Film anak sering muncul dengan warna cerah, tingkah lucu, petualangan seru, dan masalah yang selesai begitu tokohnya menemukan solusi. Iyus Jenius memilih membuka plot dari tempat yang jauh lebih muram: kehilangan sosok ayah. Pilihan ini membuat cerita tentang anak berusia 10 tahun punya pijakan emosional yang lebih berat sejak awal, karena persoalan Iyus bukan sekadar soal ingin menjadi pintar atau mengejar prestasi, melainkan bagaimana seorang anak berusaha menjalani hari setelah kehilangan orang yang paling dekat dengannya.
Iyus Jenius merupakan film drama musikal produksi Creator Media yang disutradarai Achmad Romie dan ditulis oleh Estie Kusumawati Nuryadi. Film berdurasi kurang lebih 83 menit ini diproduseri Gandhi Fernando, Adnan Djani, Rendy Novantino, dan Agung PD Nugraha. Kevin Abadio menjadi pemeran utama sebagai Iyus, dengan Babah T-Bob, Brian Mahesa, Wichita Satari, dan Mireille Grimonia Purnomo turut bermain. Film ini sudah rilis di bioskop sejak 10 September 2026 dan mendapatkan klasifikasi Semua Umur dari Lembaga Sensor Film.
Cerita bermula setelah ayah Iyus meninggal dalam kecelakaan. Kehilangan tersebut membuat Iyus berubah jadi anak yang pendiam dan pemurung. Semangat belajarnya ikut merosot, sementara rasa percaya dirinya perlahan menghilang. Bubuh, sang ibu yang diperankan Wichita Satari, berusaha membantu anaknya keluar dari kesedihan.
Di tengah keadaan itu, Iyus kemudian bertemu Babah, sosok makhluk astral yang diperankan Babah T-Bob. Bersama Gadis, sahabat Iyus yang diperankan Mireille Grimonia Purnomo, Babah kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Iyus menghadapi berbagai persoalan.
Kehadiran Babah T-Bob membawa warna baru dalam hidup Iyus. Melalui lagu, permainan, dan berbagai pengalaman, Iyus perlahan kembali menemukan semangatnya. Dia mulai berkembang di sekolah, menjadi lebih percaya diri, dan menemukan kemampuan yang sebelumnya tertutup kesedihannya. Perjalanan itu kemudian membawa Iyus berhadapan dengan persoalan lain, termasuk perundungan, kesepian, serta lingkungan pertemanan yang belum tentu datang karena alasan yang tulus.
Menarik banget, ya?
Kehilangan yang Mengubah Cara Iyus Melihat Dunia
Film ini berani menempatkan duka sebagai bagian dari kehidupan anak, bukan sesuatu yang harus segera disingkirkan supaya cerita kembali ceria.
Banyak orang dewasa masih punya kebiasaan menganggap persoalan anak sebagai sesuatu yang kecil. Anak sedih dianggap sebentar lagi juga lupa. Anak kehilangan semangat belajar dianggap malas. Anak yang mulai menarik diri bisa saja hanya dianggap sedang mencari perhatian. Anak yang jadi korban perundungan kadang diminta lebih kuat tanpa diberi ruang untuk menjelaskan apa yang membuatnya takut.
Padahal, kehilangan bagi seorang anak bisa mengubah cara dia melihat dunia.
Iyus memperlihatkan hal tersebut dengan cukup jelas. Setelah ayahnya pergi, yang berubah bukan hanya suasana hatinya. Hubungannya dengan sekolah, kepercayaan terhadap dirinya sendiri, dan caranya berinteraksi dengan lingkungan ikut terdampak. Ini membuat kesedihan dalam film punya konsekuensi yang lebih konkret. Duka bukan sekadar adegan menangis yang kemudian selesai ketika tokoh baru muncul.
Kehadiran Babah T-Bob pun bisa dibaca sebagai bagian dari perjalanan Iyus untuk keluar dari ruang kesedihan itu. Sosok ini membawa musik, keceriaan, dan dorongan untuk mencoba lagi. Pilihan memasukkan unsur fantasi menjadi menarik karena film anak memang punya ruang luas untuk menerjemahkan perasaan melalui imajinasi.
Pesan tentang percaya diri akhirnya lebih masuk akal karena Iyus terlebih dahulu diperlihatkan kehilangan sesuatu. Dia bukan anak yang sejak awal penuh keyakinan lalu diberi tantangan. Dia justru harus membangun kembali dirinya setelah mengalami peristiwa yang mengguncang kehidupannya.
Menurutku. Pendekatan semacam ini membuat Film Iyus Jenius punya peluang jadi film keluarga yang membuka percakapan penting. Anak bisa melihat bahwa merasa sedih, takut, atau kehilangan semangat bukan berarti dirinya lemah. Orang dewasa pun bisa diingatkan bahwa luka anak layak didengarkan dengan serius.
Apalagi film ini membawa lagu-lagu ke dalam cerita, termasuk “Diobok-obok” dan “Jangan Marah”, sehingga dunia anak yang penuh nostalgia bertemu dengan kisah kehilangan yang lebih emosional.
Pokoknya keren. Film anak nggak selalu harus berpura-pura dunia mereka penuh warna sejak halaman pertama. Yup, cerita yang paling dibutuhkan anak justru cerita yang mengakui mereka juga bisa kehilangan, terluka, merasa sendirian, lalu perlahan belajar menemukan dirinya kembali.
Sobat Yoursay sudah nonton Film Iyus Jenius?
Baca Juga
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
Artikel Terkait
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
Ulasan
-
Belajar Menghargai Pengorbanan Orang Tua dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
-
Bedah Lagu "Rayuan Perempuan Gila": Relate Banget Buat Kamu yang Punya Trust Issue
-
Review The Intern: Drama Komedi Manis tentang Kehidupan Dunia Kerja Modern!
-
Misi Alexis Menyelamatkan Ingatan Kakeknya di Novel Mist-Bound
-
Review A Love Other Than Yours: Pahitnya Realita Hubungan Jangka Panjang
Terkini
-
Neve Campbell Dipastikan Kembali Perankan Sidney Prescott dalam Scream 8
-
Berijazah tapi Mati Rasa: Saat Kuliah Cuma Jadi Syarat Cari Kerja
-
Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?
-
Piala Asia 2027 Resmi Diundur, Untung atau Buntung bagi Timnas Indonesia?
-
Shiba Inu Rooms Diadaptasi Jadi Anime TV, Komedi Siswi SMA dan Arwah Anjing