Hayuning Ratri Hapsari | Dian Haerani
Ilustrasi Berkata Tidak (Pexels/SHVETS production)
Dian Haerani

Sejak menginjak usia 20-an, rasanya hidup bergerak jauh lebih cepat dari yang pernah kubayangkan. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan seperti pekerjaan, masa depan, pertemanan, keluarga, pencapaian, sampai pertanyaan sederhana seperti, “Sebenarnya aku mau hidup seperti apa?”

Di tengah semua itu, aku sering merasa lelah. Bukan hanya lelah secara fisik, tetapi juga lelah secara mental. Rasanya seperti tidak pernah benar-benar punya waktu untuk berhenti. Ada saja sesuatu yang harus dilakukan, seseorang yang harus ditemui, atau ajakan yang rasanya tidak enak untuk ditolak.

Sampai akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa mungkin selama ini bukan hidup yang terlalu sibuk, tetapi aku yang terlalu sering mengatakan “iya”.

Aku baru sadar kalau ternyata aku adalah seorang people pleaser. Aku terbiasa mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum perasaanku sendiri. Takut mengecewakan, takut dianggap tidak peduli, atau sekadar takut membuat suasana menjadi tidak enak.

Akibatnya, aku sering memaksakan diri melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kulakukan. Salah satu hal sederhana yang paling terasa adalah ketika ada ajakan untuk nongkrong.

Dulu, ketika ada teman mengajak bertemu, respons pertamaku hampir selalu “ayo”. Padahal terkadang aku sedang ingin berada di rumah. Ingin rebahan, membaca buku, menonton sesuatu, atau sekadar menikmati waktu sendirian tanpa harus berbicara dengan siapa pun.

Tetapi karena merasa tidak enak untuk menolak, aku tetap pergi. Selain beberapa alasan yang sudah kusebutkan, aku juga takut kehilangan teman. Miris.

Lucunya, setelah pulang, aku justru merasa lebih lelah. Bukan karena teman-temanku tidak menyenangkan. Aku menyayangi mereka dan tentu senang menghabiskan waktu bersama mereka. Namun, tidak setiap ajakan harus selalu kuterima hanya karena aku menghargai sebuah pertemanan.

Dari situ aku mulai belajar bahwa mengatakan “tidak” bukan berarti aku tidak peduli. Kadang-kadang, “tidak” hanyalah bentuk kejujuran sederhana kepada diri sendiri.

Awalnya memang terasa bersalah. Ada perasaan seperti sedang menjadi teman yang buruk ketika menolak ajakan. Namun, semakin sering aku melakukannya, semakin aku memahami bahwa menjaga hubungan dengan orang lain tidak seharusnya membuat kita kehilangan hubungan dengan diri sendiri.

Aku mulai menyadari bahwa ketenangan juga membutuhkan keberanian.

Berani mengakui bahwa kita sedang lelah. Berani mengakui bahwa kita tidak ingin pergi. Berani memilih pulang lebih cepat. Berani melewatkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kita inginkan. Bahkan berani mengecewakan orang lain sedikit, demi tidak terus-menerus mengecewakan diri sendiri.

Di usia 20-an, kita sering merasa harus selalu mengikuti banyak hal agar tidak tertinggal. Teman-teman mulai bekerja, ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang menikah, ada yang membangun bisnis, ada yang sibuk bepergian, dan ada pula yang terlihat begitu menikmati hidupnya.

Tanpa sadar, kita ikut berlari. Padahal mungkin yang kita butuhkan bukan berlari lebih cepat, melainkan berhenti sebentar. Jeda. Memberi diri sendiri kesempatan untuk bertanya, “Aku sebenarnya ingin apa?”

Bagiku, salah satu bentuk jeda itu adalah belajar berkata tidak. Bukan menolak semua hal, tetapi mulai memilih mana yang memang ingin kulakukan dan mana yang hanya kulakukan karena takut mengecewakan orang lain.

Sekarang, ketika ada ajakan nongkrong, aku mencoba bertanya kepada diriku sendiri terlebih dahulu. Apakah aku memang ingin pergi? Apakah aku punya energi untuk bertemu orang? Atau sebenarnya aku hanya takut merasa bersalah kalau menolak?

Jika jawabannya adalah aku sedang membutuhkan waktu sendiri, aku belajar mengatakan tidak tanpa terlalu banyak memberikan alasan. Hidup terasa jauh lebih ringan setelah itu. Ada ketenangan yang muncul ketika kita tidak lagi memaksakan diri untuk selalu hadir di setiap tempat dan menyenangkan semua orang.

Mungkin menjadi dewasa bukan tentang mampu melakukan sebanyak mungkin hal, melainkan tentang mulai memahami apa yang layak mendapatkan waktu dan energi kita. Kita tidak harus selalu tersedia. Kita tidak harus selalu mengatakan iya. Kita juga tidak harus merasa bersalah hanya karena membutuhkan jeda.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling sibuk atau siapa yang paling banyak hadir dalam berbagai kesempatan. Ada kalanya kita hanya perlu berhenti sebentar, menarik napas, dan menikmati ketenangan yang selama ini mungkin kita abaikan.

Aku masih belajar untuk tidak menjadi people pleaser. Masih ada rasa tidak enak ketika menolak sesuatu. Namun sekarang aku tahu, menjaga ketenangan diri bukanlah tindakan egois.

Kadang, mengatakan “tidak” kepada dunia adalah cara paling sederhana untuk mengatakan “iya” kepada diri sendiri.