Sebagai orang Indonesia, kita tumbuh dengan nasihat untuk selalu bersyukur, termasuk ketika membahas soal pekerjaan.
Gaji kecil? Bersyukur, masih banyak yang tidak punya penghasilan. Jam kerja panjang? Namanya juga cari pengalaman. Tidak betah dengan lingkungan kerja? Dibilang tidak kuat bekerja.
Bahkan ketika seseorang memutuskan resign karena merasa pekerjaannya tidak layak, masih ada saja yang mempertanyakan rasa syukurnya karena mencari pekerjaan dianggap sulit.
Masalahnya, rasa syukur dan memperjuangkan hak bukan dua hal yang saling bertentangan. Seseorang bisa menghargai pekerjaannya sekaligus mengeluh bahwa gaji, beban kerja, atau perlakuan yang diterimanya tidak sesuai.
Di sinilah crab mentality muncul dalam dunia kerja, yaitu ketika pekerja yang ingin keluar dari kondisi buruk justru dicibir oleh sesama pekerja.
Fenomena Crab Mentality dalam Dunia Kerja
Crab mentality menggambarkan situasi ketika seseorang berusaha menarik kembali orang lain yang sedang berusaha keluar dari kondisi yang sama.
Analogi ini berasal dari perilaku kepiting, ketika salah satunya mencoba keluar dari wadah, kepiting lain justru menariknya kembali.
Menurut Psychology Today, perilaku tersebut merepresentasikan kecenderungan untuk menghambat kesuksesan orang lain karena iri atau kepentingan pribadi.
Dalam dunia kerja, contohnya sering kita temui. Ketika seorang pekerja mengeluhkan gaji yang tidak sepadan, menolak jam kerja berlebihan, atau memilih resign karena merasa tidak cocok, ia tidak selalu mendapat dukungan dari sesama pekerja.
Di sinilah crab mentality menjadi menarik untuk dibahas. Alih-alih mempertanyakan mengapa kondisi kerja tersebut buruk, pekerja yang mencoba keluar justru dianggap sebagai pihak yang bermasalah.
Ketika Bersyukur Menjadi Alasan untuk Menerima
Di masyarakat kita, mendapatkan pekerjaan sering kali diposisikan sebagai sesuatu yang harus disyukuri tanpa banyak syarat. Kalau merasa tidak cocok, resign, atau mengeluh soal upah, maka dianggap kufur nikmat atau terlalu banyak menuntut.
Padahal, mendapatkan pekerjaan yang layak adalah hak yang patut diperjuangkan. Pekerja berhak mendapatkan upah yang sepadan, beban kerja yang masuk akal, lingkungan kerja yang sehat, serta perlakuan yang manusiawi.
Masalahnya, standar pekerjaan yang layak sering kali justru ditentukan dengan membandingkannya dengan kondisi yang lebih buruk.
Gaji rendah dianggap masih lumayan karena ada yang tidak bekerja. Jam kerja panjang dianggap wajar karena ada yang bekerja lebih lama. Ketika seseorang mengeluh, ia kembali diingatkan bahwa masih banyak orang yang bersedia berada di posisinya.
Ironisnya, cara pandang tersebut tidak hanya dipertahankan oleh perusahaan, tetapi juga oleh sesama pekerja.
Ketika Pekerja Ikut Mempertahankan Eksploitasi
Menurut saya, inilah bagian paling menyedihkan dari fenomena tersebut. Eksploitasi tidak hanya terjadi karena perusahaan memiliki kekuasaan. Nyatanya, banyak pekerja yang menormalisasi hal ini.
Pengalaman bertahan dalam kondisi kerja yang buruk sering kali dijadikan ukuran untuk menilai pekerja lain. Padahal, kemampuan seseorang untuk bertahan tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa kondisi tersebut layak dipertahankan.
Seseorang mungkin mampu bekerja belasan jam sehari atau upah yang kecil karena tidak punya pilihan lain. Tetapi, bukan berarti sistem kerja seperti itu kemudian layak dijadikan standar.
Di titik ini, crab mentality bukan lagi sekadar iri terhadap keberhasilan orang lain. Dalam dunia kerja, fenomena ini memunculkan keinginan agar orang lain mengalami kesulitan yang sama karena pengalaman sendiri dijadikan tolok ukur.
Kalau saya dulu harus bekerja keras dengan gaji kecil, kamu juga harus begitu. Kalau saya dulu tidak bisa protes kepada atasan, kamu juga jangan banyak menuntut. Kalau saya dulu bertahan meski tidak nyaman, kamu juga harus bertahan.
Padahal, bukankah seharusnya pengalaman buruk menjadi alasan untuk memperbaiki keadaan, bukan diwariskan kepada pekerja berikutnya?
Bersyukur memang sangat dianjurkan. Menghargai pekerjaan juga penting. Namun, rasa syukur seharusnya tidak dijadikan tameng untuk menormalisasi eksploitasi di dunia kerja.
Baca Juga
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Please Dont Date Him: Membongkar Red Flag Pasangan Lewat Kulkas Pintar
-
Tell Me What You Saw: Memburu Pembunuh Berantai Lewat Photographic Memory
-
Dunning-Kruger Effect: Matinya Kepakaran Akibat Penguasa yang Anti Kritik
-
Ulasan Sweet Munchies: Cinta Segitiga yang Berawal dari Dapur Restoran
Artikel Terkait
-
Kepercayaan dan Kolaborasi Jadi Fondasi Utama Dunia Kerja
-
Daftar Shio Paling Disukai Atasan karena Kerja Cepat dan Jujur
-
KSOS Sebut Ojol Pekerja Mandiri, Pengamat: Jangan Abaikan Aspirasi Pengemudi
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Perusahaan Diminta Tak Cuma Andalkan Awareness untuk Hadapi Serangan Siber
Kolom
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
-
Bisingnya Knalpot RX King: Mempertanyakan Ulang 'Hak Atas Kota' Warga Jogja
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
Terkini
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis
-
Ulasan Your Lie in April: Tentang Belajar Hidup sebelum Semuanya Terlambat
-
Ulasan Flex x Cop 2: Aksi Detektif Sultan yang Makin Seru dan Menarik
-
Drama Perkara Busi: Jangan Suruh Orang Beli Suku Cadang Tanpa Catatan Spesifik!