Sebagian orang mungkin menganggap menulis sebagai kegiatan yang monoton. Bagi seseorang yang lama berkecimpung di dunia kepenulisan, pandangan tersebut tentu tidak bisa dibenarkan. Tidak sedikit penulis yang menjadikan menulis sebagai bentuk healing dan proses memahami diri sendiri.
Jika bicara soal pengalaman, mungkin saya hanyalah anak kemarin sore yang belum ada setahun bergabung di Yoursay. Namun, selama beberapa tahun menekuni bidang ini sebelum mengenal Yoursay membuat saya menjadikan menulis bukan sekadar media untuk berkarya dan menuangkan ide saja. Bagi saya, menulis juga menjadi cara untuk mengungkapkan berbagai hal yang sulit untuk saya katakan secara langsung. Bahkan di titik tertentu, menulis membantu saya merefleksikan peristiwa yang terjadi di hidup saya.
Rupanya, ini cukup senada dengan pembahasan di Ruang Bercakap #26. Forum diskusi kali ini mengangkat tema: Menulis Jadi Pelarian atau Malah Bikin Kewalahan? dengan menghadirkan dua member senior yang kurang lebih sudah enam tahun menulis di Yoursay, yaitu Kak Dini Sukmaningtyas dan Kak Fathorrozi.
Seperti yang sempat saya singgung di awal, menulis bisa menjadi cara seseorang untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit dilakukan secara langsung. Ini berlaku juga bagi saya sendiri. Sejujurnya, di dunia nyata, saya termasuk orang yang lebih nyaman menjadi pendengar dan tidak begitu pandai berbicara. Karena itu, tulisan menjadi ruang bagi saya untuk mengeluarkan pikiran dan perasaan.
Tanpa tindakan lebih lanjut, menulis saja mungkin tidak lantas menyelesaikan seluruh permasalahan hidup. Namun setidaknya, dengan menuangkan semua unek-unek yang kita miliki, hati dan pikiran bisa terasa lebih lega. Hal yang sama juga disampaikan oleh Kak Rozi di forum Ruang Bercakap #26 bahwa dengan menulis, beban di kepala menjadi lebih ringan. Karena itulah, bisa saya katakan menulis adalah salah satu bentuk healing murah yang bisa kita lakukan di mana saja.
Sayangnya, ketika menulis sudah berubah menjadi pekerjaan, kadang di saat yang sama muncul berbagai tuntutan yang membuat seseorang mulai merasa kewalahan. Mulai dari target jumlah karya, tenggat waktu, kualitas tulisan, hingga ide yang harus terus dicari. Rasanya tentu berbeda dengan kita menulis di luar tuntutan pekerjaan. Dalam kondisi seperti ini, kadang menulis yang sebelumnya menjadi tempat melepaskan beban justru bisa berubah menjadi beban itu sendiri dan membuat seseorang merasa burnout.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kak Dini menyampaikan bahwa menjadi seorang penulis tidak lantas membuat kita harus terus-menerus menghasilkan sebuah karya. Ada kalanya, seorang penulis perlu untuk mengambil jeda sejenak sebelum kembali berkarya. Mungkin, setelah membiarkan tubuh dan pikiran beristirahat sejenak, kita bisa lebih menikmati proses menulis yang kita lakukan.
Selain itu, ada sebuah kalimat yang cukup mencuri perhatian saya dari penyampaian Kak Fathorrozi di Ruang Bercakap #26 kali ini. Kalimat tersebut kurang lebih berbunyi: "Tulisan tak harus sempurna, hanya perlu jujur." Pernyataan sederhana itu kembali menyadarkan saya jika artikel yang berangkat dari pengalaman pribadi lalu diceritakan dengan jujur bisa lebih terasa hidup, menarik, dan memiliki ciri khas tersendiri ketika dibaca oleh orang lain.
Di akhir presentasi, Kak Rozi juga menyampaikan kalimat: "Ketika kepala terasa panas, biarkan tulisan menjadi tempat teduhnya." Sebuah kalimat penutup yang seolah menyimpulkan semuanya. Bagi banyak penulis, menulis bukan sekadar berkarya atau menuangkan isi pikiran saja. Terkadang, menulis bisa menjadi tempat untuk "pulang" ketika hidup terasa menyesakkan dan otak mulai memanas.
Menutup pembahasan ini, saya ingin menyampaikan bahwa menulis mungkin memang bisa menjadi tempat teduh ketika pikiran terasa penuh. Namun, sebagaimana tempat teduh lainnya, kita juga tidak harus terus berada di sana ketika tubuh dan pikiran sedang membutuhkan istirahat. Sebab, menulis seharusnya tidak selalu menjadi sesuatu yang harus dipaksakan ketika yang kita butuhkan sebenarnya adalah jeda.
Baca Juga
-
Tabungan Jadi Dana Bertahan, Salah Kelola atau Konsekuensi Keterbatasan?
-
Dewasa Ternyata Melelahkan: Bedah Makna di Balik Lagu 'Masa Mudaku Habis'
-
Banyak Misteri di A Bona Fide Killer, 3 Hal Ini Paling Bikin Saya Penasaran
-
Bukan Cuma Misteri, Ini 3 Hal yang Bikin Flex x Cop 2 Semakin Seru!
-
Lagi Capek-capeknya Hidup? Lagu 'Bersenja Gurau' Raim Laode Ini Wajib Kamu Dengar
Artikel Terkait
Kolom
-
Kenapa IPK dan Cum Laude Tak Lagi Cukup Buat Masuk Dunia Kerja?
-
Eksploitasi Kemiskinan dalam Film, Menyoal Marketing Operasi Pesta Copet
-
Fenomena Gaji Baru Masuk Sudah Habis, Harga Kebutuhan Ekonomi Makin Mahal
-
Ketika Rumah Satwa Hilang, yang Punah Bukan Hanya Hewannya
-
Jogja Kota Padat, Kenapa Anak Mudanya Tetap Kesepian?
Terkini
-
Debut Jepang! izna Rayakan Self Love dan Individualitas di Lagu Dumb Hot
-
The Let Them Theory: Buku dengan Konsep Sederhana untuk Hidup Lebih Tenang
-
Industri Anime Berduka, Sutradara Yuji Yanase Wafat di Usia 59 Tahun
-
Ada yang Hilang dari Xdinary Heroes, Lagu Lost and Found Jadi Lebih Nylekit
-
Lenovo Tab Plus Gen 2: Tablet Rasa Speaker Bluetooth dengan 9 JBL dan Audio 48 Watt