Sekar Anindyah Lamase | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi kecerdasan (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Bayangkan sudah bertahun-tahun belajar di bidang tertentu, lalu pendapat kita dibalas dengan, “saking pinternya jadi goblok” oleh orang nomor satu di Indonesia.

Kurang lebih seperti itulah gambaran yang muncul dari pernyataan Prabowo dalam pidato HUT ke-28 PAN pada Jumat (18/9/2026). Ia mengatakan hal tersebut ketika menyinggung pakar-pakar yang mengkritiknya. Besoknya, di Gontor, ia kembali membawa-bawa profesor yang menurutnya tidak bisa melihat ketidakadilan.

Punya gelar memang tidak berarti otomatis selalu benar. Pakar pun bisa keliru dan menghasilkan analisis yang layak diperdebatkan. Tetapi ada bedanya antara membantah pendapat seorang pakar dengan meremehkan kepakaran itu sendiri. Apalagi jika sikap semacam ini datang dari orang yang punya kuasa dan punya pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan.

Mungkin karena itulah buku The Death of Expertise karya Tom Nichols terasa semakin relate. Apalagi kalau disandingkan dengan Dunning-Kruger Effect, yang menjelaskan kecenderungan orang dengan pengetahuan terbatas untuk terlalu yakin terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Sebab, penguasa yang meremehkan pakar bukan cuma sedang berdebat dengan satu-dua orang ahli. Ia sedang menunjukkan bagaimana sebuah kekuasaan memandang kritik dan pengetahuan.

Saat Kepakaran Kalah oleh Keyakinan

Kita sering menganggap orang yang punya pengetahuan luas pasti lebih pintar, tetapi dalam praktiknya otoritas pengetahuan bisa dengan mudah kalah oleh rasa percaya diri. Orang yang sudah bertahun-tahun meneliti satu bidang bisa dianggap tidak mengerti keadaan hanya karena kesimpulannya tidak sesuai dengan keyakinan kita.

Padahal, kepakaran memang tidak membuat seseorang kebal dari kesalahan. Justru karena itu, pendapat seorang ahli seharusnya bisa diuji. Mendebat analisis ahli artinya mendebat gagasannya, bukannya malah menyerang secara personal terhadap orang yang menyampaikannya.

Dunning-Kruger dan Bahaya Merasa Paling Tahu

Di sinilah Dunning-Kruger Effect menjadi menarik untuk dikaitkan dengan penguasa yang seperti anti pada kepakaran. Konsep yang diperkenalkan psikolog David Dunning dan Justin Kruger ini pada dasarnya membahas kecenderungan orang dengan kemampuan atau pengetahuan yang terbatas dalam suatu bidang untuk melebih-lebihkan kemampuan dirinya sendiri.

Kalau dibawa ke ranah politik, konsep ini bukan berarti kita bisa seenaknya menyimpulkan seorang pejabat terkena Dunning-Kruger hanya dari satu pidato. Itu terlalu jauh.

Namun, konsep ini bisa digunakan untuk membaca kecenderungan yang muncul ketika rasa percaya diri terhadap pengetahuan sendiri begitu besar hingga pandangan orang yang lebih ahli justru dianggap tidak penting

Hal ini menjadi semakin menarik jika disandingkan dengan beberapa pernyataan Prabowo sendiri. Di Gontor, misalnya, ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus pintar, berpengetahuan luas, serta tidak mudah dibohongi. Dalam pidato yang sama, ia mengatakan dirinya heran melihat profesor yang menurutnya tidak mampu melihat ketidakadilan.

Ada semacam penekanan bahwa seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk menilai sendiri mana yang benar dan mana yang keliru.

Menurut saya, masalahnya bukan pada kepercayaan diri karena merasa tahu, tetapi ketika rasa tahu itu sudah membuat seseorang merasa tidak perlu belajar dari orang lain, itu sudah termasuk red flag.

Apalagi urusan pemerintah begitu luas dan rumit. Ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertahanan, lingkungan, hingga teknologi punya masalah yang berbeda dan tidak mungkin dipahami hanya dari satu sudut pandang. Semua itu perlu masukan dan koreksi dari ahlinya.

Di sinilah kemampuan untuk mendengar menjadi penting. Semakin luas urusan yang harus dipahami, semakin tidak masuk akal kalau seseorang merasa sudah punya semua jawabannya sendiri.

Oleh karena itu, menurut saya, ada perbedaan antara pintar dengan merasa paling tahu. Orang yang pintar masih punya ruang untuk belajar dan mendengar, sedangkan orang yang merasa paling tahu justru bisa membuat seseorang mudah meremehkan pandangan yang berbeda dan menganggapnya tidak penting.