Bayangkan Anda memarkir mobil selama lima jam di kawasan bisnis Jakarta dan harus merogoh kocek Rp300.000 hanya untuk biaya parkir. Angka yang bikin mengelus dada, bukan?
Wacana penyesuaian tarif parkir hingga Rp60.000 per jam yang mengemuka di DKI Jakarta belakangan ini mendadak membakar emosi warga. Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa tarif parkir ibu kota sudah 14 tahun stagnan dan tidak pernah disesuaikan. Secara logika ekonomi maupun tata kota, menahan tarif retribusi jasa publik selama lebih dari satu dekade memang janggal. Namun, mengapa reaksi publik begitu keras menolak?
Bukan Pelit, tapi Krisis Kepercayaan (Trust Deficit)
Banyak pengamat terburu-buru merutuki masyarakat yang dianggap "manja" dan terbiasa dengan fasilitas murah. Padahal, jika kita bedah lebih dalam, penolakan warga sama sekali bukan cuma soal angka nominal di dompet. Ini adalah puncak dari trust deficit atau krisis kepercayaan yang terakumulasi bertahun-tahun.
Masyarakat bertanya-tanya: ke mana perginya rupiah yang selama ini ditarik dari retribusi parkir? Ketika tarif dinaikkan berlipat ganda, apakah fasilitas pejalan kaki di sekitar lokasi parkir otomatis jadi lebih aman? Apakah integrasi bus pengumpan (feeder) makin manusiawi? Selama ini, uang retribusi seolah masuk ke dalam "lubang hitam" APBD tanpa pertanggungjawaban fisik yang jelas bagi pembayar pajak.
Mewujudkan Transparansi Dana Parkir via Digital
Jika Pemprov DKI serius ingin mengendalikan jumlah kendaraan pribadi dan mengurai kemacetan, instrumen harga tidak boleh cuma berfungsi sebagai "denda pasif" bagi pengguna kendaraan. Solusi cerdasnya adalah menerapkan konsep Transparent Parking Revenue Earmarking.
Sederhananya, hasil penyesuaian tarif parkir tinggi wajib dialokasikan secara khusus ke dalam akun terikat (dedicated transit fund). Dana ini diharamkan dicampur aduk dengan pos belanja umum APBD. Lebih jauh lagi, keterbukaan ini harus bisa diaudit publik secara real-time melalui platform digital yang sudah ada, seperti aplikasi JAKI.
Setiap rupiah dari kenaikan tarif parkir harus memiliki alur cerita yang transparan. Warga berhak tahu berapa meter trotoar yang diperbaiki atau berapa unit bus kota baru yang dibeli dari uang parkir mereka bulan ini.
Mengubah Denda Menjadi Investasi Bersama
Ketika warga melihat dengan mata kepala sendiri bahwa uang Rp60.000 yang mereka bayarkan langsung dikembalikan dalam bentuk peremajaan angkutan umum atau perbaikan trotoar ramah difabel di lingkungan sekitar, narasi resistensi akan bergeser. Kenaikan tarif tidak lagi dipersepsikan sebagai pemerasan balik modal, melainkan bentuk investasi publik untuk kota yang lebih layak huni.
Pilihan kini berada di tangan pengambil kebijakan. Apakah penyesuaian tarif 14 tahunan ini hanya akan berakhir sebagai proyek kejar target retribusi yang menyulut amarah publik? Atau, akankah Pemprov berani membuka transparansi anggaran demi memenangkan kembali kepercayaan warganya?
Baca Juga
-
Euforia Bonus Timnas Indonesia: Awas Menguap, Waktunya Wujudkan 'Trust Fund' Pemain
-
Menduniakan Batik atau Merusak Bumi? Sisi Gelap Industri yang Jarang Dibahas
-
Rocky Gerung di Wantimpres: Mengapa Istana Butuh 'Devil's Advocate'?
-
Kebakaran Gambut Jambi dan Perang Data: Citra Satelit vs Angka Resmi
-
Polemik Memburu Muhammad: Jangan-Jangan yang Kita 'Buru' Bukan Bukunya, Tapi Asumsi Sendiri?
Artikel Terkait
-
Pramono Pasang Badan Bela ASN DKI dari Tuntutan Sumbangan Wajib ke PMI
-
Blok M Direvitalisasi Besar-besaran, Ruang Hijau Bakal 5 Kali Lebih Luas
-
Pramono: DPRD DKI Bukan Minta Tambah Kursi, Tapi Kembalikan Seperti Pemilu 2024
-
Pramono Anung: Gotong Royong Warga Cegah 34 Kebakaran di Jakarta
-
Di Balik Status Kota Global, Pramono Anung Wanti-Wanti Ancaman Bencana Tersembunyi di Jakarta
Kolom
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Tanpa Kita Sadari, Politik Mempengaruhi Kehidupan Lingkungan dan Satwa
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Bukan Cuma Dua Musim, Laboratorium Sedusun Bongkar Mitos lewat Kearifan Gunungkidul
-
Ketika AI Jadi Jalan Pintas, Buku Makin Ditinggalkan
Terkini
-
Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri
-
Sinopsis Life Trade, Drama Jepang Dibintangi Baba Fumika dan Maki Yoko
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Exynos 2700 Sudah Diproduksi, Apakah Galaxy S27 Ultra akan Pakai Chip Ini?
-
Lebih Dewasa! NCT Wish Ungkap Pertumbuhan Musikalitas di Album Baru, I SPY