Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) kini menjadi bagian dari pilihan ekstrakurikuler bagi siswa sekolah menengah. Program yang dibentuk Kemendikdasmen ini membawa misi pembinaan kesadaran bela negara dan karakter kebangsaan ke lingkungan sekolah. Dasarnya adalah Keputusan Mendikdasmen Nomor 136 Tahun 2026 yang mengatur pelaksanaan KKRI pada jenjang pendidikan menengah.
Secara konsep, program ini dirancang untuk membentuk siswa yang memiliki rasa cinta tanah air, kesetiaan kepada Pancasila, kesadaran bela negara, serta kemampuan awal untuk membela negara. Kegiatannya akan memadukan pembelajaran melalui platform KKRI dengan aktivitas fisik di sekolah.
Perhatian publik kemudian tertuju pada keterlibatan TNI dalam program tersebut. Pemerintah mengakui akan ada perwira yang turun langsung ke sekolah untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang bela negara, sembari membantah anggapan bahwa KKRI membawa militerisme ke lingkungan pendidikan.
Lantas, apakah pembentukan karakter dan kesadaran bela negara memang membutuhkan keterlibatan militer secara langsung di lingkungan sekolah?
Kalau Sudah Ada Pramuka, Mengapa TNI Ikut Masuk?
Pemerintah memang sudah menjelaskan bahwa program KKRI tidak wajib dan siswa yang mengikutinya tidak sedang diarahkan untuk menjadi prajurit. Kehadiran TNI pun disebut untuk memberikan wawasan dan pengalaman mengenai bela negara kepada para siswa.
Tetapi, kalau targetnya adalah membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan rasa cinta tanah air, bukankah sekolah sebenarnya sudah punya banyak ruang untuk mengajarkan semua itu?
Ekstrakurikuler Pramuka, misalnya, sudah lama menjadi bagian dari pendidikan dengan kegiatan yang mengasah kemandirian, kerja sama, tanggung jawab, hingga kepemimpinan.
Apalagi, pendidikan karakter seharusnya tidak sekadar mengajarkan siswa untuk mengikuti instruksi dengan tertib dan patuh. Siswa juga perlu belajar berpikir kritis, berani mempertanyakan aturan, dan memahami bahwa menjadi warga negara bukan berarti harus selalu mengangguk pada negara.
Kalau setiap masalah pendidikan diselesaikan dengan menambah latihan disiplin dan kepatuhan, kapan anak-anak diberi ruang untuk belajar membantah sesuatu yang memang keliru?
Sekolah Bukan Barak, Pendidikan Bukan Rantai Komando
KKRI memang bukan program untuk menjadikan anak sekolah sebagai calon tentara. Namun, keterlibatan TNI di dalamnya membuat publik penasaran, seberapa jauh urusan militer perlu masuk ke lingkungan sekolah?
Selama ini, sekolah punya suasana dan kebutuhan yang berbeda. Anak datang untuk belajar, bersosialisasi, mencoba banyak hal, dan pelan-pelan menemukan cara mereka sendiri dalam melihat dunia.
Bela negara juga sebenarnya tidak sesempit baris-berbaris atau mengikuti instruksi. Anak bisa belajar mencintai negaranya lewat hal-hal sederhana, misalnya mengenal sejarah, peduli dengan lingkungan, menghargai orang lain, sampai berani bersuara kalau melihat sesuatu yang tidak beres. Jadi, kalau bicara soal bela negara, rasanya sayang kalau ukurannya hanya berhenti pada seberapa disiplin anak mengikuti arahan.
Pendidikan Indonesia Masih Punya PR Besar
Di luar perdebatan soal KKRI dan keterlibatan TNI, ada hal yang rasanya lebih layak mendapat perhatian, yaitu berbagai masalah pendidikan Indonesia yang hingga saat ini masih menjamur.
Masih ada masalah soal kemampuan dasar siswa, fasilitas sekolah, akses pendidikan, hingga kualitas pembelajaran yang belum merata. Semua masalah itu perlu perhatian yang besar dari pemerintah.
Tetapi, di tengah berbagai masalah yang masih menunggu dibereskan, kenapa energi dan perhatian pemerintah malah diarahkan pada program seperti KKRI?
Membentuk generasi yang cinta negara memang terdengar penting. Namun, negara juga perlu menunjukkan kecintaannya kepada anak-anak lewat sekolah yang layak, pembelajaran yang berkualitas, dan akses pendidikan yang tidak timpang.
Ironis jika anak-anak diminta bersiap membela negara, sementara negara sendiri masih belum selesai memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang layak.
Baca Juga
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Feed yang Membentuk Isi Dompet: Efek Budaya Flexing pada Perilaku Konsumsi
-
Bos-bos Kecil di Negeri Besar: Potret Gagal Negara Membuka Lapangan Kerja
-
He Is Psychometric: Menyingkap Misteri Kejahatan dengan Kekuatan Psikometri
Artikel Terkait
-
YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!
-
29 Pelajar Jakarta Terjaring Demo 27 Agustus Dikirim ke Barak TNI, Disdik: Pembinaan Karakter
-
Terjaring di Demo 27 Agustus, 29 Pelajar Jakarta Dikirim Ikut Pembekalan Bela Negara, Ada dari SD
-
Polisi Bantah 995 Senjata Api di Sekolah Jaksel untuk Ekskul
-
Latsarmil itu Apa? Diubah Jadi Latihan Bela Negara dan Manajerial
Kolom
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Di Balik Emas Asian Games: Alarm Regenerasi Bulu Tangkis Kita
-
Walk Out di PBB: Protes Moral Perkasa, tapi Apakah Taktis?
-
Gaji Luar Biasa, Jiwa Nelangsa: Derita Ikut Pilihan Karier Orang Tua
-
Menkeu: Tidak ada Anggaran Khusus Sekolah Gratis, Pendidikan Terabaikan?
Terkini
-
4 Masker Rambut Berbahan Mint yang Ampuh Usir Rambut Lepek dan Ketombe
-
The Storm Tayang 15 Oktober di Netflix, Komedi Gelap Josephine Bornebusch
-
AI Bisa Masuk ke Earbud! Snapdragon Sound Elite Gen 2 Resmi Diperkenalkan
-
Can This Love Be Translated?: Cinta Ternyata Adalah Bahasa Paling Rumit
-
Jigsaw Kembali di Saw 11! Permainan Mengerikan Kembali Dimulai