Kita pasti pernah, sekali atau dua kali dalam hidup, merasa harus melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena takut orang lain tidak menyukainya.
Mau mengunggah foto, tapi berkali-kali memikirkan apakah orang akan menyukai postingan tersebut. Mau memilih pekerjaan tertentu, tetapi kemudian membandingkannya dengan pencapaian teman. Bahkan dalam mengambil keputusan sederhana, kita sering kali bertanya, “Menurut orang lain, ini bagus nggak?”
Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi media sosial dan budaya validasi, menjadi diri sendiri ternyata bukan perkara sederhana.
Hal inilah yang membuat buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga terasa masih sangat relevan. Buku ini mengajak pembaca melihat kehidupan melalui pemikiran filsuf Alfred Adler, terutama tentang bagaimana seseorang bisa menjalani hidup tanpa terus-menerus terjebak dalam penilaian orang lain.
Buku ini tidak berarti kita harus sengaja membuat orang lain membenci kita. Bukan pula berarti kita boleh bersikap egois dan mengabaikan perasaan orang lain. Justru, buku ini mengajak kita memahami bahwa keinginan untuk disukai semua orang adalah sesuatu yang mustahil.
Dan semakin kita berusaha memenuhi ekspektasi semua orang, semakin jauh pula kita dari diri sendiri. Salah satu gagasan yang paling menarik adalah tentang memisahkan tugas. Sederhananya, kita perlu memahami mana hal yang menjadi tanggung jawab kita dan mana yang sebenarnya merupakan urusan orang lain.
Kita bisa mengontrol apa yang kita lakukan, bagaimana kita bersikap, dan keputusan apa yang kita ambil. Tetapi kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menilai keputusan tersebut. Masalahnya, kita sering mencampuradukkan keduanya.
Misalnya, kita ingin memilih pekerjaan yang memang kita sukai, tetapi takut keluarga atau teman menganggap pilihan tersebut tidak cukup bergengsi. Akhirnya, kita memilih sesuatu hanya demi mendapatkan pengakuan. Atau kita ingin mengatakan “tidak”, tetapi merasa bersalah karena takut dianggap egois.
Padahal, selama kita terus hidup berdasarkan penilaian orang lain, kapan kita benar-benar menjalani kehidupan kita sendiri?
Menurut buku ini, salah satu bentuk kebebasan adalah menerima kemungkinan bahwa tidak semua orang akan menyukai kita. Kedengarannya sederhana. Praktiknya? Tentu jauh lebih sulit.
Apalagi sekarang kita hidup di era ketika validasi begitu mudah terlihat. Jumlah likes, komentar, followers, pencapaian orang lain, sampai gaya hidup yang ditampilkan di media sosial bisa menjadi ukuran tidak tertulis tentang apakah hidup kita “cukup baik” atau tidak.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan nyata dengan potongan kehidupan orang lain yang muncul di layar.
Di sinilah Berani Tidak Disukai terasa seperti sebuah pengingat bahwa hidup bukan kompetisi untuk mendapatkan persetujuan sebanyak-banyaknya. Ada satu hal yang juga menarik dari pemikiran Adler dalam buku ini, bahwa kita tidak harus terus hidup sebagai korban dari masa lalu.
Masa lalu memang membentuk pengalaman kita, tetapi bukan berarti masa lalu harus menentukan seluruh masa depan kita.
Kita sering menggunakan pengalaman buruk sebagai alasan mengapa kita tidak bisa berubah. Pernah gagal, sehingga takut mencoba lagi. Pernah diremehkan, sehingga merasa tidak cukup baik. Pernah ditolak, sehingga memilih tidak membuka diri.
Namun, buku ini mengajak kita melihat bahwa manusia tetap memiliki pilihan mengenai bagaimana ia akan menjalani hidupnya sekarang. Bagi saya, bagian ini menjadi salah satu pesan yang cukup kuat.
Karena terkadang yang membuat kita berhenti bukan keadaan, melainkan cerita yang terus kita ulang tentang diri sendiri.
“Aku memang seperti ini.”
“Aku nggak akan bisa.”
“Aku takut orang lain berpikir buruk tentang aku.”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi jika terus dipercaya, lama-lama bisa menjadi batas yang kita buat sendiri. Meski begitu, Berani Tidak Disukai bukan buku yang bisa dibaca sekali lalu langsung membuat kita bebas dari kebutuhan akan validasi.
Justru, beberapa gagasannya terasa seperti sesuatu yang perlu direnungkan berulang kali. Kita tetap akan merasa takut dinilai. Tetap akan merasa kecewa ketika tidak disukai. Tetap akan membandingkan diri dengan orang lain.
Namun, mungkin tujuan akhirnya bukan menjadi seseorang yang sama sekali tidak peduli pada pendapat orang lain. Melainkan belajar untuk tidak menjadikan pendapat orang lain sebagai penentu utama hidup kita. Karena pada akhirnya, tidak semua orang harus memahami pilihan kita.
Tidak semua orang harus menyukai kita.
Sebab pada akhirnya, kita yang harus menjalani hidup tersebut. Bukan orang lain. Menurutmu, apakah kamu masih menjadi orang yang bergantung pada pendapat orang lain?
Baca Juga
-
Can This Love Be Translated?: Cinta Ternyata Adalah Bahasa Paling Rumit
-
Review Kaiji: Final Game, Ketika Hidup Hanya Bisa Dimenangkan Orang Kaya
-
Review Serial 10 PM: Ketika Teknologi Membuka Pintu Menuju Dunia Lain
-
Our Beautiful Summer: Ketika Kita Sibuk Bertahan Sampai Lupa Menikmati Hidup
-
Review You Will Die in 6 Hours: Saat Kematian Mengajarkan Kita Cara Menjalani Hidup
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health
-
Review Skenario Sang Jenderal: Kupas Kasus Sensitif yang Mengguncang Publik
-
Review Terbelah Jadi Dua dan Alasan Kita Senang Menyiksa Diri Lewat Lagu
-
Review Film Hope, Teror Makhluk Misterius di Desa Terpencil
-
Ulasan Film Agensi Rumah Tangga: Angkat Isu Sosial Lewat Tawa Menyegarkan
Terkini
-
Gambut Bukan Sekadar Lahan Basah, Ia Penentu Masa Depan Karbon Dunia
-
Diminta OTP dan Pasang APK Saat Melamar Kerja? Fix, Itu Loker Palsu!
-
Trailer Baru The Apothecary Diaries Season 3 Ungkap Lagu Penutup oleh Eve
-
Jelang Duel Panas di GBK, Striker Naturalisasi Malaysia Sesumbar Permalukan Timnas Indonesia!
-
4 Moisturizer Peptide Dukung Produksi Kolagen untuk Jaga Kekencangan Kulit