Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi memikirkan masa depan (Pexels/Ivan S)
e. kusuma .n

Perayaan kemerdekaan identik dengan bendera merah putih berkibar, gaung lagu kebangsaan, dan kisah perjuangan para pahlawan kembali diceritakan. Tapi, mengapa generasi muda masih cemas menatap masa depan?

Di balik euforia HUT ke-81 RI, ternyata kita masih belum benar-benar merdeka dari tantangan pekerjaan, ekonomi, media sosial, dan tekanan sosial. Selama 81 tahun, mengapa masa depan masih terasa begitu menakutkan, ya?

Ketakutan tersebut bukan berarti Gen Z tidak memiliki mimpi. Justru, ada banyak keinginan, hanya saja jalan menuju masa depan sering kali terasa penuh ketidakpastian. Kita bahkan terkadang merasa tidak tahu bisa melangkah sejauh mana.

Punya Mimpi, tapi Tidak Tahu Bisa Sampai Mana

Menentukan masa depan tidak semudah memilih cita-cita saat masih kecil. Dulu mungkin kita mudah menjawab ingin menjadi dokter, guru, polisi, atau profesi lainnya. Setelah dewasa, pertanyaannya berubah jadi lebih kompleks.

Bagaimana mendapatkan pekerjaan? Apakah penghasilan cukup? Apakah pekerjaan tersebut bisa bertahan dalam jangka panjang? Bagaimana menghadapi perubahan teknologi? Kapan bisa mandiri secara finansial?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat masa depan terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan dengan banyak tanda tanya. Inilah salah satu alasan mengapa Gen Z terlihat lebih banyak mempertanyakan masa depan dibandingkan sekadar mengejarnya.

Dunia Kerja Tidak Selalu Memberikan Kepastian

Salah satu sumber kecemasan terbesar adalah pekerjaan. Lulus pendidikan tidak otomatis berarti mendapat pekerjaan. Bahkan setelah bekerja, kita masih menghadapi kontrak yang tidak pasti, persaingan, tuntutan keterampilan baru, dan biaya hidup.

Di sisi lain, dunia kerja juga berubah cepat. Teknologi dan AI membuat beberapa jenis pekerjaan berkembang, sementara keterampilan yang dibutuhkan terus berubah. Akhirnya, anak muda terus  berusaha memperbarui kemampuan agar tidak tertinggal.

Tentu saja, meningkatkan keterampilan adalah hal baik. Namun, kita juga perlu mengakui kalau tidak semua ketidakpastian bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan, “Tingkatkan skill”.

Media Sosial dan “Panggung” Perlombaan

Ada tantangan lain yang tidak kalah besar: media sosial. Setiap hari kita melihat orang mendapatkan pekerjaan impian, membuka bisnis, bepergian, membeli rumah, menikah, atau memiliki berbagai pencapaian.

Tanpa sadar, kehidupan orang lain menjadi ukuran untuk menilai diri sendiri. Kita mulai bertanya, “Kenapa dia sudah sampai sana, sementara saya masih di sini?”. Media sosial pun menjadi “panggung” perlombaan tentang siapa yang terlihat paling sukses.

Padahal, media sosial hanya memperlihatkan potongan kehidupan. Tidak semua perjuangan terlihat. Tidak semua kegagalan diunggah. Tidak semua pencapaian menunjukkan kondisi seseorang secara utuh.

Karena itu, membandingkan seluruh masa depan kita dengan potongan kehidupan orang lain jelas tidak adil. Setiap kesuksesan yang dipamerkan adalah buah perjuangan jatuh bangun yang terkadang disembunyikan.

Kemerdekaan: Memberi Ruang untuk Mencoba

Menurut saya, salah satu cara memaknai HUT ke-81 RI adalah dengan memahami bahwa kemerdekaan bukan berarti masa depan harus selalu pasti. Merdeka berarti memiliki ruang untuk mencoba.

Gen Z boleh berganti pekerjaan. Boleh mengubah rencana. Boleh memulai kembali dari nol. Boleh belum tahu ingin menjadi apa. Bahkan, boleh gagal dan belajar dari kegagalan tersebut. Yang penting punya kesempatan untuk berkembang dan menentukan arah hidup.

Stop Membebani Anak Muda dengan Tuntutan “Harus Berhasil”

Ada kalanya masyarakat terlalu cepat menilai anak muda berdasarkan pencapaian. Jika belum bekerja, dianggap kurang berusaha. Jika berganti karier, dianggap tidak konsisten. Jika belum memiliki aset, dianggap belum mapan.

Padahal, setiap orang memiliki kondisi awal yang berbeda. Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya tentang “Sudah mencapai apa?” dan mulai mengubah pertanyaan dengan “Kesempatan apa yang sudah tersedia agar anak muda bisa berkembang?”

Ingat, masa depan tidak hanya dibangun oleh kerja keras individu. Masa depan juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, pendidikan, lapangan kerja, kebijakan, dan kesempatan yang tersedia.

81 Tahun Merdeka, Saatnya Membuat Masa Depan Terasa Lebih Aman

Momentum euforia kemerdekaan RI seharusnya tidak hanya berupa perayaan tentang masa lalu, melainkan juga menjadi kesempatan untuk memikirkan masa depan yang lebih aman bagi generasi muda.

Jika banyak anak muda takut menatap masa depan, mungkin bukan karena mereka tidak memiliki keberanian. Bisa jadi, mereka hanya ingin memastikan bahwa ketika melangkah, ada ruang yang cukup untuk jatuh, belajar, dan bangkit kembali.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti kesempatan untuk membangun masa depan tanpa terus dihantui ketidakpastian yang membuat langkah terasa mustahil.

Gen Z tidak membutuhkan janji bahwa masa depan akan selalu mudah. Kita hanya membutuhkan alasan untuk percaya kalau masa depan masih layak diperjuangkan.