Tidak semua orang tua tumbuh dengan bekal pengasuhan yang ideal. Sebagian membawa pengalaman masa kecil, kebiasaan keluarga, atau luka emosional yang tanpa disadari dapat memengaruhi cara mereka memperlakukan anak. Gagasan inilah yang menjadi salah satu fokus utama Philippa Perry dalam The Book You Wish Your Parents Had Read, buku psikologi pengasuhan yang mengajak pembaca memahami hubungan orang tua dan anak melalui kesadaran diri, empati, serta komunikasi.
Awalnya, saya membaca buku ini sekadar karena penasaran dengan label The Sunday Times No. 1 Bestseller yang terpampang di sampulnya. Namun, beberapa halaman kemudian, pandangan saya berubah. Buku ini terasa seperti bekal yang layak disimpan jauh-jauh hari, terutama jika suatu saat saya memiliki anak. Alih-alih hanya memberikan daftar aturan mengenai cara mendidik anak, Perry mengajak pembaca terlebih dahulu melihat dirinya sendiri.
Dengan jumlah 392 halaman, buku ini membutuhkan waktu cukup panjang untuk saya tuntaskan. Salah satu alasannya adalah gaya terjemahan yang menurut saya terasa agak kaku sehingga beberapa bagian tidak mengalir dengan begitu ringan. Meski demikian, gagasan utama yang disampaikan tetap mudah dipahami. Perry berhasil membawa persoalan pengasuhan yang kompleks menjadi pembahasan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Buku ini tersusun dalam enam bagian yang saling berkaitan. Bagian pertama mengajak pembaca menelusuri pengaruh pengalaman masa lalu terhadap cara seseorang mengasuh anak. Hal-hal yang tampak sepele dari masa kecil ternyata dapat meninggalkan jejak dan muncul kembali ketika seseorang menjadi orang tua.
Pembahasan berikutnya beralih pada lingkungan keluarga. Perry menekankan bahwa kualitas hubungan di dalam rumah lebih menentukan daripada bentuk keluarga itu sendiri. Setelah itu, pembaca diajak memahami emosi anak. Perasaan seperti takut, marah, kecewa, atau sedih bukan sesuatu yang harus segera dihentikan. Anak perlu merasa bahwa emosinya diterima dan dipahami.
Pada bagian tentang fondasi hubungan, Perry menjelaskan bahwa ucapan orang tua dapat membentuk suara batin anak. Cara orang tua berbicara kepada anak berpotensi menjadi cara anak berbicara kepada dirinya sendiri kelak. Karena itu, membangun komunikasi yang sehat menjadi bagian penting dalam pengasuhan.
Buku ini juga menekankan bahwa orang tua tidak dituntut selalu benar. Ketika melakukan kesalahan, meminta maaf kepada anak justru dapat memperkuat hubungan. Proses mengakui keretakan lalu berusaha memperbaikinya mengajarkan anak bahwa konflik tidak selalu berarti berakhirnya sebuah hubungan.
Salah satu gagasan yang paling menarik adalah bahwa perilaku anak sebaiknya dipandang sebagai bentuk komunikasi. Tangisan, kemarahan, atau ledakan emosi bisa menjadi cara anak menyampaikan kebutuhan ketika kemampuan mereka untuk menjelaskan perasaan masih terbatas. Karena itu, orang tua perlu belajar membaca pesan di balik perilaku tersebut.
Pada akhirnya, The Book You Wish Your Parents Had Read mengingatkan bahwa pengasuhan bukan tentang menjadi orang tua tanpa cela. Langkah awalnya justru mengenali luka sendiri, menghentikan kebiasaan buruk yang berpotensi diwariskan, serta belajar mengelola emosi sebelum menghadapi emosi anak. Orang tua juga dapat menggunakan bahasa yang berangkat dari perasaannya sendiri, misalnya mengungkapkan kekhawatiran daripada langsung memberikan tuduhan.
Bagi saya, kekuatan buku ini terletak pada pesannya yang sederhana tetapi mendalam, yakni kedekatan lebih penting daripada memenangkan perdebatan. Anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat, bukan sekadar dari nasihat yang mereka dengar. Dengan demikian, buku ini bukan hanya panduan membesarkan anak, tetapi juga ajakan bagi calon orang tua untuk terlebih dahulu membenahi hubungan dengan dirinya sendiri.
Identitas Buku:
Judul: The Book You Wish Your Parents Had Read
Penulis: Philippa Perry
Penerbit: Renebook
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786236083390
Tag
Baca Juga
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Ulasan Novel Mirai Karya Mamoru Hosoda: Belajar Memahami Arti Keluarga
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Serial The Gentlemen Season 2: Pengkhianatan Berdarah Keluarga Glass
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
Terkini
-
Jung Chaeyeon Perankan 3 Karakter di Drakor M: Reboot, Siap Tayang 2027
-
Mobile Suit Gundam RG XARX-ZERO Tayang April 2027, Hadirkan Dunia Baru
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!