Beberapa waktu lalu, dunia maya Korea Selatan ramai dengan kontroversi yang melibatkan seorang aktris setelah ia menceritakan latar belakang keluarganya yang berasal dari keluarga dokter selama beberapa generasi. Namun, dari penelusuran netizen terhadap sejarah keluarganya kemudian ditemukan bahwa kakek buyutnya diduga pernah terlibat dalam aktivitas pro-Jepang.
Kontroversi tersebut pun melebar hingga berdampak pada sejumlah aktivitas dan proyek sang aktris. Dari sebuah cerita tentang kehidupan pribadi yang dibagikan kepada publik, muncul persoalan yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Lantas, seberapa jauh sebenarnya kita perlu membagikan kehidupan pribadi di media sosial?
Keberadaan media sosial hari ini membuat orang bebas berbagi banyak hal tentang kehidupannya. Dalam waktu singkat seseorang bisa menunjukkan berbagai sisi kehidupan yang ia jalani, mulai dari kegiatan sehari-hari, pencapaian, hubungan dengan orang lain, keluarga, hal-hal yang disukai, hingga persoalan pribadi. Namun, kemudahan tersebut bukan berarti kita harus membagikan semua sisi diri kita. Masing-masing orang tentu memiliki batas privasi. Ada hal-hal yang tidak bisa ia bagikan kepada orang lain.
Seperti halnya sebuah foto yang bisa diambil dari berbagai angle, setiap manusia bisa memiliki banyak sisi yang berbeda. Adakalanya, satu sisi nyaman untuk dibagikan ke publik, sementara sisi yang lain cukup untuk diketahui oleh beberapa orang terdekat saja. Menurut saya, tidak ada yang salah dengan hal itu. Menyimpan sebagian sisi kehidupan kita dari sorotan publik pun tidak lantas menjadikan kita sebagai seorang pembohong.
Lalu apakah itu artinya kita sedang menjadi orang lain di media sosial?
Belum tentu. Seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, bisa berbagi di media sosial bukan berarti kita harus membagikan semuanya. Dari kasus yang saya sebutkan di awal tadi, kita juga bisa melihat bahwa informasi pribadi yang dibagikan ke ruang publik dapat membawa konsekuensi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ini mengingatkan kita pada kata pepatah zaman dulu: 'mulutmu harimaumu', yang sekarang bisa pula menjadi 'ketikanmu harimaumu'. Sebab apa pun yang kita bagikan secara digital ke ranah publik, pada akhirnya akan menjadi jejak yang sulit untuk dihilangkan.
Oleh karena itu, rasanya wajar jika banyak orang yang hanya menunjukkan sebagian sisi kehidupannya saja di media sosial, seperti momen bahagia, pencapaian, atau hal lain yang dirasa bisa menjadi konsumsi publik. Dan mungkin di sinilah, memakai “topeng” yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang negatif justru bisa membantu seseorang menentukan batas privasinya dan melindungi diri dari penilaian maupun akses berlebihan dari orang lain ke dalam hidupnya.
Kembali lagi ke poin yang saya sebutkan sebelumnya, hanya menunjukkan sebagian diri di media sosial bukan berarti kita sedang berbohong atau menjadi orang lain. Kadang hal itu adalah cara bagi kita untuk membuat privasi tetap terjaga di era ketika semua bisa dibagikan. Menjadi diri sendiri bukan berarti kita harus terbuka sepenuhnya. Seseorang tetap bisa jujur sekaligus mempunyai batas privasi yang memang perlu untuk dijaga. Justru, di zaman sekarang ini, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami mana yang memang bisa dibagikan dan mana yang lebih baik tetap disimpan.
Bagaimanapun, media sosial pada akhirnya hanyalah tempat kita melihat sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita mungkin bisa mengenalnya melalui apa yang ia bagikan, tetapi untuk benar-benar memahami kehidupan dan dirinya secara utuh, tentu tidak cukup hanya dengan melihat profil media sosialnya.
Baca Juga
-
Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Bikin Senyum-Senyum Sendiri tapi Berujung Luka, Ini 5 Drakor Romantis yang Susah Banget Dilupain!
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
Artikel Terkait
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Cara Memeriksa Izin Aplikasi Android agar Privasi Lebih Terjaga, Cegah Datamu Dijual ke Pengiklan!
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Di Rumah atau Dirumah? Kesalahan Sepele yang Terus Berulang di Media Sosial
Kolom
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
Terkini
-
CL 2NE1 Dikabarkan dalam Pembicaraan Bergabung dengan THEBLACKLABEL
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min