Hayuning Ratri Hapsari | M. Fuad S.T.
Eks Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa (dok. Kemenkeu)
M. Fuad S.T.

Pemecatan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan RI di pertengahan bulan September ini membuat masyarakat tergaduh. Pasalnya, di antara deretan menteri yang mengisi kabinet Presiden Prabowo Subianto, Purbaya dinilai menjadi salah satu nama yang memiliki kinerja terbaik.

Bukan hanya itu, semenjak dilantik oleh Presiden Prabowo menggantikan Sri Mulyani pada tahun 2025 lalu, Purbaya juga menjadi media serta people's darling di pemerintahan ini. Manuver-manuver menteri yang satu ini bahkan kerap ditunggu-tunggu oleh khalayak. Seolah menjadi magnet pemicu kepercayaan kaum proletarian di tengah kinerja pemerintahan yang semakin hari semakin membingungkan.

Sehingga sontak saja ketika nama Purbaya muncul dalam barisan menteri yang terkena reshuffle, kehebohan muncul di masyarakat. Dan seiring dengan kejadian itu, satu pelajaran besar bisa saya dapatkan, karena ternyata menjadi abdi pemerintah, kita dilarang keras untuk memiliki hati yang melankolis.

Menjadi Abdi Pemerintah Sejatinya Tak Pernah Ada Kata Aman

Sama halnya seperti Purbaya, status saya saat ini adalah pegawai pemerintah—namun tentu saja dengan level yang berbeda jauh. Sebagai orang dengan profesi pekerjaan yang cenderung sama, pemecatan Purbaya ini secara langsung memberikan pembelajaran mendalam kepada saya bahwa sejatinya, menjadi abdi pemerintah tak pernah benar-benar aman seratus persen.

Bayang-bayang pemberhentian selalu ada setiap waktu, bahkan melalui cara yang sama sekali tak terduga. Saya pribadi disamping merasa miris, juga menyimpan ketakutan tersendiri. Sebagai menteri dengan kinerja sebaik Purbaya—yang mana salah satu indikator yang saya dapatkan adalah statemen-statemen beliau yang cenderung berpihak kepada rakyat—posisinya tak serta-merta aman.

Dengan sifat sepeka dan seserius itu terhadap permasalahan keuangan negara—yang menjadi ciri-ciri orang melankolis—Purbaya masih saja didepak dari kabinet pemerintahan saat ini. Bahkan, caranya pun bisa saya katakan kurang beretika, yakni ketika beliau sedang mengadakan rapat, dan hanya dilakukan melalui sambungan telepon.

Jika Purbaya yang sepeduli dan sekompeten itu di bidangnya saja masih tak aman dari pemberhentian—atau mungkin pemecatan dari atasan—, bagaimana dengan kita—khususnya saya—yang hanya menjadi pelengkap dalam sistem kepegawaian negara ini? Tentu secara logika sederhana sangat jauh dari kata aman, karena lebih mudah untuk dibuang bukan?

Mungkin, hanya perlu sedikit tendensi dan perbedaan pandangan dari atasan atau pimpinan untuk menyingkirkan kita selaku pegawai kelas umbi-umbian ini.

Abdi Negara Harus Selalu Siap Menghadapi Perpisahan

Alasan kedua mengapa menjadi abdi negara dilarang keras memiliki hati yang rapuh dan jiwa melankolis adalah, karena kita harus selalu siap dengan yang namanya perpisahan.

Sama halnya dengan pemberhentian atau pemecatan, mutasi pegawai juga menjadi hal yang harus dihadapi oleh pegawai negara setiap waktunya. Dengan alasan yang beragam, perpindahan dari satu tempat ke tempat lain seolah menjadi kejutan yang tak pernah disangka-sangka.

Perpisahan seperti ini lah yang tentu saja tak disukai oleh mereka yang berhati rapuh dan melankolis. Apalagi ketika di tempat kerja yang lama, mereka sudah menyatu dan melebur dengan rekan-rekan sejawatnya. Momen perpisahan akan menjadi semakin pilu saja rasanya bagi pegawai jenis seperti itu.

Semua chemistry yang sudah terbangun dengan susah payah sebelumnya harus hancur begitu saja ketika negara—atau mungkin atasan—memutuskan untuk memberikan SK mutasi kepada sang pegawai. 

Mungkin, bagi sebagian rekan kerja, kepindahan kita ke tempat yang baru akan disambut dengan rasa suka-cita seperti yang terjadi dengan Purbaya. Namun bagi mereka yang sepaham dengan kita, lebih-lebih kita sendiri, perpisahan itu akan menjadi sebuah momen yang cukup menyayat hati karena setidaknya akan membuat pola kerja yang saling menyesuaikan satu sama lain akan mengalami reset.

Iya, seiring dengan keputusan negara untuk memutasikan, kita sebagai abdi negara harus kembali memulai chemistry dari awal lagi. Dari titik nol.

Momen ini bahkan secara pribadi pernah aku alami di tahun 2019 dulu. Setelah kurang lebih sepuluh tahun berdinas di tempat lama, saya mendapatkan SK penempatan di tempat yang baru.

Seperti yang saya tuliskan di atas, perasaan pertama tentu saja sedih dan ada rasa malas karena harus meninggalkan rekan-rekan kerja yang selama sepuluh tahun membersamai.

Selain itu, saya juga harus menyesuaikan ritme dan gaya bekerja dengan rekan-rekan sejawat di tempat kerja yang baru. Saya benar-benar harus memulainya dari nol saat itu, dan berproses kembali dari awal. 

Apakah saya langsung merasa klop dengan rekan sejawat di tempat yang baru? Tentu saja tidak! Saya membutuhkan waktu hingga beberapa saat untuk bisa benar-benar menyatu dan menemukan kenyamanan seperti saat ini di lingkungan kerja yang baru seperti saat ini. 

Beruntungnya, saya bukanlah orang yang memiliki perasaan melankolis akut. Sehingga walaupun ketika perpisahan itu membuat saya sedih dan mata berair, namun pada akhirnya saya bisa move on sedikit demi sedikit.

Secara perlahan, saya beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga kembali menemukan titik kenyamanan dalam bekerja seperti saat ini.

Bayangkan kalau semisal saya adalah pegawai yang berjiwa melankolis hakiki, pasti sampai saat ini saya akan ogah-ogahan untuk bekerja di tempat yang baru dan masih saja terpaku dengan manisnya memori masa lalu di tempat kerja terdahulu. 

Ah, gegara pemecatan Pak Purbaya, saya jadi semakin sadar kalau ternyata menjadi abdi negara itu dilarang keras punya perasaan melankolis. Apalagi yang tingkatan akut.