Lintang Siltya Utami | Sherly Azizah
ilustrasi ChatGPT [pexels/Shantanu Kumar]
Sherly Azizah

Hari itu, saya baru saja menyelesaikan draf tulisan dan analisis sederhana yang memakan waktu hampir seharian penuh. Dengan perasaan sedikit bangga, saya mencoba memasukkan prompt serupa ke dalam salah satu alat Kecerdasan Buatan (AI) hanya untuk melihat perbandingannya.

Hasilnya? Dalam hitungan detik, layar monitor saya menampilkan hasil analisis yang rapi, terstruktur, dan bahkan memuat poin-poin yang lupa saya pikirkan. Di detik itu juga, rasa bangga saya seketika seketika dan digantikan oleh sensasi dingin di tengkuk.

Sebagai seorang fresh graduate yang baru saja mau menapaki langkah awal di dunia kerja, pikiran buruk langsung berkecamuk: jika mesin bisa mengerjakan tugas entry-level sejuta kali lebih cepat dan efisien, untuk apa perusahaan yang menyewa orang seperti saya?

Keresahan ini mendorong saya menyelami literatur dalam Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi, yang mengulas betapa cepatnya mengganggu AI merombak peta kebutuhan tenaga kerja, khususnya pada posisi-posisi pemula yang berdasarkan tugas teknis harian.

Pernahkah Anda merasa bahwa semua keterampilan yang Anda pelajari dengan susah payah selama bertahun-tahun di bangku kuliah tiba-tiba terasa usang dan tidak adakah harganya di hadapan teknologi?

Jika perasaan kerdil itu pernah singgah, Anda tidak sendirian. Kita sedang menyaksikan transisi sosial paling ekstrem dalam sejarah pasar kerja modern.

Dulu, seorang lulusan baru dituntut untuk menguasai keterampilan teknis dasar seperti menyusun data, membuat draf tulisan, merancang desain sederhana, atau melakukan coding tingkat dasar sebagai tiket masuk dunia kerja. Hari ini, seluruh tugas dasar tersebut dapat dieksekusi oleh AI dalam hitungan detik dengan biaya yang jauh lebih murah. Fenomena ini menciptakan kecemasan massal (AI kegelisahan) bagi generasi muda yang baru melangkah dari gerbang kelulusan.

Bila kita meneropong konteks sosial yang lebih luas melalui berbagai laporan penelitian ketenagakerjaan, ketakutan akan disrupsi teknologi ini bukan sekadar paranoia tanpa alasan. Banyak perusahaan mulai meefisienkan efisiensi operasional mereka.

Posisi-posisi magang atau entry-level yang biasanya menjadi kawah candradimuka bagi pemula untuk menimba pengalaman, kini porsinya mulai mengecil karena dialihkan ke sistem otomatis. Dampaknya, standar masuk dunia kerja menjadi sangat tinggi secara tidak rasional. Anak muda dituntut langsung memiliki kemampuan berpikir strategi dan analisis tingkat tinggi sejak pertama kali bekerja, sebuah kualifikasi yang ironisnya sulit didapat tanpa pengalaman lapangan terlebih dahulu.

Secara pribadi, saya memandang kecemasan ini timbul karena kita memosisikan diri sebagai "pesaing" bagi AI. Kita mencoba bertanding di arena yang salah: mengadu kecepatan dan ketelitian teknis melawan mesin yang memang dirancang tanpa lelah.

Padahal, jika kita jujur melihat hakikat manusia, AI tidak memiliki empati, intuisi, kesadaran konteks sosial, kecerdasan emosional, serta kedalaman rasa yang menjadi roh utama dari setiap karya dan keputusan besar. Menganggap AI sebagai musuh yang harus dikalahkan hanya akan menguras energi dan mengikis rasa percaya diri kita.

Sudut pandang ini perlu kita ubah secara radikal: alih-alih panik karena takut tergantikan, kita harus belajar menjadikan AI sebagai asisten pribadi yang melipatgandakan produktivitas kita. AI adalah alat bantu, bukan pengemudi utama.

Nilai tawar seorang fresh graduate hari ini tidak lagi diukur dari seberapa banyak tugas teknis yang bisa diselesaikan secara manual, melainkan seberapa banyak ia mengarahkan AI (prompting), menguras hasilnya secara kritis, dan tidak memberikan sentuhan kemanusiaan pada output tersebut.

Keberadaan AI tidak pernah benar-benar mematikan masa depan karir kita, melainkan menaikkan standar kualitas diri kita sebagai manusia. Mesin mungkin bisa menyelesaikan tugas dalam lima detik, tetapi ia tidak akan pernah bisa menggantikan ide kreatif, empati, dan keunikan cara pandang yang Anda miliki. Jadi, saat nanti Anda membuka layar ponsel atau laptop yang menampilkan kecanggihan AI, maukah Anda berhenti merasa terancam dan mulai mengajaknya bekerja sama untuk membangun karier Anda sendiri?