Berbeda dengan perayaan Maulid di daerah lain, pembedanya di kampung saya Balanipa itu ada arak-arakan Sayyang Pattu'du atau kuda menari. Dari jauh sudah kedengaran tabuhan rebana pengiringnya yang bertalu-talu. Kuda yang sudah dihias itu dinaiki langsung oleh pessawe yang baru saja khatam Al-Qur'an, lalu diarak keliling kampung. Di rumah, ibu-ibu sudah siap dengan bukkaweng dan tiri' untuk penyambutan.
Kami orang Mandar menyebutnya Mammunu'. Atau orang tua dulu bilang Pammunuang.
Buat orang luar yang lihat pertama kali pasti bingung. Kenapa anak kecil naik kuda mewah keliling kampung? Kenapa ada pohon pisang digantungi telur warna-warni?
Jawabannya simpel: kami sedang merayakan cinta kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara kami sendiri.
Saya tumbuh besar dengan tradisi ini, jadi izinkan saya cerita apa itu Mammunu'.
Lebih dari Sekadar Barzanji
Banyak yang kira Mammunu' itu cuma baca Barzanji. Padahal bukan. Barzanji itu intinya saja. Mammunu' itu satu paket lengkap.
Awalnya selalu dimulai dengan Mattammai Qoro'ang. Anak-anak yang sudah tamat mengaji 30 juz dikhatamkan di masjid atau di rumah guru ngaji.
Setelah itu baru masuk Ma'barasanji dan Massalawa. Lantunan sholawat bersahut-sahutan.
Dan puncaknya, inilah yang ditunggu semua orang: Sayyang Pattu'du.
Anak yang tadi khatam Al-Qur'an didandani seperti raja kecil, naik kuda yang dihias kain Mandar, manik-manik, dan pernak-pernik emas. Kudanya dilatih untuk "menari" mengikuti pukulan rebana dari parrawana. Dia diarak keliling kampung.
Saya pernah baca di jurnal penelitian UPI tahun lalu, ternyata Sayyang Pattu'du ini bukan cuma pertunjukan. Maknanya dalam. Ini cara orang Mandar bilang, "Nak, kami bangga kamu sudah khatam Al-Qur'an. Ilmu agamamu adalah mahkota kami." Jadi kuda itu simbol penghargaan.
Belum selesai. Setelah arak-arakan, ada lagi yang kami sebut Mambare Barakka'. Panitia bagi-bagi berkat Maulid. Dan yang paling ikonik, ada pohon pisang yang digantungi telur rebus yang sudah diwarnai. Kami sebut pohon telur. Filosofinya telur itu kesucian, awal yang baru.
Sekolah Kehidupan Berwujud Tradisi
Kalau dipikir-pikir, Mammunu' ini sebenarnya sekolah kehidupan.
Di kampus UPI ada penelitian yang bilang, di dalam Mammunu' ada semua nilai Pancasila. Saya setuju sekali. Gotong royongnya ada, namanya Sikalu-kalulu. Saling menghargainya ada, Sipakala'bi. Kebersamaannya ada, Massiola-ola. Semua dipraktikkan, bukan cuma dihafal.
Sayangnya, dulu tradisi seperti ini hampir hilang di beberapa desa. Anak muda lebih tertarik nonton TikTok daripada tabuh rebana.
Makanya saya senang sekali, dua tahun terakhir Pemprov Sulbar mulai serius. Mereka bikin Festival Pammunuang di Buttu Ciping Tinambung. Saya lihat sendiri tahun lalu di berita, acaranya dua hari, ada lomba tiri', ada pentas seni, ada UMKM kuliner Mandar juga. Kepala Dinas Pariwisata Sulbar, Bau Akram, bahkan bilang sendiri kalau Mammunu' ini punya daya tarik wisata yang unik karena tidak ada di daerah lain.
Ini langkah bagus. Tradisi dijaga, ekonomi jalan.
Buat saya pribadi, Mammunu' itu bukti kalau Islam dan adat Mandar itu tidak pernah berantem. Mereka saling rangkul. Cinta kepada Nabi tidak harus dengan cara yang kaku. Di Mandar, cinta itu dirayakan, dinaikkan di atas kuda, dan ditabuh dengan rebana sampai satu kampung ikut bahagia.
Luluare' yang dari Mandar juga, masih ingat kapan terakhir lihat Sayyang Pattu'du di kampungta?
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pesta Petasan Bikin Anak Trauma! Warga Pondok Pinang Tempuh Jalur Hukum
-
Update Viral Petasan Maulid Nabi Pondok Pinang, Polisi Bergerak
-
Viral Diduga Ibu Pejabat Dikipasi Saat Makan di Acara Maulid bak Zaman Firaun, Netizen Sindir Telak
-
Maulid Nabi di PKS, AMY Serukan Semangat Al-Quran dan Keteladanan Rasulullah
-
Kirab Gunungan Meriahkan Grebeg Maulud di TMII
Kolom
-
Di Rumah atau Dirumah? Kesalahan Sepele yang Terus Berulang di Media Sosial
-
Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan
-
Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau
-
Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Evolusi atau Ancaman Identitas?
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
Terkini
-
Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu
-
Tetsuya Chiba, Kreator Ashita no Joe, Meninggal Dunia pada Usia 87 Tahun
-
Gantikan Alan Ritchson, Keanu Reeves Bintangi Film Aksi Netflix Maelstrom
-
Enam Cerita, Satu Kematian: Menelusuri Kebenaran di Novel Girls in the Dark
-
Date A Live F Last Date Rilis Film Maret 2027, Jadi Penutup Kisah Shido