Ibu bisa merawat lima anak, tetapi lima anak belum tentu bisa merawat satu ibu. Di sini tidak ada yang salah jika tujuannya sesederhana untuk mengingat betapa besar perjuangan seorang ibu membesarkan anak-anaknya. Namun, jika dirasakan secara realita, semakin terasa bahwa perbandingan tersebut sebenarnya tidak sesederhana itu.
Merawat anak kecil dan merawat lansia adalah dua bentuk pengasuhan yang berbeda. Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran, kasih sayang, ketelatenan, dan ketenangan. Tetapi beban fisik, psikologis, dan situasinya tidak bisa begitu saja disejajarkan.
Anak kecil memang membutuhkan perhatian hampir sepanjang waktu. Mereka belum mandiri, belum mampu mengendalikan emosi dengan baik, dan membutuhkan bantuan untuk makan, mandi, berpakaian, serta melakukan berbagai aktivitas. Tetapi perkembangan anak bergerak menuju kemandirian. Hari ini mungkin harus digendong, beberapa tahun kemudian ia sudah bisa berjalan sendiri, makan sendiri, berpakaian sendiri, bahkan membantu pekerjaan rumah.
Lansia berada pada situasi yang berbeda. Ketika seseorang memasuki usia lanjut dan mengalami penurunan kemampuan fisik, merawatnya bisa menjadi pekerjaan yang sangat berat secara fisik. Membantu lansia berpindah dari tempat tidur ke kursi, mengangkat tubuh ketika jatuh, memandikan, mengganti pakaian, mengganti popok, atau sekadar membalikkan posisi tubuh membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Hal yang terlihat sederhana bagi orang sehat bisa menjadi pekerjaan besar bagi seorang caregiver.
Memakaikan baju anak kecil, misalnya, tentu membutuhkan kesabaran. Tetapi memakaikan pakaian kepada lansia yang tubuhnya sudah kaku, lemah, atau sulit bergerak membutuhkan teknik, kehati-hatian, dan tenaga ekstra. Membalikkan badan lansia di tempat tidur pun tidak selalu bisa dilakukan sendirian, terutama ketika kondisi tubuhnya sudah sangat lemah.
Belum lagi ketika lansia mengalami perubahan kondisi kognitif atau emosional. Anak kecil yang tantrum biasanya berada dalam fase perkembangan yang memang sedang belajar mengenali emosi. Orang tua dapat membentuk kebiasaan, memberikan batasan, dan mendampingi proses belajarnya. Lansia dengan gangguan kognitif tertentu bisa mengalami kebingungan, perubahan perilaku, lupa, sulit berkomunikasi, bahkan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya tanpa menyadarinya.
Di situlah tantangan merawat lansia menjadi sangat kompleks. Karena itu, kita perlu berhenti menggunakan kalimat tersebut untuk menyalahkan anak yang merasa kewalahan merawat orang tuanya.
Bukan berarti anak boleh meninggalkan orang tua begitu saja. Bukan pula berarti merawat lansia tidak harus dilakukan dengan kasih sayang. Justru sebaliknya, kita perlu mengakui bahwa merawat lansia adalah pekerjaan besar yang membutuhkan dukungan nyata.
Sering kali masyarakat membebankan seluruh tanggung jawab kepada satu anggota keluarga, biasanya anak perempuan atau anak yang dianggap paling dekat dengan orang tua. Ketika ia mengeluh lelah, muncul tuduhan tidak berbakti.
Padahal kelelahan bukan tanda tidak sayang. Seseorang bisa sangat mencintai ibunya sekaligus merasa tubuhnya kehabisan tenaga. Seseorang bisa ingin merawat ayahnya sendiri tetapi tetap membutuhkan bantuan saudara, tenaga kesehatan, atau caregiver profesional.
Inilah percakapan yang seharusnya lebih banyak kita lakukan. Perawatan lansia bukan hanya persoalan moral, tetapi juga persoalan tenaga, waktu, kesehatan mental, kemampuan finansial, dan pengetahuan. Keluarga membutuhkan sistem dukungan, bukan sekadar nasihat untuk lebih sabar.
Anak kecil dan lansia sama-sama membutuhkan kasih sayang. Tetapi kebutuhan mereka tidak identik. Jadi, mari berhenti membandingkan keduanya seolah-olah bebannya sama persis.
Yang sama mungkin adalah kesabaran, ketelatenan, kasih sayang, dan jiwa yang tenang. Tetapi porsinya berbeda, tantangannya berbeda, dan kebutuhan fisiknya pun berbeda.
Bagi siapa pun yang saat ini tinggal bersama dan merawat orang tua yang sudah lanjut usia, semoga tidak merasa sendirian. Tidak apa-apa meminta bantuan. Tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Merawat orang tua adalah bentuk kasih sayang yang luar biasa. Tetapi kasih sayang tidak seharusnya membuat seseorang merasa harus kuat sendirian. Karena merawat lansia bukan perlombaan tentang siapa yang paling berbakti, melainkan perjalanan panjang yang seharusnya dijalani dengan dukungan, pengertian, dan kemanusiaan.
Baca Juga
-
Dialog Indonesia dan Masa Depan: Antara Modernisasi vs Kemanusiaan
-
Guru Dituntut Mengurus Segalanya, Kapan Bisa Fokus Mengajar?
-
Belum 2040, Krisis Air Sudah Terasa: El Nino Ekstrem Tanda Peringatan Dini
-
Revisi UU Kehutanan Sekadar Tambal Sulam: Siapa yang Sebenarnya Dilindungi?
-
Efisiensi Anggaran Kesehatan Jangan Membuat Pasien BPJS Kehilangan Obat
Artikel Terkait
-
Anak Aktif atau ADHD? Kenali Gejala yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Kemenag Ingatkan Risiko Nikah Siri, Perempuan dan Anak Rentan Kehilangan Perlindungan Hukum
-
IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Berisiko Picu Infeksi hingga Dehidrasi
-
Minim Akses dan Kesempatan Jadi Hambatan Anak Muda Berkarya di Desa
-
9 Sabun Cuci Muka Anak Usia 812 Tahun Berbahan Alami, Lembut untuk Kulit Sensitif
Kolom
-
Pro dan Kontra Vasektomi: Pengentasan Kemiskinan atau Otonomi Tubuh?
-
5 Fakta Gerakan I Am Jane Doe, dari Doxxing hingga Aksi Solidaritas
-
Di Balik Aturan Tidak Naik Kelas: Mengurai Nasib Siswa Terpinggirkan
-
Gusar Biaya Transfer Mahal? Saatnya QRIS 'Menembus Piramida' Mesir!
-
Darurat Karhutla: Ketika Asap Beracun dan Ancaman Penyakit Mengintai Warga Tanpa Henti
Terkini
-
4 Pelembap Anti-Aging Bebas Pewangi agar Wajah Tetap Kencang Tanpa Iritasi
-
Lagu 'Tutur Batin': Pelukan Hangat untuk yang Ingin Bangkit dari Kegagalan
-
Sinopsis River, Film Horor Slasher Pembunuh Bertopeng di Sungai Terpencil
-
House of Hummingbird: Tentang Tumbuh di Dunia yang Tak Selalu Memberi Ruang
-
4 Padu Padan OOTD ala Chae Soo Bin, Gaya Preppy yang Anti-Boring!