Akhir-akhir ini menjadi penggemar K-pop dan K-drama di Indonesia terasa sangat menyenangkan sekaligus menguras kantong. Hampir seluruh hal di sekitar kita tidak jauh-jauh dari industri hiburan Korea Selatan, entah itu idol, aktor, maupun aktris. Mulai dari urusan kopi, camilan ringan, hingga aktivitas perbankan, selalu ada wajah idola Korea yang terpampang sempurna sebagai brand ambassador.
Sebut saja membeli bundling Kopi Kenangan demi mendapatkan sleeve cup dan photocard Haechan NCT, berburu camilan di minimarket untuk mendapatkan photostrip BoyNextDoor atau ENHYPEN, hingga membuka tabungan deposito demi memperoleh kesempatan bertemu Mingyu dan Wonwoo SEVENTEEN. Bagi penggemar yang turut meramaikan promo-promo semacam ini, rasa berburu koleksi edisi kolaborasi ini membawa kesenangan tersendiri, meski dompet ikut menjerit.
Jika dilihat dari kacamata bisnis, fenomena ini sebenarnya adalah strategi branding yang sangat intuitif dan terbukti berhasil. Tapi pertanyaannya, kenapa strategi sesederhana ini bisa mendongkrak penjualan secepat itu?
Jawabannya ada pada pergeseran objek yang dibeli konsumen. Saat penggemar rela membeli lima gelas kopi sekaligus, sebenarnya yang mereka beli bukan kopinya melainkan rasa dekat dengan idola. Produk hanya jadi perantara. Inilah inti dari emotional buying, keputusan membeli yang digerakkan oleh perasaan dan keterikatan personal, bukan kebutuhan rasional semata. Semakin kuat ikatan emosional penggemar dengan sang idola, semakin besar pula kerelaan mereka mengeluarkan uang, bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan.
Faktor kedua yang membuat strategi ini ampuh adalah prinsip kelangkaan atau scarcity. Merchandise seperti photocard biasanya dibuat dalam jumlah terbatas dan desain acak (random), sehingga penggemar tidak cukup membeli satu produk saja untuk mendapatkan member favoritnya. Ada unsur untung-untungan yang justru bikin ketagihan, mirip mekanisme membeli kartu koleksi atau gacha dalam game. Rasa "harus punya sebelum kehabisan" inilah yang kemudian memicu FOMO alias fear of missing out. Ketakutan tertinggal atau tidak kebagian varian tertentu, yang pada akhirnya mendorong pembelian berulang dalam jumlah besar.
Kombinasi emotional attachment dan scarcity ini bekerja sangat efektif di Indonesia, mengingat besarnya basis penggemar K-pop di Indonesia. Mengutip data dari GoodStats, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penggemar K-pop terbanyak di dunia. Basis penggemar sebesar ini menjadi pasar yang sangat potensial bagi brand lokal untuk menggandeng idol sebagai strategi pemasaran, karena loyalitas penggemar K-pop dikenal tidak hanya sebatas mendengarkan musik atau menonton drama, tapi sudah bergeser ke ranah dukungan yang lebih konkret dan personal.
Dari sisi bisnis, pola ini menciptakan situasi yang saling menguntungkan. Brand mendapatkan lonjakan penjualan instan tanpa perlu mengubah kualitas produk secara signifikan, cukup dengan menempelkan wajah idola dan menyediakan merchandise eksklusif. Di sisi lain, penggemar mendapatkan kepuasan emosional dari mendukung idola sekaligus kesempatan mengoleksi barang bernilai personal tinggi. Owner menyediakan apa yang diinginkan konsumen, sementara penggemar dengan senang hati mengeluarkan dana untuk mendukung idolanya. Tidak heran jika strategi ini terus diulang oleh berbagai brand, dari F&B hingga perbankan, karena hasilnya nyaris selalu terbukti mendatangkan keuntungan berlipat.
Namun, di balik efektivitasnya, ada baiknya penggemar tetap sadar batas antara mendukung idola dan mengikuti dorongan impulsif semata. Merasa senang mengoleksi photocard tentu sah-sah saja, tapi penting untuk tetap mengenali kapan pembelian didasari kebutuhan mendukung karya, dan kapan hanya didorong oleh rasa takut ketinggalan. Pada akhirnya, strategi emotional buying ini akan terus berjalan mulus selama penggemar dan brand sama-sama tahu bagaimana memainkan perannya masing-masing.
Baca Juga
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
-
Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom
-
Feminin Aura! Varian Parfum Wardah yang Bikin Vibes Soft Girl Auto Menguar
-
Estetik ala Pinterest Girl, Berikut 5 Trik Pose dan Filter ala Xu Ruohan
-
Pesona Alam di Bawah Bayang-Bayang Ekskavator: 4 Wisata Indonesia yang Terdampak Tambang
Artikel Terkait
-
Hakuhodo Ungkap Generasi 40+ Kini Jadi Prime Audience Baru Bagi Brand
-
Mykonos Baby Love Wangi Apa? Ini Harga Parfum yang Dipakai Haechan NCT
-
SEVENTEEN Akan Hiatus untuk Wajib Militer, Sisa 5 Member yang Tetap Aktif
-
Diskon Khusus 17 Agustus di Kopi Kenangan, Nasabah BRI Merapat!
-
Bebas dari Status Tersangka, Piche Kota Akui Alami Trauma: Saya Belum Bisa Kembali Normal
Kolom
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah
-
Tidak Semua Harus Dibagikan, Ini Alasan Pentingnya Membangun Batas Privasi di Dunia Maya
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
Terkini
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal