Sekar Anindyah Lamase | Sherly Azizah
Ilustrasi media sosial [pexels/Jonathan Robles]
Sherly Azizah

Pernahkah kamu punya teman yang tiba-tiba melontarkan label mental health hanya setelah menonton video TikTok durasi 15 detik?

Semalam, seorang kawan lama menghubungi saya melalui pesan singkat. Maksud saya, murni pesan singkat, karena dia mewanti-wanti sejak awal: jangan pernah mencoba-coba menelepon tanpa izin. Menurutnya, telepon tiba-tiba itu tindakan invasif yang memicu kecemasan.

Ketika akhirnya kami saling berbalas pesan panjang, dia curhat dengan rentetan pemahaman ilmiah yang meluncur lancar bak psikiater senior. "Saya fix ADHD dan punya trauma masa kecil, Bro. Soalnya saya sering hilang fokus dan mudah burnout pas kerja. Pas saya cek di TikTok, gejalanya sama persisten," tulisnya santai, menutupi emoji tengkorak () yang menandakan bahwa situasi ini menurutnya kocak sekaligus mengenaskan.

Sejujurnya, mendengar curhatannya, saya antara ingin mengelus dada dan ingin tertawa.

Sebagai generasi yang berdiri di batas antara Milenial dan Gen Z, saya mengamati pergeseran budaya yang sangat kontras. Generasi Milenial yang tumbuh sebagai imigran digital, dahulu sangat canggung membicarakan kesehatan mental. Pergi ke psikolog dianggap tabu, mahal, atau hanya untuk orang yang "sudah parah".

Sebaliknya, Gen Z tumbuh menjadi digital natives yang luar biasa fasih dengan istilah psikologi. Mereka menolak budaya hiruk pikuk, menjunjung batas-batas, dan sangat sadar akan pentingnya kesehatan jiwa. Tentu saja sebuah kemajuan pesat. Namun, kemudahan akses informasi ini melahirkan pisau bermata dua yang cukup dibelokkan: fenomena self-diagnosis massal berbasis algoritma .

Teman saya tadi bukanlah kasus tunggal. Saat ini, banyak anak muda yang dengan mudah melabeli diri sendiri mengidap bipolar, anxiety disorder , hingga ADHD hanya karena merasa berhubungan dengan konten edukasi singkat di media sosial. Gejala umum seperti lupa menaruh kunci, lelah setelah bekerja, atau malas merapikan kamar langsung dicap sebagai patologi medis.

Mengapa fenomena ini bisa sangat berbahaya?

Secara ilmiah, kecenderungan melabeli diri ini dijelaskan dalam studi yang dipublikasikan pada Journal of Medical Internet Research yang mengungkapkan bahwa pencarian informasi kesehatan mandiri di media sosial tanpa konfirmasi medis berisiko tinggi memicu cyberchondria—kondisi di mana kecemasan seseorang justru meningkat akibat paparan informasi medis yang salah atau tak terverifikasi. Selain itu, penelitian ini menekankan terjadinya fenomena konfirmasi bias, di mana seseorang aktif mencari gejala yang cocok untuk memvalidasi perasaan negatifnya sendiri.

Ketika seseorang melakukan self-diagnosis , ada dua dampak buruk yang mengintai. Pertama, bahaya gejala somatik, di mana seseorang akhirnya benar-benar berperilaku sakit karena otaknya terlanjur mempercayai label tersebut (self-fulfilling prophecy). Kedua, perubahan terhadap kondisi medis yang sebenarnya. Kasus depresi atau ADHD klinis yang sebenarnya membutuhkan penanganan medis profesional pada akhirnya bias dan dianggap sekadar "gaya hidup" atau tren media sosial.

Memahami istilah kesehatan mental tentu hal yang bagus. Mengenal batasan diri dan menolak dieksploitasi pekerjaan adalah bentuk kesadaran diri yang patut diacungi jempol. Namun, ada garis tegas antara kesadaran diri (kesadaran diri) dan diagnosis diri (mendiagnosis diri). Media sosial bisa menjadi pintu masuk untuk menyadarkan kita bahwa "ada yang tidak beres", tetapi ia bukan ruang praktik dokter.

Jika memang merasa ada yang mengganggu produktivitas dan kualitas hidup, ikhtiar paling tepat adalah berdiskusi dengan psikolog atau psikiater resmi, bukan menambah durasi scrolling di FYP TikTok.

Jadi, untuk teman saya dan mungkin untuk kita semua, mari lebih bijak dalam memahami konten. Jangan sampai kecanggihan teknologi justru membuat kita terburu-buru memberi label pada diri sendiri, hingga lupa cara membedakan antara dinamika emosi manusia yang wajar dan gangguan medis yang nyata.

Bagaimana kabarmu? Sudah berapa label psikologi yang tak sengaja kamu tempelkan pada dirimu minggu ini?