Kalau tidak mampu menafkahi, jangan punya anak. mungkin terdengar masuk akal, tetapi sebenarnya terlalu sempit. Persoalan menjadi orang tua tidak pernah berhenti pada kemampuan ekonomi.
Banyak orang tua yang hidup sederhana, bahkan serba kekurangan, tetapi mampu membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Sebaliknya, tidak sedikit pula anak yang lahir dalam keluarga berkecukupan, tetapi tumbuh dengan luka karena diabaikan oleh orang tua yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.
Karena itu, kalimat yang mungkin lebih tepat adalah: kalau tidak siap bertanggung jawab, jangan memutuskan punya anak.
Tanggung jawab menjadi orang tua tidak berakhir ketika anak lahir. Ia juga tidak hilang ketika suami dan istri memutuskan bercerai. Perceraian mengakhiri hubungan sebagai pasangan, tetapi tidak pernah menghapus status sebagai ayah dan ibu.
Sayangnya, realitas sering kali berkata lain.
Masih banyak kasus di mana seorang ayah berhenti menjalankan tanggung jawabnya setelah perceraian. Ada yang menghilang begitu saja, memutus komunikasi, bahkan mengabaikan kewajiban memberikan nafkah kepada anak, padahal secara ekonomi mereka sangat mampu. Yang ditelantarkan bukan mantan istri, melainkan darah dagingnya sendiri.
Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata uang.
Banyak orang mengira penelantaran anak selalu terjadi karena kemiskinan. Faktanya, kemampuan finansial tidak otomatis melahirkan rasa tanggung jawab. Ada orang yang memiliki harta berlimpah tetapi enggan memenuhi hak anaknya. Sebaliknya, ada ayah yang bekerja dari pagi hingga malam dengan penghasilan pas-pasan, tetapi tetap berusaha hadir, mengirim nafkah, dan menemani tumbuh kembang anak semampunya.
Yang membedakan bukan isi rekening, melainkan isi hati.
Dalam psikologi perkembangan, kehadiran orang tua memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan emosional anak. Anak membutuhkan rasa aman, perhatian, validasi, dan kepastian bahwa dirinya dicintai tanpa syarat. Kehadiran itu memang dapat diwujudkan melalui kebutuhan materi, tetapi tidak berhenti di sana. Anak juga membutuhkan waktu, komunikasi, dukungan, dan komitmen.
Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berhubungan dengan perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak yang lebih baik. Sebaliknya, pengabaian orang tua dapat meningkatkan risiko munculnya masalah kepercayaan diri, kecemasan, kesulitan membangun hubungan yang sehat, hingga gangguan kesehatan mental di kemudian hari. Luka akibat penelantaran emosional sering kali bertahan jauh lebih lama daripada kekurangan materi.
Ironisnya, dalam budaya kita masih ada anggapan bahwa tugas ayah cukup sebatas mencari uang. Padahal menjadi ayah bukan hanya soal transfer bulanan. Menjadi ayah berarti hadir ketika anak membutuhkan pelukan, nasihat, perlindungan, dan sosok yang bisa dipercaya.
Demikian pula menjadi ibu. Orang tua bukan sekadar orang yang melahirkan atau membiayai kehidupan anak. Mereka adalah figur yang membentuk cara anak memandang dirinya, orang lain, dan dunia.
Anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Keputusan memiliki anak sepenuhnya adalah keputusan orang dewasa. Karena itu, segala konsekuensi dari keputusan tersebut juga harus dipikul oleh orang dewasa, bukan dibebankan kepada anak.
Yang menyedihkan, sering kali orang tua begitu bersemangat memiliki anak, tetapi tidak benar-benar siap menjadi orang tua. Mereka menginginkan bayi, tetapi tidak siap menghadapi proses panjang membesarkan manusia. Mereka ingin status sebagai ayah atau ibu, tetapi tidak siap menjalankan tanggung jawab yang menyertainya.
Padahal, setiap anak berhak mendapatkan lebih dari sekadar kehidupan. Mereka berhak memperoleh pengasuhan yang layak, kasih sayang yang konsisten, perlindungan, pendidikan, dan kehadiran orang tua yang benar-benar menjalankan perannya.
Pada akhirnya, memiliki anak bukanlah pencapaian, melainkan amanah. Ukuran keberhasilan menjadi orang tua tidak terletak pada seberapa mewah kehidupan yang mampu diberikan, melainkan pada seberapa besar tanggung jawab yang dijalankan setiap hari. Sebab anak tidak hanya membutuhkan rumah untuk berteduh atau uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka juga membutuhkan orang tua yang memilih untuk tetap hadir, tetap peduli, dan tetap bertanggung jawab, apa pun yang terjadi pada hubungan orang tuanya.
Karena sesungguhnya, anak juga berhak mendapatkan ayah dan ibu yang benar-benar ingin menjadi orang tua, bukan sekadar ingin memiliki anak.
Baca Juga
-
Hidup Bukan Konten: Stop Jadikan Media Sosial Penentu Standar Kebahagiaan!
-
Ketika Lapangan Kerja Formal Menyempit, Sektor Informal jadi Tumpuan Hidup
-
Membongkar Teka-Teki Sejarah dalam Madiun 1948: PKI Bergerak
-
MBG dan Hak Publik untuk Mengawasi Setiap Rupiah Uang Negara
-
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Bondowoso dalam Sebuah Buku
Artikel Terkait
Kolom
-
Hidup Bukan Konten: Stop Jadikan Media Sosial Penentu Standar Kebahagiaan!
-
Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?
-
Mati Mudanya Sebuah Tren: Ketika "Micro-Trends" Mengikis Identitas Diri
-
Seni Menghargai Ketenangan Diri, Lebih Berani Berkata Tidak pada Banyak Hal
-
Ketika Lapangan Kerja Formal Menyempit, Sektor Informal jadi Tumpuan Hidup
Terkini
-
Review Your Personal Taxi: Kisah Taksi Antik Penyembuh Luka Batin Penumpang
-
Susul BTS, Stray Kids Tak Kirim Karya Musik ke dalam Nominasi Grammy 2027
-
Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan
-
Mencari Arti Kebebasan dan Cinta dalam Fish in the Water Karya Lee Chanhyuk
-
Ulasan Ibadah & Cinta: Sebuah Batas Tipis Antara Perasaan dan Kewajiban