Menjadi perempuan di era modern sering terasa seperti menjalani banyak peran sekaligus. Perempuan didorong untuk mandiri, berpendidikan, punya karier bagus, dan mampu mengatur hidup sendiri.
Namun di saat yang sama, perempuan juga tetap dituntut untuk selalu terlihat “proper” apa pun situasinya. Proper di sini bukan hanya soal penampilan, tapi juga bagaimana perempuan bersikap, berbicara, bahkan menjalani hidup.
Perempuan diharapkan tetap terlihat tenang, feminin, produktif, ramah, dan serba bisa dalam waktu bersamaan. Masalahnya, semua tuntutan itu terasa terus bertambah sekaligus bertentangan.
Perempuan modern harus sukses tapi tidak boleh dianggap terlalu ambisius. Harus mandiri tapi tetap lembut. Harus pintar mengatur hidup tapi juga tetap menjaga penampilan. Bahkan ketika lelah, perempuan dituntut tetap terlihat baik-baik saja.
Kadang saya merasa standar seperti ini sulit dipenuhi karena perempuan seolah dituntut sempurna dari berbagai sisi sekaligus. Bukan hanya berat, tapi juga tidak realistis karena seolah tidak diizinkan memiliki cela.
Mandiri Jadi Keharusan Baru
Perkembangan zaman memang membawa banyak perubahan positif untuk perempuan. Sekarang semakin banyak perempuan memiliki kesempatan untuk sekolah tinggi, membangun karier, dan menentukan pilihan hidup tanpa terlalu bergantung pada orang lain.
Kemandirian akhirnya menjadi simbol perempuan modern. Banyak perempuan sekarang bekerja keras untuk mencapai kehidupan yang stabil. Harus bisa mengurus pekerjaan, membantu keluarga, menjaga hubungan sosial, dan tetap meluangkan waktu untuk diri sendiri.
Namun di balik semua itu, ada tekanan yang sering tidak terlihat. Perempuan modern seolah tidak punya ruang untuk terlihat lemah karena takut dianggap tidak mampu. Akibatnya, banyak perempuan memaksa diri untuk terus kuat meski sebenarnya kelelahan.
Lucunya, masyarakat sering memuji sosok perempuan mandiri, tapi tetap memberi standar lama tentang bagaimana perempuan “ideal” seharusnya bersikap. Lagi-lagi tidak realistis, bukan?
Tekanan untuk Selalu Terlihat “Proper”
Saya merasa salah satu hal yang paling melelahkan bagi perempuan modern adalah tekanan untuk selalu terlihat rapi dan terkendali. Media sosial bahkan memperbesar tekanan itu setiap hari.
Timeline dipenuhi perempuan dengan hidup yang terlihat sempurna: kerja produktif, outfit estetik, skincare lengkap, rumah rapi, tubuh ideal, sampai hubungan yang tampak harmonis. Semua terlihat teratur dan menyenangkan.
Tanpa sadar, banyak perempuan mulai membandingkan hidupnya sendiri dengan standar di internet. Padahal faktanya, kehidupan nyata tidak selalu seindah itu.
Ada perempuan yang sebenarnya sedang burnout tapi tetap harus terlihat produktif. Ada yang sedang kesulitan finansial tapi merasa perlu tetap tampil menarik demi menjaga citra diri.
Perempuan akhirnya bukan cuma sibuk menjalani hidup. Mereka juga disibukkan dengan peran untuk menjaga bagaimana hidupnya harus terlihat di mata orang lain.
Standar Sosial yang Sering Bertabrakan
Menurut saya, yang membuat perempuan modern semakin lelah adalah standar sosial terhadap perempuan sering saling bertabrakan. Ketika perempuan fokus pada karier, kadang dianggap terlalu sibuk atau kurang memperhatikan kehidupan pribadi.
Namun, saat memilih hidup lebih santai, perempuan sering dianggap kurang ambisius. Bahkan perempuan yang percaya diri dan mandiri juga ada yang menganggap terlalu dominan. Sementara saat membutuhkan bantuan, dianggap lemah.
Apa pun pilihan perempuan, rasanya selalu ada komentar dari lingkungan sekitar. Akhirnya banyak perempuan hidup dalam tekanan untuk terus membuktikan diri “harus terlihat baik”. Padahal manusia tidak mungkin selalu sempurna setiap saat.
Apakah Semua Tuntutan Itu Masuk Akal?
Perempuan memang bisa menjadi mandiri dan berkembang tanpa kehilangan sisi dirinya. Namun, tuntutan untuk selalu terlihat “proper” setiap saat jelas sangat melelahkan jika terus dipaksakan.
Perempuan juga manusia biasa yang bisa capek, bingung, gagal, dan butuh istirahat. Tidak semua perempuan harus menjalani hidup dengan standar yang sama. Tidak semua orang punya kondisi, kemampuan, dan jalan hidup yang serupa.
Karena itu, saya rasa perempuan modern perlu lebih sering memberi ruang pada dirinya sendiri untuk bernapas tanpa terus merasa harus sempurna. Perempuan tidak harus terus memenuhi ekspektasi sosial yang tidak ada habisnya.
Pada akhirnya, perempuan yang benar-benar kuat bukanlah yang terlihat sempurna setiap saat, tapi yang mampu menerima dirinya sendiri tanpa terus hidup di bawah tekanan standar sosial yang melelahkan.
Baca Juga
-
Ketika Cinta Tak Lagi Ingin Pulang
-
Stop Oversharing! Ini 7 Hal dalam Hidup yang Sebaiknya Kamu Simpan Sendiri
-
Tren Menulis Artikel Pakai AI: Bantu Produktivitas atau Hambat Kreativitas?
-
Memahami Trauma Loop Ibu: Apakah Bisa Berdampak pada Pola Asuh Anak?
-
Mendang-mending 2.0: Saat Gen Z Mulai Berani Bilang Tidak pada Racun Belanja
Artikel Terkait
-
Ketika Hijab Harus Mengikuti Gerak Perempuan Modern
-
Bukan Pengaruh Alkohol! Pria Tendang Perempuan di Mal Senayan City Dalam Kondisi Sadar
-
Bukan Kader Partai! Polisi Ungkap Identitas Pria yang Tendang Perempuan di Mal Senayan City
-
Dalami Motifnya! Polisi Periksa Intensif Pria yang Tendang Perempuan di Mal Senayan City
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
Kolom
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
-
Gajian Tiap Bulan, tapi Takut Kehabisan Uang: Inikah Realitas Dunia Kerja?
-
Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
-
Tren Kopi Susu dan FOMO Gen Z: Waspada Jebakan Gula di Balik Kedok Nongkrong
-
Hutan Hilang, Sawit Tumbuh: Bisakah Ini Disebut Berkelanjutan?
Terkini
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif
-
Manga The Failure at God School Karya Natsu Hyuga Resmi Diadaptasi Anime TV
-
Urang Bunian: Mengungkap Horor Folklore Hutan Belantara Sumatra Barat!
-
Mengupas Sisi Psikologis Film Iyus Jenius, Pentingnya Memberi Ruang Anak untuk Bersedih
-
Dunning-Kruger Effect: Matinya Kepakaran Akibat Penguasa yang Anti Kritik