Memiliki anak tidak membuat seorang perempuan kehilangan kompetensi. Pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan yang dibangun bertahun-tahun tetap melekat. Namun, dunia kerja sering kali tidak hanya menilai skill seseorang, tetapi juga seberapa jauh ia bisa selalu hadir untuk pekerjaan.
Kondisi ini membuat nasib karier working mom berada dalam posisi yang serba sulit. Tuntutan untuk menjadi pekerja yang produktif berjalan beriringan dengan tanggung jawab pengasuhan yang belum terbagi secara setara. Ibu yang harus mengurus anak sakit atau menghadiri agenda sekolah pun lebih mudah dianggap memiliki keterbatasan dibandingkan pekerja tanpa tanggung jawab serupa.
Di sisi lain, perusahaan juga dijalankan dengan logika produktivitas. Mereka membutuhkan pekerja yang dapat memenuhi target dan menjaga kelancaran pekerjaan. Masalahnya, mengapa dunia kerja belum memberi ruang yang setara bagi realita kehidupan pekerjanya?
Ketika Pengasuhan Masih Dianggap Urusan Ibu
Ibu sering kali dianggap paling bertanggung jawab ketika anak membutuhkan sesuatu. Anak sakit, ada agenda sekolah, harus ke dokter, sampai urusan administrasi pendidikan, entah kenapa semua itu lebih sering otomatis jatuh ke ibu. Ayahnya ada, tetapi nomor yang dihubungi sering kali tetap nomor ibunya.
Pola seperti ini tentu tidak hanya terjadi di rumah, tapi ikut terbawa ke tempat kerja. Ibu yang beberapa kali harus izin karena anak sakit atau ada keperluan sekolah bisa lebih mudah dicap tidak fleksibel atau kurang bisa diandalkan.
Padahal, frekuensi izin tersebut tidak muncul begitu saja. Ada pembagian peran di rumah yang membuat ibu lebih sering menjadi orang pertama yang harus turun tangan.
Makanya, saya agak kurang setuju kalau solusi untuk hal ini selalu dikembalikan kepada perempuan dengan nasihat supaya lebih pintar mengatur waktu. Seolah-olah semua akan selesai kalau ibu cukup pandai menyusun jadwal.
Padahal, pengasuhan bukan pekerjaan satu orang. Ada pasangan, keluarga, sekolah, tempat kerja, bahkan kebijakan publik yang seharusnya ikut menciptakan kondisi agar urusan merawat anak tidak otomatis menjadi beban salah satu pihak.
Perusahaan Punya Target, Pekerja Punya Kehidupan
Dari sisi perusahaan, saya juga bisa memahami kalau masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta mereka untuk lebih fleksibel. Ada target yang harus dikejar dan pekerjaan yang harus selesa meski sedang izin karena urusan anak. Kalau satu orang tidak bisa masuk, bukan tidak mungkin pekerjaan tersebut akhirnya harus ditanggung oleh rekan kerjanya.
Oleh karena itu, tidak tepat juga kalau setiap keputusan perusahaan langsung dianggap lahir dari niat buruk terhadap ibu bekerja. Ada pertimbangan operasional yang memang masuk akal untuk diperhitungkan.
Namun, ketika kebutuhan keluarga akhirnya dianggap sebagai kekurangan dari pekerjanya, hal ini juga tidak adil rasanya. Ibu yang perlu izin mengurus anak bisa dinilai kurang berkomitmen, padahal situasinya tidak selalu bisa dipilih.
Menurut saya, di sinilah perdebatan soal ibu bekerja perlu dilihat lebih jernih. Kita tidak bisa sekadar meminta perusahaan untuk selalu memaklumi, tetapi juga tidak adil kalau seluruh konsekuensi pengasuhan dibebankan kepada pekerja perempuan.
Perusahaan punya kepentingan menjaga produktivitas, pekerja punya kehidupan di luar pekerjaan. Tantangannya adalah mencari titik temu agar kebutuhan salah satunya tidak harus dikorbankan.
Karier Tak Seharusnya Berakhir di Ruang Pengasuhan
Nasihat untuk membangun karier dulu sebelum menikah terdengar cukup masuk akal bagi banyak perempuan. Posisi yang sudah mapan biasanya memberi seseorang daya tawar lebih besar, termasuk ketika membutuhkan fleksibilitas untuk urusan keluarga.
Mereka yang sudah punya pengalaman panjang atau berada di posisi strategis juga cenderung punya lebih banyak ruang untuk mendelegasikan pekerjaan dibandingkan pekerja yang masih berada di level awal.
Oleh karena itu, membangun fondasi karier memang penting. Namun, rasanya agak ironis kalau perempuan sampai perlu menganggap karier sebagai sesuatu yang harus “diamankan” sebelum menikah, seolah-olah setelah punya anak masa depannya di dunia kerja otomatis berada dalam ancaman.
Karier semestinya dibangun dari kemampuan, pengalaman, dan kontribusi seseorang, bukan dari seberapa lama ia bisa menunda tanggung jawab keluarga.
Menjadi ibu juga tidak serta-merta menghapus kompetensi yang sudah dimiliki. Mungkin waktu dan ruang geraknya berubah, tetapi itu bukan berarti kapasitas kerjanya ikut berkurang.
Jadi, memberi ruang yang setara bukan berarti perusahaan harus memberikan perlakuan khusus kepada ibu bekerja atau mengabaikan kebutuhan bisnis, namun memastikan bahwa punya keluarga tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Baca Juga
-
Ulasan Psychopath Diary: Ketika Psikopat Palsu Bertemu Pembunuh Asli
-
Lowongan Minta Paket Lengkap, Gaji Paket Hemat: Ada Apa dengan Pasar Kerja?
-
Katanya Swasembada Pangan, Mengapa Harga Bahan Pokok Kian Menjulang?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
Artikel Terkait
-
UU Cipta Kerja Diuji di MK, Komnas Perempuan Beberkan Dampak PSN ke Nelayan dan Petani Perempuan
-
UU Cipta Kerja Diuji di MK, Komnas Perempuan Minta Hakim Gunakan Analisis Hukum Feminis
-
DPR: UU Cipta Kerja Tak Diskriminasi Perempuan dalam Perlindungan Lingkungan Hidup
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier
-
Kenanga: Ketika Adat Bali Mengikat Cinta dan Membatasi Kebebasan Perempuan
Kolom
-
Jeda dari Lifestyle Inflation: Tidak Semua Tren Harus Dikejar Demi Gengsi
-
Bukan Kesepian, Solo Date Bisa Menjadi Cara Seseorang Menikmati Jeda Bersama Diri Sendiri
-
Friendship Recession: Kenapa Cari Sahabat Dewasa Itu Sulit?
-
Menembus Tenda: Mengapa Safe Zone di Gaza Gagal Melindungi Sipil?
-
Sekolah Mahal Bukan Jaminan Anak Bebas Bullying, Orang Tua Perlu Lakukan Ini
Terkini
-
4 Hydrating Serum Probiotic Rawat Skin Barrier, Cegah Dehidrasi dan Iritasi
-
Lebih dari Sekadar Warung Sembako: Arti Kebersamaan di Novel Warung Bujang
-
Review Love Reset: Ketika Kita Jatuh Cinta Lagi setelah Sempat Saling Benci
-
Ulasan Cidro Asmoro: Drama Komedi Musikal yang Sangat Menyentuh dan Lucu
-
Ube Ternyata Bukan Ubi Ungu? Simak 3 Perbedaan Mendasarnya!