Ada fase kehidupan yang aneh setelah seseorang lulus kuliah. Tidak ada lagi foto ramai-ramai di kampus, nongkrong mendadak setelah kelas, mengeluh bersama menjelang ujian, atau percakapan panjang yang tidak membutuhkan alasan. Perlahan, unggahan bersama teman berkurang. Grup chat yang dulu berisik mulai sunyi. Satu per satu orang sibuk dengan hidup masing-masing.
Lalu kita bertanya dalam diam, apakah memang begini rasanya menjadi dewasa?
Seolah-olah kehidupan seseorang berhenti tepat setelah toga dilepas. Padahal hidup tidak berhenti. Hanya saja, bentuknya berubah begitu drastis sampai kita sempat merasa kehilangan diri sendiri.
Saat kuliah, kehidupan memiliki struktur yang relatif jelas. Ada jadwal kuliah, tugas, organisasi, teman sekelas, kegiatan kampus, dan ruang sosial yang secara otomatis mempertemukan kita dengan orang lain. Kita tidak perlu merencanakan pertemuan dengan teman setiap kali ingin bertemu. Cukup datang ke kampus, maka kemungkinan besar ada seseorang yang bisa diajak makan, bercanda, atau sekadar duduk bersama.
Setelah lulus, sistem itu hilang.
Teman yang dahulu berada dalam radius beberapa meter tiba-tiba tersebar di berbagai kota. Ada yang bekerja, melanjutkan pendidikan, menikah, merawat keluarga, membangun bisnis, mencari pekerjaan, atau berjuang menghadapi persoalan yang tidak pernah mereka ceritakan di media sosial.
Dewasa ternyata bukan hanya tentang mendapatkan kebebasan. Dewasa juga berarti kehilangan banyak pertemuan yang dulu kita anggap akan berlangsung selamanya.
Masalahnya, media sosial membuat perubahan tersebut terasa semakin nyata. Dulu kita melihat teman setiap hari. Sekarang kita mungkin hanya melihat kabar mereka melalui unggahan sesekali. Bahkan unggahan itu pun semakin jarang.
Bukan berarti mereka tidak bahagia. Bisa jadi mereka hanya sedang lelah.
Dunia kerja memiliki tuntutan yang berbeda dari dunia kampus. Ada target, tenggat waktu, perjalanan pulang yang melelahkan, tanggung jawab finansial, tekanan karier, dan kebutuhan untuk terus terlihat baik-baik saja. Waktu yang dahulu bisa digunakan untuk nongkrong hingga malam kini mungkin habis untuk perjalanan, pekerjaan rumah, atau sekadar memulihkan tenaga.
Di usia dewasa, bertemu teman bukan lagi sesuatu yang otomatis terjadi. Ia membutuhkan usaha.
Harus ada pesan, harus mencari tanggal yang cocok. Harus menyesuaikan jadwal lima atau enam orang yang masing-masing memiliki kehidupan sendiri. Tidak jarang pertemuan yang sudah direncanakan berbulan-bulan akhirnya batal karena satu orang lembur, satu orang sakit, dan satu orang harus mengurus keluarga.
Pada titik tertentu, kita menyadari bahwa persahabatan dewasa membutuhkan kesengajaan.
Yang juga berubah adalah cara kita mengekspresikan kebahagiaan. Setelah kuliah, kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk foto bersama sepuluh orang. Kadang ia hanya berupa makan malam sendirian setelah menerima gaji pertama, berhasil melewati hari kerja yang berat, membeli sesuatu dari hasil usaha sendiri, atau mendapatkan kabar baik yang tidak perlu diumumkan kepada siapa pun.
Karena itu, jangan buru-buru menganggap seseorang kehilangan keceriaan hanya karena mereka tidak lagi sering mengunggah kehidupan.
Bisa jadi mereka sedang menjalani bab yang tidak cocok untuk dipamerkan.
Namun ada satu hal yang perlu diwaspadai, jangan sampai kesibukan menjadi alasan untuk kehilangan seluruh hubungan sosial. Manusia tetap membutuhkan teman, percakapan, tawa, dan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Karier yang berhasil tetapi membuat seseorang sepenuhnya terisolasi bukanlah keberhasilan yang utuh.
Kita perlu belajar memelihara hubungan dengan cara baru.
Tidak harus setiap minggu. Tidak harus selalu bertemu semua orang. Satu pesan sederhana, panggilan telepon, atau pertemuan singkat bisa menjadi pengingat bahwa kita masih memiliki orang-orang yang mengenal diri kita sebelum pekerjaan, jabatan, dan berbagai tuntutan dewasa datang.
Jadi, apakah dunia dewasa memang semuram itu?
Mungkin bukan dunia yang menjadi lebih muram. Kita saja yang memasuki fase kehidupan ketika kebahagiaan tidak lagi datang otomatis.
Kita harus mencarinya, menjadwalkannya, menjaganya, bahkan terkadang memperjuangkannya.
Dan mungkin itulah salah satu pelajaran paling pahit setelah lulus kuliah. Beberapa orang yang dahulu begitu dekat tidak akan selalu berada di samping kita.
Tetapi itu bukan berarti cerita mereka selesai. Hidup tidak berhenti setelah wisuda. Ia hanya berhenti menjadi cerita yang dijalani bersama-sama setiap hari. Kini kita berjalan di jalan masing-masing, sesekali menoleh ke belakang, tersenyum mengingat masa ketika dunia terasa lebih sederhana.
Dan jika suatu hari kita kembali berkumpul, mungkin kita akan sadar. Yang berubah bukan rasa sayangnya. Yang berubah hanyalah jarak, waktu, dan kehidupan yang membawa kita tumbuh ke arah masing-masing.
Baca Juga
-
Jurnalis Perang Memburu Kebenaran: Menyelami Misteri Deadline Sandra Brown
-
Dari Kertajati hingga IKN: Mengapa Bangunan Megah Sering Berakhir Menjadi Beban Negara?
-
Power Crazy Ms Wiz: Petualangan Kocak yang Mengajarkan Arti Kekuasaan
-
Dari Tepian Barito ke Atap Warga: Jeritan Bekantan yang Kehilangan Habitat
-
Menemukan Tuhan di Sudut Kota: Pesona Di Kota Tuhan Stebby Julionatan
Artikel Terkait
Kolom
-
Dari Kertajati hingga IKN: Mengapa Bangunan Megah Sering Berakhir Menjadi Beban Negara?
-
Menuju Era Indonesia Emas 2045: Siapkah Kita Menjadi Generasi Penentu?
-
Dari Tepian Barito ke Atap Warga: Jeritan Bekantan yang Kehilangan Habitat
-
Kehilangan Binar Masa Kecil: Apakah Menjadi Dewasa Berarti Berhenti Bermimpi?
-
Kucing Merah di Ujung Tanduk: Hutan Kalimantan Terus Kehilangan Penghuninya
Terkini
-
Grand Seiko SBGA527: Jam Tangan Eksklusif Hanya 50 Unit, Harga Rp120 Jutaan
-
Huawei Pura X View Resmi Meluncur,HP Wide Screen Pertama dengan Layar 6,39 Inci
-
Popo the Xolo: Ketika Seekor Anjing Menemani Nenek Menuju Perpisahan
-
Tulis Surat, Jang Dong Yoon Umumkan Menikah dengan Aktris Kim Seung Yoon
-
Manga Toilet-Bound Hanako-kun Lanjutkan Serialisasi Usai Hiatus 10 Bulan