Pernahkah kamu berniat membuka media sosial sebentar hanya untuk memeriksa pesan masuk, tetapi tanpa sadar justru tenggelam selama berjam-jam membaca berita bencana, konflik politik, atau krisis ekonomi yang tak ada habisnya?
Semalam, seorang teman dekat menghubungi saya via pesan singkat. Dia mengaku belakangan ini sulit tidur nyenyak. Matanya lelah, dadanya terasa sesak, dan ada perasaan gundah yang sulit dia jelaskan.
"Saya cuma pengin tetap up-to-date sama isu yang lagi ramai, Bro. Tapi makin dibaca, kok rasanya dunia ini makin suram dan enggak ada harapan, ya?" curhatnya panjang lebar.
Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata kebiasaan malamnya selalu sama: berbaring di atas kasur sambil menelusuri (scrolling) deretan konten berita buruk, narasi bencana, hingga perdebatan politik di lini masa media sosial hingga larut malam.
Fenomena yang dialami teman saya ini punya nama ilmiah yang sangat populer: doomscrolling. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk terus-menerus mengonsumsi berita atau informasi negatif di internet, meskipun informasi tersebut memicu kecemasan, rasa takut, hingga keputusasaan.
Menariknya, jika kita bedah dari sudut pandang lintas generasi, fenomena ini melahirkan dinamika yang cukup kontras. Bagi banyak anak muda atau Gen Z, kebiasaan menelusuri berita negatif dianggap sebagai bentuk kepedulian sosial (social awareness). Ada rasa bersalah (guilt) jika sampai tidak tahu atau mengabaikan krisis yang sedang terjadi di luar sana. Mengisolasi diri dari berita buruk sering kali dicap sebagai bentuk ketidakpedulian atau sikap apatis.
Namun, di mata generasi orang tua kita, kebiasaan ini sering dianggap sebagai perilaku yang dicari-cari. "Lagian, ngapain sih dibaca terus? Bikin pikiran tidak tenang saja," begitu biasanya nasihat yang sering kita dengar dari orang tua.
Lantas, bagaimana kita menilainya secara objektif? Apakah doomscrolling ini murni bentuk kesadaran sosial yang patut diapresiasi, atau justru kebiasaan destruktif yang harus segera dihentikan?
Secara neurologis dan psikologis, otak manusia memang memiliki apa yang disebut sebagai negativity bias—kecenderungan alami untuk lebih memperhatikan ancaman atau informasi negatif dibanding hal positif demi bertahan hidup. Masalahnya, algoritma media sosial modern memanfaatkan bias alami ini secara maksimal. Konten yang memicu amarah, ketakutan, dan rasa cemas terbukti mendatangkan engagement paling tinggi, sehingga layar HP kita terus disuapi narasi yang suram.
Dampak negatif dari kebiasaan ini bukanlah sekadar asumsi belaka. Dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental dijelaskan secara komprehensif dalam jurnal Doomscrolling Scale: its Association with Personality Traits, Psychological Distress, Social Media Use, and Wellbeing, yang menemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara obsesif terbukti berkorelasi signifikan dengan peningkatan gejala kecemasan sistemik, gangguan tidur, serta penurunan tingkat kesejahteraan psikologis seseorang secara keseluruhan.
Penelitian tersebut mempertegas bahwa ketika kita terus-menerus menjejali otak dengan informasi krisis tanpa batas, tubuh kita meresponsnya seolah-olah kita sedang berada dalam bahaya fisik yang nyata. Hormon stres seperti kortisol diproduksi secara berlebihan, memicu kelelahan emosional yang berujung pada perasaan tidak berdaya (learned helplessness).
Di sinilah letak ironinya. Niat awal kita menelusuri berita buruk adalah agar bisa berempati dan bertindak. Namun, jika doomscrolling sudah membuat mental kita lelah dan putus asa, kita justru kehilangan energi untuk melakukan aksi nyata di dunia fisik. Kepedulian yang diniatkan malah berubah menjadi kelumpuhan emosional.
Tentu, ini bukan berarti kita harus menutup mata total dari realitas dunia dan hidup dalam gelembung ketahuian yang naif. Informasi tetap penting, tetapi batasannya harus tegas. Ada perbedaan mendasar antara stay informed (tetap terinformasi) dan doomscrolling (tenggelam dalam negativitas).
Kita bisa mulai membatasi waktu konsumsi berita, mematikan notifikasi aplikasi yang memicu stres saat malam hari, serta memprioritaskan aksi nyata di sekitar kita dibanding sekadar memandangi tragedi lewat layar kaca 6 inci. Menjaga kesehatan mental sendiri bukanlah tindakan egois, melainkan fondasi utama agar kita tetap punya energi positif untuk peduli pada orang lain.
Jadi, ketika jempolmu mulai tak bisa berhenti menelusuri lini masa malam ini, cobalah bertanya pada diri sendiri: apakah informasi ini membuatmu lebih bijak, atau justru hanya mengikis ketenangan jiwamu?
Baca Juga
-
Review Terbelah Jadi Dua dan Alasan Kita Senang Menyiksa Diri Lewat Lagu
-
Mendengar Sure Thing: Bukti Kalau Lagu Bagus Tak Punya Kedaluwarsa
-
Tak Semudah Hompimpa: Nostalgia yang Berujung Nyesek di Playlist Galau
-
Gaji Luar Biasa, Jiwa Nelangsa: Derita Ikut Pilihan Karier Orang Tua
-
Mengejar DP Rumah vs Beli Pengalaman: Mengapa Gen Z Memilih Realistis?
Artikel Terkait
-
Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja
-
Feed yang Membentuk Isi Dompet: Efek Budaya Flexing pada Perilaku Konsumsi
-
Seni Mematikan Notifikasi: Saat Ketenangan Menjadi Kemewahan Baru bagi Gen Z
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?
-
Kepala BGN Ungkap Fakta Mengejutkan: Mayoritas Isu Medsos Digerakkan oleh Akun Bot!
Kolom
-
Ketika Data PISA Berbicara, Narasi Keberhasilan Pendidikan Dipertanyakan
-
Koneksi vs Kualifikasi: Apa yang Sebenarnya Menentukan Peluang Kerja?
-
Ketangguhan UMKM dan Negara yang Terlalu Nyaman dengan Krisis
-
Ombudsman Sidak Mendadak, Lapas Cibinong Bikin Publik Terbelalak
-
Career Break bagi Perempuan: Jeda Karier atau Tanda Kehilangan Arah?
Terkini
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh
-
4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak
-
Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health
-
Sinopsis Between Steps: Cinta di Tengah Dunia Robotika, Tayang 5 Oktober