Niat membantu korban bencana mestinya menyisakan kesan positif. Sayangnya, hal itu tak berlaku bagi Ria Ricis saat menyambangi lokasi karhutla di Kalimantan. Padahal ia sudah ikut membagikan air bersih hingga memadamkan api bersama para relawan, tetapi sorotan publik justru tertuju pada hal lain.
Pemicunya adalah unggahan pribadinya di platform Threads. Ricis mengunggah foto dirinya di tengah lokasi yang diselimuti kabut asap pekat dengan caption "Kidzania 2026".
Membandingkan lokasi bencana yang merenggut napas warga dengan nama tempat rekreasi anak-anak mendadak menyulut kemarahan warganet yang menilai seloroh itu sangat nirempati.
Meski postingan tersebut sudah di-take down, kemarahan warganet masih berlanjut. Publik terlanjur melihat ada batas etika yang sengaja dilanggar. Lantas, di mana sebetulnya batas etika seorang kreator ketika bencana alam justru dijadikan bahan candaan demi konten?
Niat Mulia yang Tersandung Kebutuhan Konten
Hal ini bermula ketika seorang warganet melontarkan sindiran pedas di kolom komentar postingan Ria Ricis saat ikut memadamkan kebakaran hutan bersama para relawan, menuding bahwa keberadaannya di sana hanya untuk ngonten.
"Kata gua lu awas si, ngonten lu terlalu ganggu orang kerja. orang pada nanggulangin bencana, lu kayak lagi di Kidzania," tulis netizen.
Alih-alih mengabaikannya atau menanggapinya dengan serius, Ricis justru membalas sindiran itu dan membawa frasa tersebut ke dalam caption unggahannya, membandingkan pekatnya kabut asap Kalimantan dengan wahana Kidzania.
Bagi sebagian kreator, membalas komentar pedas dengan nada seloroh atau sarkasme mungkin dianggap cara gampang untuk mencairkan suasana atau menunjukkan mental kebal.
Sayangnya, seloroh balasan yang niatnya mungkin untuk berkelit itu langsung kehilangan konteks saat disandingkan dengan penderitaan warga asli yang sedang kesusahan.
Di sinilah pentingnya kemampuan untuk read the room. Ada batas-batas situasi di mana candaan sinis dan balas-balasan komentar di media sosial sama sekali tidak pada tempatnya, terutama di tengah krisis yang merenggut napas dan kesehatan banyak orang.
Saat Hasrat Bikin Konten Menumpulkan Nurani
Arus informasi di media sosial yang serba cepat menuntut para pembuat konten untuk selalu tampil responsif. Akibat kebiasaan oversharing, batas kewajaran jadi kabur. Apa pun, termasuk musibah orang lain, akhirnya dianggap sah-sah saja untuk dijadikan bahan candaan.
Kebiasaan ini lama-kelamaan mematikan kepekaan sosial. Saat seseorang terbiasa melihat segala hal lewat lensa kamera, rasa empati yang tulus sering kali kalah cepat dibanding hasrat mencuri perhatian penonton. Bencana alam yang semestinya disambut dengan duka dan rasa prihatin justru dipelintir jadi lelucon.
Bagi warga lokal yang tiap hari harus menghirup udara beracun demi bertahan hidup, hal itu sama sekali tidak lucu. Menyamakan situasi darurat dengan tempat bermain anak justru sangat melukai hati karena merendahkan penderitaan nyata menjadi sekadar candaan receh. Ini murni soal tumpulnya rasa tenggang rasa terhadap kesusahan orang lain.
Menata Ulang Standar Moral Content Creator
Kasus semacam ini semestinya jadi tamparan keras buat ekosistem industri kreatif. Dengan pengikut yang mencapai jutaan, apa pun yang dilakukan figur publik bakal membentuk standar perilaku di masyarakat. Jadi, tanggung jawab moralnya tidak cukup diselesaikan cuma dengan menghapus postingan.
Tindakan take down unggahan mungkin bisa bikin situasi adem untuk sementara, tapi masalah utamanya tidak bisa selesai begitu saja. Itu cuma cara instan untuk menutupi kepanikan, bukan bukti kalau mereka benar-benar paham letak kesalahannya dalam membingkai sebuah musibah.
Sudah waktunya para kreator tahu batasan, mana ranah hiburan dan mana ruang kemanusiaan. Jangan semua kejadian diubah jadi komoditas, apalagi menjadikan tempat orang menderita sebagai bahan candaan demi mendulang penonton.
Baca Juga
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
-
BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,47%: Mengapa Dapur Rakyat Justru Makin Tercekik?
-
Eccentric! Chef Moon: Saat Kuliner Pedesaan Sembuhkan Dua Jiwa yang Patah
-
Sadar Finansial vs FOMO Kuliner: Refleksi Realita Ekonomi Anak Muda
Artikel Terkait
-
Dituding Larang Suporter Pasang Spanduk Karhutla, Oki Rengga Ungkap Deal-dealan yang Ditawarkan
-
Gugur Saat Padamkan Karhutla di Seruyan, Kapten Nurhafiz Dimakamkan Secara Militer
-
Komnas HAM: Karhutla Berpotensi Langgar Delapan Hak Warga, Anak dan Lansia Paling Rentan
-
Ratusan Tersangka Ditetapkan, Tapi Penegakan Hukum Karhutla Belum Berpihak ke Masyarakat
-
Momen Pemakaman Prajurit TNI yang Gugur dalam Operasi Karhutla
Kolom
-
Terkenal Tanpa Karya: Ketika Sensasi Lebih Laku daripada Prestasi
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
-
Ketika Statistik Terlihat Indah, Benarkah Pengangguran Kita Berkurang?
-
Belajar Menelaah Kejamnya Realita Dunia Kerja melalui Perpisahan CR7 dengan Timnas Portugal
-
BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,47%: Mengapa Dapur Rakyat Justru Makin Tercekik?
Terkini
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
New BIONS by BNI Sekuritas: Mengenal Investasi Saham dengan Lebih Mudah
-
Sinopsis Trinity, Serial tentang Ancaman Nuklir dan Konspirasi Global
-
Review Lupin Part 4: Kolaborasi Teknologi Modern dan Trik Penyamaran Klasik
-
Bukan Cuma Melindungi, 4 Dark Spot Sunscreen yang Bikin Warna Kulit Merata