M. Reza Sulaiman | Choirunnisa Nuraini
Pengolahan garam. (Gambar: Desa Sejahtera Astra Les, Buleleng, Provinsi Bali)
Choirunnisa Nuraini

Jejak perubahan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, membuktikan bahwa geliat ekonomi desa dapat tumbuh mekar tanpa harus merenggut akar tradisi. Sejak terintegrasi ke dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) pada tahun 2018, kawasan pesisir ini perlahan melangkah keluar dari keterbatasan.

Intervensi program tidak bergerak secara parsial, melainkan merangkul empat sendi utama kehidupan masyarakat: kesehatan, pendidikan, kelestarian lingkungan, hingga pengembangan kewirausahaan berbasis warga. Perubahan yang tercipta bukan sekadar deretan angka statistik di atas kertas, melainkan wujud nyata dari meningkatnya kapasitas modal manusia, terbukanya lapangan kerja baru, serta berdikarinya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang kian percaya diri menghadapi pasar.

Kristalisasi Garam Tradisional dan Peran Strategis BUMDes

Di balik hembusan angin laut Buleleng, warisan pembuatan garam palungan secara alami tetap dipelihara dengan tekun oleh para petani setempat. Tradisi murni yang memanfaatkan belahan batang kelapa dan sinar matahari ini kini bertransformasi menjadi salah satu penyokong utama perekonomian warga.

Saat musim kemarau tiba, kapasitas produksi garam tradisional Desa Les mampu menembus angka 2 hingga 3 ton dalam sekali siklus panen. Keberhasilan ini semakin solid berkat peran aktif Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bertindak sebagai jembatan pemasaran. BUMDes memastikan hasil keringat para petani mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan adil, sekaligus mengangkat derajat produk lokal ke tingkat yang lebih bermartabat.

Kepercayaan Pemerintah Daerah dan Nilai Ekonomi Garam Asli Les

Kualitas dan keaslian garam olahan Desa Les terbukti mendapatkan pengakuan luas dari pemangku kebijakan. Komitmen pelestarian ini berbuah manis ketika Pemerintah Provinsi Bali secara konsisten menyerap produk garam tradisional warga. Setiap bulannya, permintaan garam dari Pemprov Bali mencapai sekitar 1 ton, atau berputar pada omzet senilai Rp25 juta per bulan.

Nilai ekonomi yang stabil ini memberikan kepastian pendapatan bagi para pembuat garam, sekaligus menegaskan bahwa produk berbasis kearifan lokal memiliki daya saing yang sangat tinggi di tingkat regional apabila dikelola dengan manajemen yang tertata.

Konservasi Terumbu Karang dan Romansa Wisata Alam Pesisir

Kemajuan ekonomi di Desa Les melangkah seirama dengan kepedulian warga dalam menjaga ruang hidup mereka. Masyarakat setempat membentuk kelompok-kelompok swadaya yang secara aktif merawat dan merehabilitasi ekosistem terumbu karang di kawasan pesisir.

Bentang laut yang pulih kini berpadu indah dengan pesona daratan, seperti gemuruh segar Air Terjun Les yang menyejukkan. Kombinasi unik antara wisata alam, bentang pesisir, seni budaya, dan kegiatan konservasi lingkungan menjadi fondasi utama konsep pariwisata berkelanjutan yang dikelola secara kolektif oleh warga, untuk warga.

Peran Generasi Muda dalam Mengawal Pembaharuan Wisata Desa

Transformasi Desa Les semakin berenergi dengan keterlibatan aktif generasi muda. Kaum muda desa tidak lagi memilih meninggalkan kampung halaman, melainkan berdiri di garda depan pengelolaan inovasi pariwisata dan promosi kebudayaan. Lewat kreativitas, ide segar, dan pemanfaatan teknologi modern, mereka mengemas narasi lokal menjadi daya tarik yang memikat para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Keterlibatan anak muda ini memastikan bahwa pembaruan ekonomi yang terjadi di desa tidak melunturkan identitas kebudayaan asli, melainkan justru memperkuat jati diri desa di tengah arus modernisasi.

Puncak Pengakuan ADWI 2024 dan Cetak Biru Desa Mapan

Kerja keras, ketangguhan, dan keselarasan hidup masyarakat Desa Les dalam mengintegrasikan program Desa Sejahtera Astra mencapai puncaknya pada panggung nasional. Desa Les berhasil menyabet gelar kehormatan sebagai Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.

Penghargaan tertinggi dari Kementerian Pariwisata ini menjadi bukti sahih bahwa Desa Les telah berhasil menyusun cetak biru pengembangan kawasan yang ideal: sebuah wilayah yang mampu berdiri mandiri secara finansial, menjaga kelestarian alam lingkungan, serta menjunjung tinggi warisan leluhur demi kesejahteraan bersama generasi mendatang.