Sebagai perempuan, saya masih ingat kebiasaan waktu sekolah dulu. Setiap masuk masa menstruasi dan mau mengganti pembalut di toilet, pembalut yang masih terbungkus harus disembunyikan di balik buku, dimasukkan ke saku, atau dibawa dengan tangan serapat mungkin supaya tidak ada yang melihat.
Membawa pembalut rasanya seperti membawa benda terlarang. Begitu pula kalau membeli pembalut di warung. Biasanya, barang itu akan langsung dimasukkan ke dalam kresek hitam, seolah-olah ada sesuatu yang memalukan di dalamnya.
Dulu saya tidak pernah benar-benar mempertanyakan kenapa harus begitu. Rasanya hal itu memang sudah menjadi aturan tidak tertulis. Pembalut adalah sesuatu yang dibutuhkan perempuan, tetapi keberadaannya sebisa mungkin jangan sampai diketahui orang lain. Bahkan untuk sekadar membawanya dari satu tempat ke tempat lain pun ada semacam rasa sungkan.
Sekarang kalau mengingatnya lagi, saya justru merasa kebiasaan itu cukup aneh. Dari hal sesederhana pembalut saja, kita bisa melihat bagaimana rasa malu terhadap tubuh perempuan ternyata ditanamkan lewat kebiasaan-kebiasaan kecil. Tubuh perempuan bukan aib, tetapi mengapa hal yang normal masih dianggap memalukan?
Perempuan Terlalu Lama Diajari Menyembunyikan Tubuhnya
Ada banyak hal tentang tubuh perempuan yang sejak kecil terasa seperti urusan yang harus disimpan sendiri. Lama-lama, perempuan jadi punya semacam “radar malu” sendiri.
Padahal, tubuh tidak selalu bisa diajak bekerja sesuai standar kerapian yang kita mau. Ada hari ketika wajah sedang penuh jerawat, rambut tumbuh di tempat yang tidak diinginkan, atau pakaian dalam terkena noda menstruasi.
Namun, perempuan sering kali tumbuh dengan kesadaran bahwa tubuhnya harus terus dikontrol agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang lain.
Orang-orang zaman dulu terlalu sering mengajarkan perempuan cara menyembunyikan tubuh, bukan cara berdamai dengannya. Ada bagian tubuh yang harus dicukur, noda yang harus ditutupi, dan fungsi tubuh yang harus dibuat seolah tidak pernah ada. Padahal, menjadi perempuan seharusnya tidak datang bersama kewajiban untuk selalu terlihat sempurna.
Standar Cantik Membuat Perempuan Tak Boleh Terlihat “Biasa”
Ada standar yang terasa begitu wajar sampai sering tidak kita sadari. Perempuan seolah diharapkan selalu terlihat rapi, wangi, bersih, dan enak dipandang. Bahkan ekspresi wajah pun kadang terasa punya aturan sendiri. Perempuan cantik adalah perempuan yang tahu bagaimana terlihat cantik.
Masalahnya, manusia memang tidak dirancang untuk terlihat menarik setiap waktu. Namun, perempuan sering mendapatkan tuntutan yang lebih rumit untuk urusan penampilan.
Bahkan sesuatu sesederhana stretch mark atau jerawat bisa terasa seperti kekurangan yang harus diperbaiki. Produk perawatan kemudian datang menawarkan solusi untuk hampir semua bagian tubuh yang dianggap “kurang”.
Saya tidak mengatakan bahwa merawat diri adalah sesuatu yang salah. Yang terasa melelahkan adalah gagasan bahwa perempuan harus terus memperbaiki dirinya agar layak dilihat.
Tubuh Perempuan Selalu Dianggap Urusan Semua Orang
Aneh rasanya, tubuh perempuan sering diperlakukan seperti milik umum. Orang merasa berhak mengomentari pakaian, berat badan, bentuk tubuh, sampai cara seorang perempuan duduk atau berjalan.
Ada saja yang merasa perlu memberi tahu mana yang pantas, mana yang terlalu terbuka, mana yang terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu seksi, atau terlalu tidak terawat. Lebih aneh lagi, komentar semacam itu sering dibungkus sebagai bentuk kepedulian.
Saya kira perempuan juga berhak punya ruang untuk sekadar menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu terus menerus memikirkan apakah dirinya sudah cukup rapi, cukup cantik, atau cukup sesuai dengan ekspektasi orang lain. Toh, perempuan juga manusia, bukan pajangan yang harus selalu indah dilihat.
Baca Juga
-
Di Balik Tren Stop the Wedding: Bukan Takut Nikah, Tapi Makin Sadar Risiko
-
Salah Kaprah Budaya Nrimo dan Hilangnya Kesadaran atas Hak Hidup Layak
-
Cuan Tanpa Drama: Mudahnya Investasi Bersama New BIONS by BNI Sekuritas
-
Orang Miskin Dituntut Tahu Diri, Orang Kaya Bebas Mengejar Ambisi
-
The Spies Who Loved Me: Uniknya Kisah Cinta di Balik Operasi Intelijen
Artikel Terkait
-
IFW Soroti Kerentanan Perempuan dalam Pernikahan Siri Usai Kasus Pembunuhan di Madiun
-
Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau
-
Pembalut Kena PPN, Perempuan Harus Bayar Lebih untuk Kebutuhan Biologisnya?
-
Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan
-
Soroti Kasus Pembunuhan Ibu-Anak di Madiun, Menteri PPPA Ungkap Alasan Pemerintah Terlihat Lamban
Kolom
-
Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
-
Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?
-
Perundungan Linguistik: Apa Kita Masih Punya Ruang untuk Belajar Berbahasa?
Terkini
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
-
Siap Uji Nyali? Ini 6 Film Horor Terbaik 2026 Buat Temani Malam Halloween
-
The Vanishing Beauty: Kisah Kebangkitan Wanita dari Badai Pengkhianatan
-
Buku 32 Tahun Menjarah Alam: Membongkar Sejarah Hancurnya Bumi Nusantara
-
Sinopsis '4 Out: Mo Ichido, Play Ball', Film Jepang Dibintangi Aiba Masaki