"Guru yang baik bukanlah guru yang berhenti belajar, tetapi guru yang terus bertumbuh bersama murid-muridnya."
Kalimat itu menjadi pengingat yang begitu kuat bagi saya setelah mengikuti Wardah Inspiring Teacher secara online.
Awalnya saya mengira kegiatan ini hanya akan menjadi seminar daring seperti biasanya. Saya menyiapkan buku catatan, duduk di depan laptop, lalu mendengarkan materi dari para narasumber. Namun, ternyata saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar materi pembelajaran. Saya mendapatkan ruang untuk kembali berdialog dengan diri sendiri, mengingat lagi alasan mengapa saya memilih bertahan di profesi ini.
Selama ini banyak orang berpikir bahwa di sekolah hanya murid yang belajar. Padahal, menurut saya, justru gurulah yang setiap hari dipaksa untuk terus belajar.
Saya belajar memahami karakter anak yang berbeda-beda. Saya belajar mengelola emosi ketika keadaan tidak sesuai harapan. Saya belajar menerima bahwa setiap anak memiliki waktu tumbuh yang berbeda. Saya belajar untuk lebih sabar, lebih kreatif, dan lebih ikhlas.
Bahkan, saya sering merasa murid-murid saya adalah guru terbaik dalam hidup saya.
Mereka mengajarkan arti kesabaran tanpa mengucapkannya. Mereka mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa sesederhana dipuji karena berhasil mengancingkan baju sendiri atau mampu menulis namanya dengan rapi. Mereka mengingatkan saya bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari hal-hal besar, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari.
Saya mencintai dunia pendidikan. Bahkan mungkin, inilah salah satu bagian hidup yang paling saya cintai. Namun, jika saya berkata bahwa perjalanan ini selalu mudah, tentu itu tidak benar.
Sebagai guru, terutama guru anak usia dini, saya juga manusia biasa yang memiliki banyak pertimbangan. Ada saat-saat ketika saya memikirkan masa depan. Ketika melihat kebutuhan hidup semakin meningkat sementara kesejahteraan guru belum selalu sebanding dengan pengorbanan yang diberikan.
Tidak jarang saya bertanya dalam hati, "apa saya harus berhenti menjadi guru? Mencari pekerjaan lain yang penghasilannya lebih menjanjikan?"
Pertanyaan itu pernah datang berkali-kali. Logika saya berkata bahwa saya harus mencari pekerjaan yang lebih mapan secara finansial. Namun hati saya selalu menolak.
Karena setiap kali saya berada di depan anak-anak, setiap kali mereka memanggil saya dengan senyum yang tulus, saya merasa berada di tempat yang memang Allah pilihkan untuk saya.
Dan di situlah pikiran dan hati saya sering "berperang".
Saya yakin, banyak guru di luar sana yang pernah merasakan hal yang sama.
Mengikuti Wardah Inspiring Teacher membuat saya sadar bahwa perjuangan itu bukan hanya milik saya. Banyak guru lain yang tetap memilih bertahan karena mereka percaya bahwa profesi ini adalah ladang kebaikan yang tidak selalu bisa diukur dengan materi.
Salah satu hal yang semakin saya syukuri adalah kesempatan menjadi guru PAUD. Dulu saya mengira mengajar anak-anak kecil akan lebih mudah dibandingkan mengajar jenjang yang lebih tinggi.
Ternyata saya salah. Justru di sinilah saya menyadari betapa luar biasanya guru-guru PAUD dan TK.
Bukan berarti guru SMP atau SMA tidak luar biasa. Semua guru memiliki tantangan masing-masing.
Namun, mengajar anak usia dini membutuhkan tenaga, kesabaran, kreativitas, dan kasih sayang yang luar biasa besar.
Misalnya ketika sekolah mengadakan pentas seni.
Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya ketika anak-anak tampil di atas panggung.
Padahal di balik penampilan itu ada proses yang sangat panjang.
Anak-anak TK belum bisa menghafal gerakan sendiri. Kami harus mengajarkan setiap langkah, setiap posisi, setiap ekspresi, bahkan mengulang gerakan yang sama berkali-kali. Belum lagi ketika latihan ada yang tiba-tiba ingin bermain, berlari ke sana kemari, menangis, atau sibuk mengobrol dengan temannya.
Kadang saya pulang dengan badan yang benar-benar lelah.
Namun anehnya, ketika melihat mereka akhirnya berani tampil di atas panggung dengan penuh percaya diri, semua rasa lelah itu seperti terbayarkan.
Momen-momen sederhana seperti itulah yang membuat saya terus bertahan.
Dalam Wardah Inspiring Teacher saya juga belajar bahwa guru perlu terus mengembangkan diri. Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dengan masa kecil kita. Karena itu, guru tidak cukup hanya mengajar dengan cara yang sama setiap tahun. Guru perlu terus belajar, mencoba metode baru, memanfaatkan teknologi dengan bijak, serta menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
Materi-materi yang disampaikan membuka mata saya bahwa menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan menciptakan pengalaman belajar yang membahagiakan bagi setiap anak.
Saya juga belajar bahwa guru tidak boleh lupa merawat dirinya sendiri. Guru yang bahagia akan lebih mudah menghadirkan pembelajaran yang penuh semangat. Guru yang terus belajar akan menginspirasi muridnya untuk mencintai proses belajar sepanjang hayat.
Setelah mengikuti kegiatan ini, saya tidak hanya membawa pulang catatan materi atau sertifikat. Saya membawa pulang keyakinan baru.
Bahwa mungkin jalan ini memang tidak selalu memberikan kemewahan.
Mungkin profesi ini belum mampu membuat semua guru hidup berkecukupan.
Namun saya percaya, setiap huruf yang saya ajarkan, setiap air mata yang saya usap, setiap tangan kecil yang saya genggam saat mereka belajar melangkah, semuanya adalah investasi kebaikan yang nilainya jauh melampaui apa yang bisa dihitung dengan angka.
Harapan saya, Wardah Inspiring Teacher tidak berhenti sebagai seminar inspiratif. Akan sangat bermakna jika ke depannya ada pendampingan berkelanjutan, komunitas belajar antarguru, kelas praktik, atau forum berbagi pengalaman. Dengan begitu, semangat yang tumbuh selama kegiatan dapat terus hidup dan berkembang dalam praktik mengajar sehari-hari.
Hari itu saya memang hanya duduk di depan layar laptop.
Namun sesungguhnya, saya sedang melakukan perjalanan pulang—pulang kepada alasan pertama mengapa saya memilih menjadi guru.
Dan hari ini saya kembali berkata kepada diri sendiri.
"Selama Allah masih memberi saya kesempatan untuk membersamai anak-anak belajar, saya ingin terus bertumbuh bersama mereka. Karena sejatinya, bukan hanya mereka yang belajar dari saya, tetapi saya pun setiap hari belajar dari mereka."
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Tak Sekadar Kuliah, WNI Kini Mulai Melirik New Zealand untuk Membangun Karier Global
-
Kesempatan Emas! Beasiswa Pesisir Nusantara 2026 Jaring Calon Pemimpin Muda Berkarakter
-
Empat Siswa dari Wolo Raih Beasiswa ke Sekolah Unggulan, Potret Pentingnya Pemerataan Pendidikan
-
Sentil Kesenjangan Pendidikan, Hafid Abbas: 99,5 Persen Kampus Berkualitas Menumpuk di Jawa
-
Gus Ipul Minta Kepala Sekolah Rakyat Utamakan Empati, Integritas, dan Anti-Bullying
Kolom
-
Indonesia Ekspor Listrik ke Luar Negeri, Mengapa Warga Masih Sering Gelap-gelapan?
-
Setelah 13 Tahun Hibernasi: Akankah Madu Diplomatik Indonesia-Belarus Bertahan?
-
Dari Mati Lampu ke Ekspor Listrik: Sebuah Ironi Kebijakan?
-
Portugal Pulang dengan Satu Pertanyaan Besar: Identitasnya Ada di Mana?
-
Viral Hari Ini, Hilang Esok Hari: Mengapa Kita Sering Terjebak 'Lupa' pada Masalah?
Terkini
-
Film Shelter Membuktikan Jason Statham Bisa Berhenti Menjadi Mesin Pembunuh
-
Rumor Dapat Peran James Bond Mencuat, Begini Respons Louis Partridge
-
Belgia Sukses Permalukan AS Balas Ulah Konyol Donald Trump pada FIFA
-
Akhiri Perjalanan Panjang di Piala Dunia, Ronaldo Penggendong Prestasi Sepak Bola Portugal
-
Gintama: Yoshiwara in Flames Menebas Cara Kita Memandang Korban Penindasan