Dulu saat masih kecil, apa yang pernah terlintas di pikiran Sobat Yoursay tentang masa dewasa? Pasti banyak sekali. Kalau saya, dulu berpikir jika kelak akan kuliah, bekerja, menikah, punya anak, dan hidup lebih bahagia. Punya uang banyak dan bisa membeli apapun yang saya inginkan. Menikah dengan orang yang saya sukai. Bisa pergi traveling tanpa harus memikirkan biaya. Hingga menjalani hari-hari yang indah bersama keluarga.
Pemikiran yang sangat klise. Tapi jujur, ketika sudah mencapai usia 20-an, khayalan itu buyar sebab realita yang terlihat semakin nyata di depan mata. Masa dewasa tak lagi tampak indah. Karena di masa ini, kita dipaksa bisa menghadapi kenyataan kerasnya hidup yang mungkin dulu tak pernah kita bayangkan.
Melalui lagu Masa Mudaku Habis, Ghea Indrawari menceritakan setiap fase kehidupan kita. Mulai dari mengenang masa kecil, masa remaja, hingga masa menghadapi pendewasaan.
"Duduk dipangku di kala senja, dinyanyikan dan dibuai manja. Telah berlalu, masa kecilku habis."
Bait pertama menjadi nostalgia fase kehidupan anak-anak yang penuh kasih sayang, rasa aman, dan kepolosan. Fase ketika yang kita pikirkan hanyalah hal-hal sederhana, seperti bermain bersama teman-teman, ikut orang tua bekerja, atau jalan-jalan bersama saudara. Tak ada yang terasa begitu rumit, semua seolah tampak menyenangkan. Kita bisa tertawa lepas tanpa beban. Dan di masa ini, keluarga menjadi tempat berlindung paling aman bagi kita.
"Menanti orang yang kudambakan, hatiku berdebar tak karuan. Telah berlalu, masa mudaku habis."
Masa kecil berlalu seiring dengan kita yang mulai beranjak remaja. Di masa ini, kita mungkin merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hari-hari di sekolah kita lewati dengan penuh semangat. Berangkat pagi dengan senyum lebar. Sampai di sekolah, hati berdebar. Ada seseorang yang kita nantikan di sana. Entah dia yang berada di deretan sebelah bangku kelas. Atau kakak kelas yang setiap hari melewati depan kelas kita. Meski tak saling menyapa atau berbicara, melihatnya saja sudah cukup membuat kita tersenyum seharian. Masa-masa butterfly era yang kita rindukan setelah beranjak dewasa dan keceriaan romansa yang penuh kepolosan itu berlalu.
"Ke mana perginya masa-masa yang indah? Mengapa waktu begitu cepat berlalu? Kini yang tersisa, aku yang harus bisa menjalani pahit-manis hidup ini."
Bisa dibilang, masa anak-anak dan remaja adalah masa paling indah dalam hidup banyak orang. Bahkan kalau saja ada pintu untuk kembali ke masa lalu, mungkin saya akan dengan senang hati pergi ke masa itu. Namun, kita tahu itu tak mungkin dilakukan di dunia nyata. Waktu tetap berlalu begitu cepat. Usia kita semakin bertambah. Mau tak mau, kita tetap harus menghadapi masa dewasa. Menjalani fase yang menuntut kita untuk mandiri. Sekaligus fase di mana kita harus siap menghadapi realita hidup sendirian di dunia yang keras ini.
"Yakini hari esok 'kan indah. Nyatanya tak satu pun yang mudah. Apa jadinya (apa) masa depanku (apa jadinya), oh."
Bait yang terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Perihal rasa cemas soal masa depan yang bisa dirasakan oleh siapapun. Awalnya, kita mungkin percaya bisa melewati masa ini dengan mudah. Namun, harapan itu kemudian harus berbenturan dengan kenyataan kehidupan dewasa yang rumit. Ada banyak hal yang harus kita pikirkan, ada banyak pula yang harus kita hadapi. Perlahan, tapi pasti, kita menyadari jika menjadi orang dewasa tak seindah yang dulu pernah kita bayangkan saat kecil.
"Jadi dewasa kukira menyenangkan, tapi ternyata sulit dan melelahkan. Jika waktu bisa kuputar kembali 'kan kunikmati setiap detik."
Begitulah realita menjadi dewasa. Dulu, kita mengira menjadi dewasa itu menyenangkan. Namun, setelah melewatinya, ternyata kita harus menghadapi banyak hal yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya. Semua terasa begitu sulit dan melelahkan. Hingga perlahan, muncul penyesalan karena tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin selagi kita muda dulu. Yeah, memang benar apa kata orang, jika penyesalan datangnya selalu belakangan.
Namun, apa lagi yang bisa kita lakukan? Tidak mungkin ada adegan time travel ke masa lalu seperti yang pernah kita lihat di film atau drama Korea. Karena itu, di akhir lagu ini, Ghea menuliskan lirik, "Kan kujalani hari ini sebaik mungkin." Kalimat penutup yang seolah menjadi bentuk penerimaan. Masa muda kita mungkin telah habis. Namun, pilihan terbaik yang bisa kita lakukan sekarang adalah fokus memberikan yang terbaik untuk hari ini.
Bagi saya, lagu ini bukanlah sekadar tentang nostalgia masa lalu dan realita kehidupan dewasa. Melalui setiap bait liriknya, Ghea seolah ingin menyampaikan bahwa kita sudah melewati berbagai fase kehidupan sebelum akhirnya menjadi dewasa. Kehidupan dewasa mungkin terkadang memang terasa sulit dan melelahkan. Namun, seperti halnya kita bisa melewati setiap fase sebelumnya, selalu ada harapan kita bisa melalui masa-masa dewasa ini dengan terus berusaha melakukan yang terbaik untuk hidup kita.
Baca Juga
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Pepatah Lama Kini Dibantah Gen Z, Benarkah Nasihatnya Tak Lagi Relevan?
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
-
Begadang demi Pekerjaan: Benarkah Bekerja di Malam Hari Lebih Efektif?
-
Realita Perpisahan dalam Lagu Rutinitas yang Nggak Cuma Bikin Patah Hati
Artikel Terkait
-
Bikin Melayang! Taemin Temukan Kenyamanan Cinta di Lagu Solo Terbaru, Float
-
Penuh Semangat, RIIZE Ungkap Ikatan Persahabatan yang Kuat di Lagu Sunburst
-
Dari Komedi ke Tarik Suara, Rudal Timur Perkenalkan RUTIM
-
Stop Cari Validasi! NCT 127 Rangkul Jati Diri Lewat Lagu Terbaru, Blingy
-
Lagi Capek-capeknya Hidup? Lagu 'Bersenja Gurau' Raim Laode Ini Wajib Kamu Dengar
Ulasan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
Terkini
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu