Kalau kamu sudah akrab dengan konsep dikotomi kendali dalam stokisme, kamu mungkin tidak asing dengan anjuran tentang betapa pentingnya untuk menaruh perhatian pada apa yang bisa dikendalikan. Lalu sebaliknya, kita dianjurkan untuk tidak ambil pusing dengan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Namun pada prakteknya, ternyata konsep dikotomi kendali tidak semudah itu.
Sebagai seorang ibu muda yang diliputi banyak kecemasan tentang anak, keluarga, dan masa depan, menerapkan teori di atas adalah hal yang sulit bagi saya pribadi. Rasanya stres sekali memikirkan perkara anak tidak mau makan, hingga gaji yang harus cukup hingga akhir bulan. Lantas, bagaimana sih caranya agar bisa hidup sedikit lebih tenang di tengah situasi yang rasanya tidak pernah menghadirkan ketenangan?
Terkait hal tersebut, saya menemukan sebuah konsep menarik yang bisa menjadi solusi yang mudah untuk dipraktekkan agar hidup lebih tenang. Yakni The Let Them Theory, sebuah buku yang ditulis oleh Mel Robbins.
Sebagaimana judulnya, The Let Them Theory ini mengajarkan tentang cara agar kita lebih mudah untuk mengatakan 'biarkan saja' pada hal-hal yang berjalan tidak menyenangkan.
Kamu terlalu takut berbicara di depan umum karena arena takut di-judge? Ya sudah, biarkan saja. Tidak berani melangkah karena takut tidak diterima di lingkungan baru? Biarkan saja. Overthinking dengan pilihan hidup dan masa depan? Biarkan saja. Kalau sesuatu berjalan tidak seperti yang diinginkan, biarkan saja.
Biarkan saja semua emosi negatif itu. Biarkan saja mereka ada sejenak, lalu beranilah mengambil keputusan.
Melakukan apa yang harus dilakukan alih-alih memikirkan konsekuensi dan overthinking. Mel Robbins mengingatkan tentang pentingnya mengambil kendali atas hidup saat kita terlalu banyak berpikir. Sebab, pada kenyataannya, semuanya akan berjalan tidak seburuk yang dipikirkan. Setidaknya jika kita sudah mencoba, konsekuensi yang baik atau buruk biarkanlah terjadi.
Yang membuat kita seringkali cemas adalah kecenderungan untuk merasa aman dan nyaman terhadap sesuatu dengan memastikan bahwa semuanya berada di atas kendali. Berusaha memegang kendali tidak menyurutkan rasa takut. Bahkan menurut psikolog, justru sebaliknya. Tambah bikin cemas dan stres.
Keamanan dan kenyamanan tersebut mustahil untuk diwujudkan sepanjang hidup. Ujung-ujungnya justru hanya membuat kita lelah dan kewalahan. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menaruh perhatian atas tindakan-tindakan kita.
Kata kunci dari buku ini adalah let them dan let me. Jika orang-orang menjauh, mencaci-maki, menghakimi, let them. Biarkan saja mereka dengan apa yang mereka lakukan dan pikirkan. Lalu, let me untuk melakukan apa yang sudah seharusnya menjadi tugas diri sendiri.
Hal itu memungkinkan kita untuk bisa fokus dengan apa yang bisa kita lakukan dan pikirkan tentang hidup kita sendiri.
Saya pikir, buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang kebanyakan berpikir hingga orang-orang yang kerap berusaha menyenangkan semua orang dengan mengorbankan batasan diri sendiri.
Ada sebuah kutipan yang bagi saya cukup menarik.
"Saat berkata biarkan saja, kau bukannya menyerah atau pergi. Kau melepaskan genggaman pada bagaimana segala sesuatu seharusnya terjadi dan membiarkannya berjalan seperti apa yang akan terjadi. Kau membebaskan diri."
Jujur saja, menjadi people pleaser yang juga kerap overthinking itu melelahkan sekali. Tapi buku ini menyadarkan saya bahwa dengan teori sederhana, mata rantai pikiran yang sudah ke mana-mana itu bisa kita putuskan dengan satu mantra ajaib: let them and let me.
Semakin kita membiarkan orang lain menjalani hidup mereka, semakin baik hidup yang bisa kita jalani. Semakin besar kendali yang dilepaskan, semakin banyak yang kita dapatkan.
Jadi, bagi kamu yang butuh rekomendasi buku self-help agar bisa menjalani hidup dengan lebih tenang, The Let Them Theory bisa menjadi bacaan yang menarik untuk disimak!
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
Terkini
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu