"Belajar yang rajin, biar nanti dapat pekerjaan yang bagus."
Ketika masih duduk di bangku sekolah, kalimat di atas mungkin terasa cukup familiar bagi sebagian orang. Kepintaran seseorang dalam berbagai mata pelajaran di sekolah seolah menjadi tolok ukur untuk memperoleh pekerjaan yang bagus di masa depan. Sayangnya, realitas mencari kerja tidak pernah sesederhana angka 100 atau 90 yang tertulis di rapor sekolah maupun nilai indeks prestasi di ijazah.
Oke, belajar sungguh-sungguh memang merupakan kewajiban kita saat masih berstatus sebagai pelajar. Bahkan dalam Islam, mencari ilmu menjadi kewajiban bagi semua orang apapun statusnya. Di sisi lain, dengan belajar kita juga bisa mendalami dan mengembangkan skill yang benar-benar ingin kita pelajari sekaligus menjadi bekal untuk mencari pekerjaan. Jadi sebetulnya, nasihat yang saya sebutkan di awal bisa dikatakan memang ada benarnya.
Namun, masalahnya, di dunia kerja saat ini, punya skill saja belum cukup untuk bisa memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Realitanya, masih ada orang yang sudah memiliki modal ijazah sarjana, skill yang cukup bagus, dan CV yang disiapkan dengan sepenuh hati. Namun, dia belum beruntung dalam hal mencari kerja. Di sisi lain, ia melihat orang-orang seusianya yang mendapatkan peluang jauh lebih besar karena memiliki koneksi yang lebih luas dan bisa dapat pekerjaan melalui jalur "orang dalam".
Sampai sini, mungkin akan muncul pertanyaan di benaknya: apakah dunia kerja ini benar-benar adil? Dan sebenarnya apa yang paling menentukan seseorang untuk mendapatkan kesempatan bekerja?
Seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, kualifikasi memang penting. Pendidikan, skill, hingga pengalaman tetap menjadi modal yang sangat kita butuhkan saat mencari pekerjaan. Bahkan ada beberapa pekerjaan yang memang membutuhkan kemampuan tertentu dan tak bisa digantikan oleh seseorang yang sekadar modal kenalan.
Meskipun demikian, koneksi tetap punya peran yang nggak kalah penting. Dengan memiliki relasi yang luas, kita bisa mengetahui berbagai informasi lowongan pekerjaan, memperoleh rekomendasi, hingga bertemu dengan orang lain yang memperluas peluang dan kesempatan kita. Bagaimana pun kita harus mengakui bahwa koneksi memang bisa membuka kesempatan yang tak terlihat sebelumnya. Dan orang dengan relasi luas punya peluang lebih besar untuk cepat memperoleh informasi atau pun rekomendasi. Mungkin inilah yang terkadang membuat pencari kerja merasa usaha dan kualifikasi mereka kalah oleh koneksi orang lain.
Padahal jika kita pikirkan lagi, koneksi bukan sesuatu yang bisa otomatis menggantikan kompetensi. Meskipun memperoleh kesempatan untuk masuk dengan mudah, pada akhirnya tetap ada tuntutan skill, tanggung jawab, dan performa untuk bisa bertahan di pekerjaan yang sama. Maka dari itu, meski memiliki peran yang cukup penting dalam dunia kerja, koneksi tetap tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya jalan yang diandalkan. Begitu juga sebaliknya, seseorang dengan kualifikasi yang bagus tetap bisa mendapatkan manfaat dari relasi untuk memperluas peluangnya.
Jika kita kembali ke pertanyaan awal tentang hal yang paling menentukan kesempatan kita memperoleh pekerjaan, sebenarnya baik koneksi maupun kualifikasi sama-sama penting. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Kualifikasi menjadi bekal, sedangkan koneksi menjadi salah satu jalan untuk menemukan peluang.
Saat mencari pekerjaan, kita memang tidak memilih atau mengendalikan kandidat mana yang memiliki koneksi maupun cara perekrut mengambil keputusan. Namun, kita bisa terus mengembangkan kemampuan sekaligus membangun relasi secara sehat. Networking tidak selalu berarti mencari orang yang bisa “memasukkan” kita ke suatu perusahaan, tapi bisa juga menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang bisa membuka lebih banyak peluang untuk kita.
Nasihat “belajar yang rajin biar dapat pekerjaan bagus” ternyata memang tak sepenuhnya salah, tetapi itu juga bukan satu-satunya bekal. Dunia kerja lebih kompleks daripada sekadar nilai rapor atau jumlah kenalan. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin sambil memahami bahwa terciptanya peluang kerja dipengaruhi oleh banyak faktor.
Baca Juga
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?
-
Nyore di Kyfein.id: Spot Hidden Gem yang Nyaman buat Nongkrong dan WFC
-
Belajar Berdamai dengan Kehilangan Melalui Lagu Untuk yang Bersama Nya
-
Ulasan Flex x Cop 2: Aksi Detektif Sultan yang Makin Seru dan Menarik
Artikel Terkait
-
Sinopsis Dead-End Job: Lee Jae-wook Terjebak Pekerjaan Mengerikan
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Sentil Kementerian PU, Lazarus Singgung Fenomena Perbaikan Jalan Jadi Cepat Jelang Presiden Datang
-
Tak Ingin Hanya Jadi Penerima Bantuan! Kisah Penyandang Disabilitan Berjuang di Job Fair Jakbar
-
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?
Kolom
-
Ketangguhan UMKM dan Negara yang Terlalu Nyaman dengan Krisis
-
Ombudsman Sidak Mendadak, Lapas Cibinong Bikin Publik Terbelalak
-
Career Break bagi Perempuan: Jeda Karier atau Tanda Kehilangan Arah?
-
Rp11 Triliun untuk Rekening Massal: Kebijakan Publik Kehilangan Prioritas?
-
Ilusi Mampu Mencicil: Saat Kemudahan Paylater Menguji Kontrol Diri
Terkini
-
&Team Terjebak dalam Pertarungan Hasrat dan Naluri di Lagu Baru, Good Boy
-
Review Film Hope, Teror Makhluk Misterius di Desa Terpencil
-
Sinopsis Emergency Room 24 Hours 6, Drama Medis Dibintangi Eguchi Yosuke
-
Ulasan Film Agensi Rumah Tangga: Angkat Isu Sosial Lewat Tawa Menyegarkan
-
Semakin Diteguk, Semakin Haus: Mengejar Dunia dalam Pareidolia