Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Perbandingan Pasar Induk Godean (Modern) Vs Pasar Ngijon Godean (Tradisional) (Foto Tim Yoursay.id)
Fairus Farizki

Belakangan ini saya beberapa kali masuk ke pasar untuk liputan. Dua di antaranya menarik perhatian saya karena lokasinya masih berada di kawasan Godean, tetapi menawarkan pengalaman yang terasa berbeda. Saya datang ke Pasar Induk Godean untuk meliput agenda Disperindag, kemudian beberapa waktu setelahnya datang ke Pasar Ngijon untuk meliput kegiatan serupa dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.

Keduanya sama-sama pasar. Keduanya sama-sama menjadi tempat orang berdagang dan berbelanja dan bertransaksi. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda ketika saya berjalan di dalamnya. Pasar Induk Godean tampak jauh lebih modern, bersih, luas, dan tertata. Pedagang ditempatkan berdasarkan kelompok komoditas dan ruang yang telah ditentukan. Sementara itu, Pasar Ngijon terasa jauh lebih sederhana. Lapak-lapak terlihat lebih cair, jenis dagangan beragam dan percakapan antar manusia terdengar hampir di setiap sudut.

Saya kemudian bertanya-tanya, apakah pasar yang semakin modern otomatis menjadi pasar yang semakin hidup? Pertanyaan ini tentu tidak berarti Pasar Induk Godean buruk. Justru revitalisasi pasar memberikan fasilitas yang lebih baik bagi pedagang dan pembeli. Pemerintah Kabupaten Sleman mencatat ribuan pedagang Pasar Godean dipindahkan ke pasar relokasi sebelum kemudian kembali menempati Pasar Induk Godean pada 2025. Proses tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan pasar yang lebih tertata dan nyaman.

Tetapi pengalaman saya di Ngijon membuat saya melihat bahwa ada sesuatu yang tidak bisa diukur hanya dari bangunan saja, interaksi sosial dalam masyarakat di pasar juga menjadi satu value yang patut di pertimbangkan. Dalam wawancara saya dengan Pak Badri, salah satu pengelola yang saya temui saat liputan, sejarah Pasar Ngijon juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat setempat. Pasar tersebut telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sejak lama, sementara data Pemkab Sleman pada 2009 mencatat terdapat 358 pedagang di Ngijon.

Temuan itu sebenarnya sejalan dengan penelitian Wibawa dkk, tentang pasar tradisional di Indonesia. Mereka menemukan bahwa pasar bukan hanya ruang pertukaran barang, tetapi juga tempat berlangsungnya interaksi sosial, pertukaran gagasan, pertemanan, percakapan ringan, hingga diskursus politik. Dalam kasus Pasar Imogiri yang mereka teliti, aktivitas pasar bahkan berkaitan dengan sistem pasaran Jawa yang membuat pedagang dan pembeli membangun jaringan sosial lebih luas.

Di titik ini, kata “berisik” yang saya rasakan di Pasar Ngijon justru terasa punya arti lain. Orang berbicara dengan pedagang, pembeli bertanya harga, pedagang saling menyapa, dan berbagai jenis dagangan berada berdekatan. Keramaian semacam itu mungkin terlihat tidak serapi pasar modern, tetapi justru menunjukkan bahwa ruang tersebut sedang digunakan sebagai ruang sosial.

Penelitian tentang revitalisasi pasar tradisional juga mengingatkan kita pada persoalan yang sama. Studi mengenai revitalisasi di lima kota metropolitan di Jawa menunjukkan bahwa keberhasilan revitalisasi tidak hanya ditentukan bangunan dan fasilitas, tetapi juga akses, makanan lokal, serta aspek sosiologis masyarakat. Penelitian lain tentang Pasar Bulu di Semarang bahkan menemukan bahwa fasilitas yang lebih baik dan modern tidak otomatis meningkatkan jumlah pembeli atau pendapatan pedagang.

Bahkan penelitian terbaru tentang revitalisasi Pasar Sentul di Yogyakarta menemukan bahwa perbaikan fasilitas memang membuat lingkungan pasar lebih nyaman, tetapi desain pasar yang lebih modern juga dilaporkan mengurangi sebagian interaksi sosial yang sebelumnya terjadi. Temuan ini tentu tidak bisa begitu saja dipindahkan kepada Pasar Induk Godean, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa modernisasi ruang memang perlu dilihat bersama dampak sosialnya.

Karena itu, saya kira persoalannya bukan memilih antara pasar tradisional atau pasar modern. Pasar yang bersih, aman, tertata, dan nyaman tetap penting. Namun, jangan sampai ketika kita membuat pasar semakin rapi, kita justru lupa bahwa pasar sejak awal bukan sekadar tempat untuk menyelesaikan transaksi saja, lalu kemudian pulang.

Pasar juga merupakan tempat orang bertemu, berbicara, bertukar informasi, membangun kepercayaan, bahkan menciptakan hubungan sosial. Kalau begitu, mungkin ukuran keberhasilan sebuah pasar tidak cukup berhenti pada pertanyaan “seberapa bagus bangunannya?”

Kita juga perlu bertanya: “Apakah setelah pasar itu dibangun, orang masih ingin tinggal sebentar untuk berbicara?” Karena bisa jadi, pasar yang benar-benar hidup bukanlah pasar yang paling megah. Melainkan pasar yang masih membuat manusia merasa punya alasan untuk saling menyapa.