinya lidah juga dikurung pada sangkar pengendalian yang tergantung pada tiang kebijaksanaan. Ketajaman lidah juga bertransformasi di zaman modern, mewujud dalam bilah-bilah status media sosial yang acapkali saling “membunuh” dengan bersilat lidah. Menurut Chris, sekarang mungkin ungkapan “mulutmu harimaumu” telah tergantikan di era manusia dikendalikan oleh algoritma, menjadi ungkapan “jarimu-harimaumu” yang juga mematikan.
Lewat salah satu puisinya yang berjudul ‘Sebilah Lidah’, Chris mencoba menyuarakan gagasannya, betapa lidah begitu penting untuk selalu dijaga, agar tak menyakiti sesama, agar tidak timbul dendam dan kebencian lantaran ucapan buruk yang telanjur terucap. Berikut ini kutipan puisinya:
tak lagi ingat
pencecap liar berucap
bersilat dalam sebilah lidah
ada yang dendam, karenanya
ada yang tersayat, karenanya
ada yang binasa, karenanya
tanpa racun bisa atau sianida
fitnah, membunuh tanpa luka
mendendam, tersayat dan binasa
Bila direnungi, memang sangat benar adanya. Bahwa lidah manusia memang bisa menjadi tempat menebar beragam fitnah. Lidah, bila tak dijaga dengan baik, maka akan dengan entengnya menebarkan gosip, huru-hara, hoaks atau berita palsu, cerita-cerita yang belum teruji kebenarannya, hingga pada puncaknya melukai hati dan menimbulkan kebencian banyak orang.
Lidah, meski tak memiliki tulang, hanya sebilah daging kemerahan yang begitu rapuh, ternyata bisa berubah menjadi racun yang sangat mematikan bila pemiliknya tak memiliki kontrol atasnya. Maka, sangat tepat kiranya bila dalam puisi tersebut Chris berujar: ada yang tersayat karenanya, ada yang binasa karenanya.
Puisi-puisi karya lelaki alumnus Teknik Geodesi UGM dalam buku ini tentu saja tak melulu bertemakan tentang lidah, namun juga menyorot tentang kehidupan kaum miskin, tentang cinta dan rindu, hingga hal-hal yang sangat kental dengan aroma religiusitas. Misalnya, ketika Chris melakukan perjalanan ibadah umrah, dia menyuarakan isi hatinya lewat salah satu puisinya yang berjudul ‘Anak-anak dan Merpati di Jabal Tsur’. Berikut petikan puisinya:
anak-anak di Jabal Tsur menggembala
lambung-lambung yang membatu
menjajakan biji-biji jagung untuk merpati
bertukar riyal demi sesuap nasi mandhi
santap siang berkawan terik nanti
aku menghampiri anak-anak itu
berbagi riyal berbalas senyum
dalam doanya lirih kudengar,
“Jangan jadikan hatinya membatu, karena serpihan tamak dan bongkahan riya”.
Menyorot Kehidupan Anak Jalanan Lewat Puisi
Saya merasa yakin bahwa setiap orang tentu menginginkan kehidupannya serba tercukupi. Tak ada orang yang sudi hidupnya dijerat tali kemiskinan. Namun, realitas memaparkan, tak semua orang berhasil meraih kehidupan yang layak karena terbentur situasi dan kondisi. Misalnya seseorang yang mendadak jatuh miskin setelah di-PHK dari tempat kerjanya. Contoh lain, anak-anak gelandangan atau yang sengaja ditelantarkan oleh orangtuanya dan kemudian menjalani kehidupan di jalanan dan melakukan pekerjaan apa saja asalkan bisa dijadikan sebagai bahan penyambung hidup.
Para penjaja koran, pengamen, dan pengemis jalanan, misalnya. Mereka adalah orang-orang yang sudah begitu akrab dengan kemiskinan. Meski tak semua pengemis adalah pengemis dalam arti sebenarnya. Mengingat ada sebagian orang yang justru menjadikan pekerjaan ‘mengemis’ sebagai sebuah profesi yang menghasilkan kekayaan berlimpah ruah.
Perihal kehidupan orang-orang miskin di jalanan, Chris mencoba menyentilnya dalam puisi-puisinya. Kita bisa menyimak salah satu puisinya yang berjudul ‘Manusia Perak di Lampu Merah’ yang mengilustrasikan kehidupan pengemis jalanan. Berikut petikan puisinya:
sepasang mata memerah
menahan pedih penghidupan
seperti lampu merah
menahan laju kendaraan
lalu lalang sepanjang jalan
tidak dengan kaleng di tangannya
berlalu kosong
Bagi para penyair, puisi memang menjadi cara yang tepat untuk menyampaikan pemikiran atau kegundahan hatinya. Puisi, sebagaimana diungkap Tavifrudi dalam epilog buku ini, adalah salah satu bentuk karya sastra yang dihasilkan penyair melalui hasil olah pikir dan rasa. Kemudian dibentuk oleh ekspresi dan kreativitasnya yang intens.
Buku antologi puisi beragam tema karya Chris Triwarseno ini menurut saya cukup menarik dan layak dibaca sekaligus renungi kedalaman maknanya. Selamat membaca.
Baca Juga
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
Artikel Terkait
-
Tidak Ada New York Hari Ini: Saat Tempat Jauh Mengukir Nama yang Tertinggal
-
Peringati Hari Santri, Siswa Sekolah Rakyat Tampilkan Puisi tentang Mimpi dan Perjuangan
-
Pecandu Aksara Jilid 2: Ketika Kata-Kata Menjadi Tempat Menyimpan Luka
-
Merapah Renjana: Menyusuri Jejak Rasa dalam Puisi-puisi Penuh Keresahan
-
Dari Puisi Kampus hingga Renungan Cendekiawan: Membaca Dari Waktu ke Waktu
Ulasan
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif