Kalau saya perhatikan linimasa media sosial belakangan ini, tiap kali ada warganet yang menjerit karena harga beras melambung, harga telur dan daging makin tidak terjangkau, atau sekadar mengeluhkan gaji bulanan yang cuma numpang lewat, selalu saja muncul barisan komentar nyinyir yang datang menyuruh mereka untuk frugal living.
Menyuruh orang yang gajinya cuma cukup buat menyambung napas untuk hidup hemat itu bukan cuma tidak masuk akal, tapi bentuk menyebarkan miskonsepsi frugal living yang amat fatal.
Ketika keluhan soal mahalnya kebutuhan pokok dan rendahnya upah justru dibalas dengan instruksi untuk prihatin, kita sebenarnya sedang menyaksikan upaya menormalisasi kemiskinan.
Ketika Hemat Lahir dari Pilihan, Bukan Keterpaksaan
Banyak yang tidak sadar kalau frugal living itu sejatinya adalah pilihan bebas, bukan paksaan. Orang-orang yang menjalankan gaya hidup ini biasanya sudah punya keuangan yang stabil.
Mereka memilih hemat bukan karena tidak punya uang, tapi karena ada tujuan besar yang ingin dicapai, seperti pensiun lebih cepat atau mengejar financial freedom. Mereka punya tabungan dan dana darurat yang aman. Jadi, misal besok mereka memutuskan untuk tidak hemat lagi, hidup mereka akan baik-baik saja.
Kondisi ini beda jauh dengan realita pekerja bergaji pas-pasan. Kalau orang gajinya habis hanya untuk kebutuhan dasar, berhemat itu bukan lagi pilihan gaya hidup, melainkan cara bertahan hidup (survival mode). Menyamakan kondisi tersebut adalah hal yang sangat tidak sebanding.
Kekeliruan menyamakan dua kondisi ini akhirnya melahirkan standar moral yang aneh di masyarakat. Orang yang sedang susah secara ekonomi malah dipaksa merasa bangga atas penderitaan mereka.
Padahal, hemat karena terdesak keadaan itu cuma bakal bikin stres dan menurunkan kualitas hidup, bukan bikin keuangan makin stabil seperti yang sering diomongkan konten-konten edukasi finansial di internet.
Bahaya Romantisasi Kemiskinan di Ruang Digital
Miskonsepsi ini makin parah ketika media sosial hobi membungkus kemiskinan menjadi sesuatu yang estetik. Konten-konten yang memamerkan aksi bertahan hidup dengan budget yang tidak masuk akal sering kali panen pujian dan viral.
Efeknya, fokus publik malah bergeser. Alih-alih mempertanyakan kenapa ketimpangan ekonomi makin melebar, orang-orang justru takjub melihat betapa tahan bantingnya seseorang hidup di tengah keterbatasan.
Gaya meromantisasi kesusahan ini pelan-pelan menumpulkan daya kritis kita. Saat hidup prihatin dianggap sebagai ukuran kemuliaan moral, orang yang menuntut hak dasar seperti upah yang layak, harga pangan yang terjangkau, atau jaminan sosial, malah dicap kurang bersyukur.
Ungkapan klise seperti "yang penting masih bisa makan" akhirnya dipakai untuk memaklumi kondisi kerja yang tidak manusiawi serta standar hidup yang terus merosot dari tahun ke tahun.
Dampak panjangnya tentu berbahaya bagi mental anak muda. Alih-alih berjuang menuntut sistem sosial yang lebih adil atau fokus memperbaiki nasib, mereka justru dicecoki keyakinan bahwa satu-satunya cara keluar dari himpitan ekonomi adalah dengan terus menekan pengeluaran dan memangkas jatah makan sendiri.
Pengalihan Isu dari Kegagalan Sistemik ke Kesalahan Individu
Bahaya paling besar dari maraknya sentilan menyuruh prihatin ini adalah bergesernya tanggung jawab yang sebenarnya. Masalah seperti melonjaknya harga bahan pokok dan upah yang jalan di tempat itu murni persoalan kebijakan publik dan struktur ekonomi.
Tapi, begitu isu ini sampai di media sosial, arah pembicaraan langsung dibelokkan seolah-olah itu adalah masalah kecerobohan individu dalam mengatur uang.
Negara dan para pembuat kebijakan pun seolah-olah mendapat tempat perlindungan gratis berkat narasi tersebut. Saat harga pangan melonjak tak terkendali dan lapangan kerja makin surut, masyarakat justru sibuk mendebatkan cara menghemat uang belanja dapur.
Jika masalah mahalnya biaya hidup cukup diselesaikan dengan cara mengurangi pengeluaran, kehadiran negara dan pembuat kebijakan sama sekali tidak ada gunanya. Hidup prihatin karena keterpaksaan bukanlah sebuah prestasi yang patut dibanggakan atau disebarluaskan sebagai tren.
Baca Juga
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
-
BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,47%: Mengapa Dapur Rakyat Justru Makin Tercekik?
-
Eccentric! Chef Moon: Saat Kuliner Pedesaan Sembuhkan Dua Jiwa yang Patah
Artikel Terkait
-
Biaya Hidup Makin Mahal, Harga Pangan dan BBM jadi Sorotan
-
Negara Sibuk Mengubah Angka, Rakyat Masih Bergelut dengan Masalah
-
Wamensos Dorong Pengentasan Kemiskinan Berkelanjutan, KPM Graduasi Tak Kembali Miskin
-
Mengungkap Wajah Kelam Kemiskinan dan Ketidakadilan di Buku Oliver Twist
-
Bukti Biaya Hidup Warga RI Naik
Kolom
-
Jokowi Beberkan Ijazah Asli di Sidang, Roy Suryo Malah Tertawa: Bisa Dipidana Jika Tudingan Meleset?
-
Fenomena Blind Box: Antara Sensasi Kejutan hingga Risiko Perilaku Konsumtif
-
Serangga Hutan Terancam Karhutla padahal Punya Dampak bagi Ekosistem
-
Maraknya Demonstrasi Mahasiswa Hari Ini dan Kenangan Masa Lalu Saya
-
Polemik Spanduk Karhutla Oki Rengga: Riuh Simbolis, Korban Malah Terlupakan
Terkini
-
Review Merry Berry Love: Kisah Cinta Desainer Korea dan Petani Stroberi
-
Penuh Kehangatan, Mark Lee Ungkap Arti Kebahagiaan Sejati di Lagu Happiest
-
The Enchanted Garden 2: Petualangan Seru Menyelamatkan Kebun Ajaib!
-
Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?