Kabar kebakaran yang melanda Desa Adat Sasak Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, menjadi pukulan bukan hanya bagi masyarakat Lombok, tetapi juga bagi siapa pun yang pernah mengenal Sade sebagai salah satu wajah budaya Sasak. Api mungkin membakar bangunan, tetapi yang sedang dipertaruhkan sesungguhnya jauh lebih besar. Ingatan, identitas, dan ruang hidup masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Ungkapan duka yang beredar di media sosial memperlihatkan betapa kuatnya keterikatan publik terhadap tempat tersebut. Banyak orang mengenalnya sebagai destinasi wisata yang memiliki karakter autentik. Rumah-rumah tradisional, lingkungan permukiman, kerajinan khas Sasak, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari membuat Sade terasa berbeda dari destinasi wisata yang sengaja dibangun untuk kepentingan turisme.
Karena itu, ketika kebakaran terjadi, reaksi publik bukan sekadar kehilangan sebuah objek wisata. Ada perasaan seperti kehilangan bagian dari wajah Lombok.
Namun di tengah kepanikan dan kesedihan, ada satu hal yang harus ditempatkan paling utama. Keselamatan manusia. Jangan sampai perhatian terhadap bangunan dan status destinasi wisata justru membuat kita melupakan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Harapan terbesar tentu tidak ada korban jiwa, sementara kondisi warga yang terdampak harus menjadi prioritas penanganan.
Setelah api padam, persoalan berikutnya tidak kalah penting, bagaimana memastikan pemulihan dilakukan dengan benar?
Desa adat bukan museum. Ia bukan sekadar kumpulan rumah tradisional yang dapat dibangun kembali persis seperti desain sebelumnya. Di dalamnya terdapat kehidupan masyarakat, tradisi, pengetahuan lokal, aktivitas ekonomi, serta hubungan sosial yang tidak bisa direplikasi hanya dengan membangun bangunan baru.
Karena itu, jika terdapat kerusakan pada rumah atau fasilitas di kawasan Sade, proses pemulihan harus melibatkan masyarakat adat sejak awal. Jangan sampai tragedi kebakaran justru menjadi pintu masuk bagi pembangunan yang menghilangkan karakter asli kawasan.
Kita sering memiliki kecenderungan untuk terburu-buru “mempercantik” destinasi setelah bencana. Bangunan diperbarui, fasilitas dibuat lebih modern, kawasan ditata ulang agar terlihat lebih menarik bagi wisatawan. Secara ekonomi mungkin tampak menguntungkan. Namun jika tidak hati-hati, proses tersebut justru dapat menghapus keaslian yang selama ini menjadi daya tarik utama Sade.
Di sinilah pemerintah memiliki pekerjaan besar. Penanganan kebakaran harus berjalan bersamaan dengan pendataan kerusakan, pemulihan masyarakat, perlindungan aset budaya, serta penyusunan strategi mitigasi bencana.
Kawasan permukiman tradisional membutuhkan sistem keselamatan yang sesuai dengan karakter bangunannya. Edukasi mengenai pencegahan kebakaran, ketersediaan alat pemadam, akses kendaraan pemadam, jalur evakuasi, sumber air, hingga prosedur tanggap darurat harus menjadi bagian dari pengelolaan kawasan wisata budaya.
Sebab bencana tidak mengenal status sebuah tempat sebagai destinasi wisata unggulan. Justru semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula tanggung jawab pengelola dan pemerintah untuk memastikan keselamatan warga maupun pengunjung.
Di sisi lain, jangan lupakan para pelaku UMKM yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata. Mereka bukan sekadar pelengkap destinasi. Mereka adalah bagian dari ekosistem ekonomi lokal. Ketika kawasan wisata terdampak, pedagang kerajinan, penjual suvenir, pengrajin, pemandu wisata, hingga pekerja sektor informal ikut merasakan dampaknya.
Karena itu, pemulihan Sade harus berbicara tentang manusia, bukan hanya bangunan.
Kebakaran ini semestinya menjadi alarm bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dipromosikan. Ia harus dilindungi. Tidak cukup dijadikan latar belakang foto wisatawan. Ia harus dipastikan tetap menjadi ruang hidup masyarakat.
Sade boleh terbakar, tetapi jangan sampai identitasnya ikut padam.
Jika ada sesuatu yang harus dibangun kembali setelah api berlalu, bukan hanya rumah-rumah yang rusak. Yang harus dipulihkan adalah rasa aman masyarakat, keberlangsungan ekonomi lokal, kelestarian tradisi, dan kepercayaan bahwa warisan leluhur mereka tidak akan dikorbankan demi sekadar mengejar angka kunjungan wisata.
Pada akhirnya, destinasi wisata terbaik bukanlah tempat yang hanya indah untuk difoto. Ia adalah tempat yang mampu menjaga manusia, budaya, dan sejarah yang membuatnya berharga.
Semoga api malam itu segera padam tanpa menyisakan korban jiwa. Dan semoga ketika Sade kembali bangkit, ia tetap menjadi Sade. Bukan sekadar versi baru yang dibangun untuk wisatawan, melainkan desa adat yang tetap hidup bersama masyarakat Sasak dan warisan budayanya.
Baca Juga
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Memutus Lingkaran Setan Pungli: Negara Bukan Tempat yang Layanannya Ditentukan Isi Dompet
-
Kritik Tajam di Buku Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
Artikel Terkait
-
Muhammad Imanuddin Sumar Eks Pimpinan Ponpes di Lombok Ditetapkan Tersangka Kasus Kekerasan Seksual!
-
Jelang MotoGP Mandalika, Okupansi Hotel Tembus 86%
-
NTB Dorong Skema KPDBU untuk Percepat Pembangunan Infrastruktur
-
Persiapan Sirkuit Mandalika Jelang Perhelatan MotoGP 2026
-
Bandara Lombok Dipadati Penumpang, Efek Penutupan Soetta
Kolom
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Di Balik Putusan MK soal Gibran, Rakyat Cuma Penonton dalam Konflik Elite
-
Memutus Lingkaran Setan Pungli: Negara Bukan Tempat yang Layanannya Ditentukan Isi Dompet
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
Terkini
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau