M. Reza Sulaiman | Shabrina Hanani
Desa Kemiren di Banyuwangi menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Dok. Kemiren)
Shabrina Hanani

Ada desa-desa yang hidup karena keindahan alamnya. Ada pula desa yang menjadi istimewa karena memiliki budaya yang terus dijaga oleh masyarakatnya. Desa Kemiren di Banyuwangi, Jawa Timur, adalah salah satunya. Di desa ini, budaya Osing bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tradisi seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, kuliner lokal, musik tradisional, hingga arsitektur khas Osing masih menjadi bagian dari identitas Desa Kemiren. Karena kekayaan tersebut, Kemiren dapat dipandang sebagai sebuah “living museum” bagi masyarakat Osing, tempat sejarah dan kehidupan modern berjalan berdampingan.

Namun, menjaga budaya tentu tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi. Di balik sebuah desa wisata, terdapat kehidupan masyarakat yang juga harus tumbuh. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang baik, masyarakat membutuhkan layanan kesehatan, lingkungan perlu dijaga, sementara pelaku usaha membutuhkan kesempatan untuk berkembang.

Di titik inilah sosok penggerak lokal seperti Kang Edai memiliki peran penting. Kehadiran seorang local champion menjadi salah satu komponen utama keberhasilan Desa Sejahtera Astra karena program tidak hanya membutuhkan potensi desa, tetapi juga tokoh penggerak dan kelembagaan masyarakat yang mampu memastikan keberlanjutannya.

Sejak 2024, Astra melalui program Desa Sejahtera Astra mulai melakukan pendampingan di Desa Kemiren. Pendampingan tersebut tidak hanya diarahkan pada pengembangan wisata, tetapi mencakup empat bidang yang saling berkaitan: kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Dari Kesehatan Hingga Pendidikan

Pembangunan desa tidak akan berarti tanpa masyarakat yang sehat. Karena itu, salah satu bentuk pendampingan di Kemiren dilakukan melalui penguatan Posyandu, penyediaan sarana kesehatan dasar, dukungan terhadap kesehatan ibu dan anak, serta edukasi kesehatan masyarakat.

Perhatian terhadap pendidikan juga menjadi bagian penting. PAUD Desa Kemiren diperkuat melalui sarana belajar dan alat permainan edukatif, dukungan kegiatan pembelajaran, serta pengenalan budaya lokal kepada generasi muda. Pendidikan dengan demikian tidak hanya menjadi proses belajar di dalam kelas, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan identitas dan warisan budaya kepada anak-anak sejak dini.

Bagi sebuah desa yang memiliki kekayaan budaya seperti Kemiren, hal tersebut menjadi sangat penting. Tradisi tidak akan bertahan hanya karena generasi sebelumnya menjaganya. Ia harus dikenalkan kepada generasi berikutnya agar anak-anak merasa memiliki dan memahami nilai yang ada di balik budaya tersebut.

Menjaga Budaya, Menjaga Lingkungan

Kemajuan desa wisata juga membutuhkan lingkungan yang terjaga. Karena itu, Desa Sejahtera Astra Kemiren mengembangkan berbagai kegiatan lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah organik dan nonorganik, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik, pembentukan kelompok sadar lingkungan, hingga pengembangan biogas.

Terdapat dua tempat biogas yang telah dibangun sebagai bagian dari upaya menginisiasi pariwisata berkelanjutan. Masyarakat juga didorong untuk memperhatikan proses recycle dan pengelolaan residu sampah nonorganik.

Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata tidak semestinya hanya berbicara tentang semakin banyak wisatawan yang datang. Desa juga perlu memastikan bahwa lingkungan tempat masyarakat hidup tetap terjaga.

Ketika Budaya Membuka Peluang Ekonomi

Salah satu dampak paling nyata dari berkembangnya Desa Wisata Adat Osing Kemiren adalah munculnya berbagai peluang ekonomi bagi masyarakat.

Saat ini terdapat 50 homestay dengan total 92 kamar yang dikelola masyarakat. Selain itu, terdapat sekitar 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi. Aktivitas wisata juga didukung oleh 40 anggota Pokdarwis yang berperan dalam pengelolaan desa wisata sekaligus pelestarian budaya Osing.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata dapat menjadi ruang pemberdayaan masyarakat ketika masyarakat lokal ditempatkan sebagai pelaku utama.

Dampaknya juga terlihat dari peningkatan pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis. Pendapatan mereka meningkat sekitar 33 persen, dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Dalam periode 2024–2026, Kemiren juga secara konsisten menerima lebih dari 3.000 kunjungan wisatawan setiap tahunnya, baik domestik maupun mancanegara.

Di sinilah makna pemberdayaan menjadi terasa. Budaya yang dahulu mungkin hanya dipandang sebagai warisan, kini dapat menjadi sumber pengetahuan, identitas, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Dari Kemiren untuk Indonesia

Pendampingan Desa Sejahtera Astra telah menjangkau sekitar 300 masyarakat di Kemiren. Dampaknya tidak berhenti pada sektor pariwisata, tetapi menyentuh kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Kemiren juga telah memperoleh berbagai apresiasi di bidang pariwisata dan budaya, termasuk Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia, ASEAN Tourism Award 2025, serta terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025.

Namun, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat tetap menjadi pemilik dan penggerak perubahan.

Kisah Kang Edai dan masyarakat Kemiren memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak harus mengorbankan identitas lokal. Sebaliknya, kearifan lokal dapat menjadi fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Kemiren menunjukkan bahwa budaya dan kemajuan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Ketika budaya dirawat, pendidikan diperkuat, kesehatan diperhatikan, lingkungan dijaga, dan masyarakat diberdayakan secara ekonomi, sebuah desa dapat tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya.

Pada akhirnya, kesejahteraan desa bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang atau berapa banyak penghargaan yang diterima. Kesejahteraan adalah ketika masyarakat mampu berdiri sebagai pelaku utama, ketika generasi muda mengenal akar budayanya, ketika lingkungan tetap lestari, dan ketika tradisi yang diwariskan leluhur mampu membuka jalan menuju masa depan.

Kemiren memberi satu pelajaran penting: budaya yang hidup bersama masyarakat bukan hanya sesuatu yang patut dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi kekuatan untuk menggerakkan kesejahteraan.

Baca Juga